SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, aktivitas produksi di rumah usaha Dodol dan Kue Keranjang Nyonya Lauw, Jalan Bouraq No. 55, Kelurahan Karang Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, meningkat signifikan. Permintaan yang melonjak membuat kapasitas produksi naik berkali-kali lipat dibanding hari biasa, bahkan mencapai sekitar satu ton bahan olahan.
Usaha yang dikelola Ibu Iin itu merupakan bisnis keluarga yang telah bertahan lebih dari enam dekade. Berdiri sejak 1960, usaha tersebut kini memasuki generasi ketiga dan masih mempertahankan metode produksi tradisional. “Dari tahun ’60, sejak kakek. Sekarang sudah tiga turunan,” kata Ibu Iin saat ditemui, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, dodol diproduksi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pelanggan rutin. Namun untuk kue keranjang, produksi bersifat musiman dan memuncak menjelang Imlek. Pada hari biasa, jumlah produksi relatif terbatas. Skala pembuatan hanya sekitar satu kuintal. Sebaliknya, ketika memasuki musim Imlek, volume produksi meningkat drastis. “Hari-hari paling sekuintalan. Kalau menjelang Imlek bisa sampai se-ton-an,” ujarnya.
Lonjakan tersebut didorong tingginya pesanan masyarakat yang menjadikan kue keranjang sebagai salah satu sajian wajib dalam tradisi perayaan Tahun Baru Imlek. Tak hanya melayani pembeli di wilayah Tangerang, usaha Nyonya Lauw juga menerima pesanan dari luar kota. Sejumlah daerah seperti Bogor, Bekasi, hingga Bandung tercatat menjadi pelanggan tetap setiap tahunnya.
Ibu Iin menyebutkan, hingga awal Februari saja, jumlah pemesan yang terdata sudah mencapai lebih dari 300 orang. “Sudah banyak, 300 orangan lebih. Dari luar kota juga ada,” katanya. Sebagian pelanggan memesan dalam jumlah besar untuk kebutuhan keluarga, toko oleh-oleh, maupun dibagikan kepada kerabat saat perayaan.
Pola pemesanan umumnya meningkat tajam dua hingga tiga pekan sebelum Imlek. Pada periode tersebut, produksi berjalan hampir tanpa jeda untuk mengejar target distribusi. Kenaikan permintaan berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja. Jika di hari biasa usaha ini hanya melibatkan sedikit pekerja, saat musim Imlek jumlahnya meningkat signifikan. Saat ini, sekitar 100 pekerja dilibatkan dalam proses produksi. “Beda jauh. Sekarang ini sekitar 100-an pekerja,” ujar Ibu Iin.
Baca Juga: Jelang Imlek, Pasar Lama Tangerang “Diserbu” Warga Keturunan Tionghoa
Para pekerja bertugas di berbagai tahap, mulai dari penyiapan bahan baku, pengadonan, pengadukan, pemasakan, pencetakan, hingga pengemasan. Penambahan tenaga kerja dinilai penting untuk menjaga ketepatan waktu produksi, mengingat banyaknya pesanan yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Meski skala usaha membesar, metode pembuatan tetap mempertahankan cara tradisional. Seluruh proses dilakukan langsung di lokasi produksi, tanpa mesin otomatis.
Bahan baku utama seperti tepung terlebih dahulu digiling dan diayak sebelum dicampur dengan bahan lain. “Mulai dari tepung digiling, diayak, baru diadonin,” jelas Ibu Iin.
Untuk dodol, adonan dicampur santan dan gula aren, kemudian dimasak sambil terus diaduk dalam waktu lama hingga mengental dan matang sempurna. Sementara untuk kue keranjang, adonan tepung dan gula dimasak hingga teksturnya padat dan kenyal. Proses pengadukan manual membutuhkan ketelatenan serta tenaga ekstra. Tahapan ini menjadi penentu tekstur dan cita rasa produk. “Kuncinya di adukannya. Kalau kurang lama, hasilnya nggak bagus,” katanya.
Metode tradisional tersebut dipertahankan demi menjaga kualitas rasa yang telah dikenal pelanggan selama puluhan tahun. Meskipun produksi dan penjualan meningkat tajam menjelang Imlek, Ibu Iin mengaku sulit menghitung secara pasti perbandingan omzet dengan hari biasa. Menurutnya, produk seperti kue keranjang memiliki risiko kerusakan, seperti bocor atau pecah saat proses pemasakan maupun distribusi. Produk yang rusak tidak dapat dijual sehingga memengaruhi perhitungan keuntungan. “Kadang ada yang bocor, pecah, nggak kejual. Jadi nggak bisa dihitung pasti berapa persen naiknya,” ujarnya.
Namun secara umum, periode Imlek menjadi momen paling penting dalam setahun bagi kelangsungan usaha. “Kalau hari-hari mah paling cukup buat makan. Ini kan setahun sekali ramai,” tambahnya. Selain kue keranjang, Nyonya Lauw juga memproduksi berbagai varian dodol yang telah memiliki pelanggan tetap. Beberapa jenis yang tersedia antara lain: dodol original, dodol durian, dodol lapis, dodol wijen, dodol cempedak.
Harga produk pun bervariasi, menyesuaikan jenis dan bahan baku. Untuk kue keranjang dijual Rp60 ribu, dodol durian Rp87 ribu, dodol original Rp67 ribu, dan dodol wijen Rp77 ribu. Harga tersebut dinilai masih terjangkau, terutama bagi pelanggan yang membeli dalam jumlah banyak.
Baca Juga: Jelang Imlek, Pemkab Tangerang Gelar Gerakan Pangan Murah di Kosambi
Di tengah persaingan industri makanan modern dan produk pabrikan, usaha rumahan ini tetap bertahan dengan mengandalkan kualitas rasa dan kepercayaan pelanggan. Selama lebih dari 60 tahun, Dodol dan Kue Keranjang Nyonya Lauw menjadi salah satu produsen penganan tradisional yang dikenal masyarakat, khususnya saat perayaan Imlek.
Bagi Ibu Iin, menjaga kelangsungan usaha keluarga lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan. “Yang penting usaha tetap jalan dan rasanya jangan berubah,” katanya. Dengan peningkatan produksi dan ratusan pesanan yang terus berdatangan, usaha turun-temurun ini diharapkan tetap eksis dan menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Tangerang dalam menyambut Tahun Baru Imlek setiap tahunnya. (ari)
























