SATELITNEWS.COM, SERANG – Luasnya lahan pertanian yang terendam banjir, dan besarnya kerugian petani karena mengalami puso atau gagal panen, mendapat perhatian serius DPRD Banten.
Lembaga itu mengusulkan, agar para petani bisa mendapatkan asuransi pertanian sebagai upaya melindungi para petani yang mengalami kerugian, karena tanaman padi mereka terkena puso setelah terendam banjir beberapa waktu lalu.
Wakil Ketua DPRD Banten Eko Susilo mengatakan, pihaknya sudah sempat menyampaikan kepada Pemprov Banten agar ada program pengamaman bagi para petani di Banten, salah satunya yakni melalui program asuransi.
Dengan begitu, para petani yang mengalami gagal panen bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah.
“Kita sudah sempat diskusikan terkait asuransi pertanian itu. Mudah-mudahan kedepan kita bisa realisasikan, agar para petani juga memiliki jaminan,” katanya, Selasa (27/1/2026).
Eko mengatakan, terkait ada seribu hektare lebih lahan pertanian yang terkena banjir dan kerugian para petani hingga puluhan miliar, harus segera mendapatkan perhatian serius dari Pemprov Banten, karena kerugiannya sangat besar.
Baca Juga: DPRD Banten Desak Pemprov Segera Serahkan KUA PPAS Perubahan
Tindakan itu harus dilakukan, mengingat Provinsi Banten merupakan salah satu daerah lumbung pangan Nasional, sehingga sudah sepatutnya perhatian kepada para petani bisa terus ditingkatkan.
“Idealnya Pemerintah Provinsi Banten bisa melakukan hal. Pertama, memberikan bantuan stimulan, kepada petani yang terdampak puso. Sehingga mereka masih punya kemampuan untuk terus bertani,” pungkasnya.
“Atau yang kedua, yaitu memberikan bantuan benih padi, agar para petani terdampak puso bisa kembali menanam. Dengan begitu, para petani tidak terlalu dirugikan,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Abbah ini berjanji, pihaknya akan terus menaruh perhatian terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan para petani di Banten. Oleh karena itu, dia berharap agar Pemprov Banten juga bisa melakukan hal yang sama.
“Insyallah, abah dan komisi 2 selalu dan senantiasa mengingatkan pemerintah daerah untuk memberikan perhatian kepada para petani korban gagal panen karena banjir,” tuturnya.
Selain itu, Eko juga berharap Pemprov Banten bisa terus memegang komitmen untuk mengatasi persoalan banjir di Banten. Dengan begitu, diharapkan bisa mengatasi banjir dan menjadikan areal persawahan tetap aman dari ancaman bencana alam tersebut.
Baca Juga: Proyeksi APBD TA 2027 Pemprov Banten Berkurang, Kinerja Bapenda Jadi Sorotan
“Kita ini masih berproses, karena pemerintahan baru satu tahun. Infrastruktur irigasi telah menjadi Prioritas juga, satu paket dalam program ketahanan pangan. Termasuk diantaranya schedule penanaman padi, harus betul-betul memperhatikan iklim atau cuaca. untuk menghindari gagal panen karena banjir,” tukasnya.
Sebelumnya diberitakan, bencana banjir yang melanda semua wilayah di Banten menyisakan pilu bagi para petani. Pasalnya, ada 1.101,5 hektare lahan pertanian terendam banjir dan menyebabkan gagal panen alias puso.
Akibat hal itu, kerugian semua petani di Banten lebih dari Rp11 miliar, dengan estimasi modal menanam padi sekira Rp10 juta per hektare. Estimasi itu untuk kepentingan membeli benih padi, pupuk, mengolah lahan, dan lainnya.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan ke sejumlah lokasi banjir. Tindakan itu untuk memastikan akurasi data lahan pertanian yang masih tergenang banjir dan berpotensi mengalami puso.
“Data itu masih bisa berubah, kita masih memantau,” ucapnya, Senin (26/1/2026).
Agus mengatakan, para petani yang mengalami gagal panen atau puso akan mendapatkan bantuan berupa benih padi. Terkait bantuan ganti rugi dan lainnya, pihaknya belum bisa berbicara banyak.
“Kita ganti benih padi para petani, untuk yang puso,” ujarnya.
Agus belum bisa memastikan kerugian materil secara pasti akibat gagal panen yang dialami para petani. Akan tetapi, dampak dari puso tersebut sangat besar bagi masyarakat yang memiliki lahan pertanian.
“Kerugiannya besar,” tandasnya. (adib)
























