SATELITNEWS.COM, LEBAK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebak hingga kini dinilai belum merata. Dari total kuota 240 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang direncanakan, baru sebagian kecil yang benar-benar beroperasi melayani masyarakat.
Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, mengungkapkan bahwa saat ini dapur SPPG yang aktif melayani MBG masih jauh dari kebutuhan ideal. Dari hasil peninjauan lapangan, baru sekitar 77 titik yang melayani, dengan 53 dapur di antaranya baru dibangun dan beroperasi. “Yang sedang melayani baru 77 dan 53 baru dibangun. Masih jauh dari kuota 240 dapur, kan,” ujar Amir Hamzah, Senin (2/2/2026).
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pemerataan layanan MBG, khususnya bagi siswa. Amir mengakui, masih banyak peserta didik di Lebak yang belum menerima manfaat program nasional tersebut. “Dari hasil kunjungan, masih banyak siswa yang belum mendapatkan MBG. Karena itu saya minta Badan Gizi Nasional (BGN) agar percepatan pembangunan dapur SPPG di titik-titik lainnya bisa segera dilakukan,” katanya.
Menurut Amir, meskipun di beberapa lokasi terjadi penumpukan atau konsentrasi dapur SPPG, hal itu dinilai tidak menjadi persoalan besar mengingat jumlah penduduk Lebak yang cukup banyak dan tersebar. “Memang di sisi lain ada penumpukan SPPG, tapi tidak masalah karena penduduknya banyak. Justru karena itu saya minta segera dibangun SPPG lain agar lebih merata,” ujarnya.
Amir menambahkan, pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan BGN terkait percepatan tersebut. Respons yang diterima disebut cukup positif. “Saya sudah menghubungi BGN, dan respon mereka positif. Mereka akan mendorong agar dapur-dapur di titik yang belum terisi bisa segera terbangun,” katanya.
Sebuah video pendistribusian MBG yang diduga berisi telur mentah viral di media sosial. Peristiwa itu diketahui terjadi di SMA Negeri 1 Cigemblong, Kabupaten Lebak, pada Jumat, 23 Januari 2026, dan melibatkan SPPG Yayasan Amanah Permas Agung, Kecamatan Cigemblong. Bahkan Ketua SPPG Kecamatan Cigemblong, Rasudin, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada pihak sekolah dan penerima manfaat. Ia mengakui adanya kelalaian dalam proses pemorsian makanan.
Baca Juga: Program MBG Buat BGN Punya Utang Rp 1,7 Triliun
Disinggung soal kejadian tersebut, Amir mengaku bahwa dapur SPPG penyuplai di wilayah tersebut masih tergolong baru beroperasi. “Mereka masih baru ternyata. Tapi kejadian itu sudah kami laporkan secara resmi ke BGN agar dilakukan pembenahan. Pak Dandim juga sudah turun langsung ke lokasi untuk memantau,” jelasnya.
Program Makan Bergizi Gratis pada akhirnya bukan sekadar soal mengejar angka dapur yang terbangun, tetapi memastikan setiap porsi yang sampai ke meja siswa benar-benar layak dan aman dikonsumsi. Percepatan tanpa kesiapan berisiko melahirkan persoalan baru, sementara pemerataan tanpa pengawasan hanya akan memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain.
Di Lebak, MBG menunggu lebih dari sekadar janji pembangunan dapur—ia menunggu keseriusan dalam menjaga mutu, disiplin pengelolaan, dan tanggung jawab bersama dari hulu hingga ke piring makan penerima manfaat. (mulyana)

















