SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, sebuah tradisi tahunan kembali hidup dan menghangatkan kebersamaan warga Kampung Ceger, Kelurahan Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Tradisi yang dikenal dengan Rowahan Gede ini menjadi momen sakral sekaligus ajang silaturahmi, menyatukan ratusan warga dalam nuansa religius dan penuh kekeluargaan.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai penjuru kampung berbondong-bondong hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan. Mulai dari khataman Al-Qur’an, pembacaan Maulid Nabi, ceramah islami, hingga doa bersama yang dipanjatkan khusus untuk para orang tua dan leluhur yang telah meninggal dunia.
Suasana semakin khidmat ketika doa-doa dilantunkan untuk ribuan arwah, yang jumlahnya mencapai sekitar 3.300 nama.
Pada tahun ini, Rowahan Gede berlangsung dengan sangat meriah. Tradisi tersebut digelar pada Jumat, 6 Februari 2026, dan disambut antusias oleh masyarakat. Wajah-wajah penuh suka cita tampak jelas, menandai kerinduan warga untuk berkumpul dan bertemu satu sama lain dalam kebersamaan yang jarang ditemui di hari biasa.
Ketua panitia kegiatan, Anton, menjelaskan bahwa Rowahan Gede merupakan agenda rutin yang telah berjalan secara konsisten selama lima tahun terakhir. “Ini adalah salah satu kegiatan Rowahan Gede Kampung yang dilaksanakan satu tahun sekali dan rutin. Kegiatannya diisi dengan pengajian khataman Al-Qur’an, Maulid Nabi, dilanjutkan ceramah agama, serta pengiriman doa untuk para orang tua yang sudah meninggal dunia,” ujarnya, Minggu (8/2).
Anton berharap, melalui tradisi ini, persatuan dan kebersamaan warga Kampung Ceger semakin kuat.
“Harapannya, dengan adanya Rowahan ini, masyarakat khususnya Kampung Ceger Jurangmangu Timur, Pondok Aren, semakin erat persatuan dan kesatuannya,” tambahnya.
Kemeriahan juga terasa saat acara makan bersama digelar. Warga membawa berbagai hidangan dari rumah masing-masing, mulai dari nasi liwet, ayam, hingga aneka lauk pauk lainnya. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan tanpa sekat.
Salah satu warga, Eka Astuti, mengaku selalu menantikan momen ini setiap tahunnya. “Iya, setiap tahun saya dan keluarga ikut. Dari rumah kami bawa nasi liwet, ayam, dan banyak lainnya. Ada tahlil, baca Yasin, dan doa bersama. Rasanya senang sekali bisa kumpul seperti ini,” tuturnya dengan senyum.
Rowahan Gede bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi ruang spiritual dan sosial yang mempererat tali persaudaraan antarwarga, sekaligus pengingat akan pentingnya kebersamaan dalam menyambut bulan penuh berkah. (eko)