SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Keberadaan Sesar Cisadane yang dikategorikan sebagai sesar potensial aktif menjadi perhatian kalangan legislatif di Kota Tangerang. Anggota Komisi IV DPRD Kota Tangerang, Edi Suhendi, meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) lebih peka, responsif dan meningkatkan koordinasi lintas instansi guna mengantisipasi potensi risiko kebencanaan.
Edi menjelaskan, keberadaan patahan tersebut harus menjadi perhatian serius, terlebih saat ini kajian rutin terus dilakukan oleh pihak terkait. DPRD, kata Edi, perlu memonitor perkembangan hasil kajian tersebut untuk mengetahui potensi dampaknya bagi Kota Tangerang.
“Artinya kan sekarang ini rutin diadakan kajian oleh pihak yang terkait. Nah, kita perlu juga memonitor itu, memonitor kira-kira nanti dampaknya buat Kota Tangerang seperti apa dan bagaimana. Jadi harus ada persiapanlah dari sekarang,” katanya.
Ia menilai, meski belum sepopuler Sesar Lembang maupun sesar lain yang kerap menjadi sorotan, potensi Sesar Cisadane tetap tidak boleh diabaikan. “Iya, karena memang Sesar Cisadane ini belum terlalu viral ya, tidak seperti Sesar Lembang dan sesar-sesar yang lain,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan setiap hasil kajian ilmiah harus disikapi secara serius demi mencegah dampak buruk jika sewaktu-waktu terjadi aktivitas kegempaan. “Jika ada kajian yang disampaikan oleh pihak yang terkait, perlu kita sikapi dengan serius agar bisa mencegah jika terjadi sesuatu yang buruk buat Kota Tangerang,” tegasnya.
Edi juga mendorong BPBD agar lebih responsif dan membangun koordinasi aktif dengan lembaga teknis maupun pemerintah daerah lain yang dilintasi sesar tersebut. “BPBD harusnya lebih peka dan bisa lebih korporatif, bisa koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” katanya.
Baca Juga: Tasril Jamal Usul Anak Almarhum Ketua DPRD Kota Tangerang Diberi Beasiswa hingga Kuliah
Sesar Potensial Aktif
Berdasarkan keterangan Penyelidik Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM, Sukahar Eka, Sesar Cisadane dikategorikan sebagai sesar potensial aktif. Artinya, patahan tersebut memotong batuan berumur Kuarter dan pernah bergerak secara geologis, namun belum memiliki catatan gempa besar pada periode modern.
Secara morfologi, sesar mendatar ini berarah barat laut–tenggara mengikuti alur Sungai Cisadane dengan panjang diperkirakan sekitar 126 kilometer. Jalurnya melintasi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang hingga Tangerang Selatan — kawasan dengan kepadatan penduduk dan pembangunan yang tinggi.
Indikasi lapangan ditemukan di Gunung Panjang (Gunung Kapur–Ciseeng), Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, berupa retakan memanjang yang memotong batuan Kuarter. Selain itu, tim juga menemukan deretan rawa alami atau sag pond di Rumpin dan Parung yang terbentuk akibat mekanisme pergerakan patahan mendatar sejajar (pull-apart basin).
Badan Geologi melakukan pemetaan patahan skala 1:100.000 pada akhir 2025 melalui interpretasi citra DEMNAS, analisis data geologi dan kegempaan, survei lapangan, serta akuisisi data LiDAR. Kegiatan tersebut melibatkan Badan Informasi Geospasial (BIG), BPBD Kabupaten Bogor, dan pihak swasta.
Meski tidak memiliki catatan gempa besar, Badan Geologi menegaskan kondisi tersebut bukan berarti sesar dapat diabaikan. Hasil pemetaan diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana di wilayah Bogor hingga Tangerang.
Baca Juga: Kebakaran Hebat Hanguskan Pabrik dan Gudang di Periuk Tangerang
Sesar Cisadane juga ditegaskan bukan sumber gempa darat megathrust. Namun masyarakat tetap diimbau waspada tanpa panik, memperkuat struktur bangunan, mengikuti sosialisasi kebencanaan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Bagi DPRD Kota Tangerang, langkah antisipatif sejak dini dinilai menjadi kunci. Kesiapsiagaan, menurut Edi, harus dibangun sebelum terjadi bencana, bukan setelahnya. (made)

















