SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Sejumlah bencana alam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di berbagai wilayah Indonesia kembali memicu krisis air bersih. Banjir, longsor, dan pergerakan tanah tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga melumpuhkan jaringan distribusi air akibat pipa yang pecah, bocor, atau bergeser dari jalurnya.
Di banyak daerah terdampak, terputusnya akses air bersih justru berlangsung lebih lama dibandingkan bencananya sendiri. Kondisi ini menegaskan bahwa ketahanan infrastruktur air masih menjadi tantangan besar dalam upaya mitigasi dan pemulihan pascabencana.
Saat bencana terjadi, kebutuhan air bersih meningkat tajam untuk konsumsi, sanitasi, hingga layanan darurat. Namun, sistem distribusi air kerap tidak mampu menghadapi tekanan ekstrem dan perubahan kondisi tanah. Pipa konvensional yang kaku rentan retak atau patah ketika terjadi pergeseran tanah, sehingga memperlambat pemulihan distribusi air.
Akibatnya, masyarakat harus bergantung pada suplai air sementara yang kerap tidak memadai dalam jangka panjang.
Dalam kondisi tersebut, pipa berbahan High Density Polyethylene (HDPE) dinilai lebih adaptif untuk wilayah rawan bencana.
Material ini bersifat fleksibel namun kuat, sehingga mampu mengikuti pergerakan tanah tanpa mudah mengalami kerusakan. Selain itu, sistem sambungan yang menyatu meminimalkan risiko kebocoran.
Kemampuan menahan tekanan internal dan eksternal, termasuk akibat banjir dan pergeseran tanah, membuat pipa HDPE semakin banyak dipertimbangkan dalam pembangunan maupun rehabilitasi jaringan air bersih, khususnya di daerah berisiko tinggi.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Pascabencana, ALVApipe Dorong Penguatan Infrastruktur Pipa Nasional
Di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur yang tangguh, peran produsen dalam negeri menjadi krusial. Ketersediaan pipa yang dapat diproduksi dan didistribusikan dengan cepat menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
Salah satu produsen, Alvapipe yang berbasis di Tangerang, menyatakan kesiapan untuk mendukung kebutuhan pipa HDPE di seluruh Indonesia.
Perusahaan yang merupakan bagian dari ALVA Group ini memproduksi pipa untuk jaringan air bersih, sanitasi, hingga utilitas lainnya, termasuk untuk situasi darurat.
“Krisis air bersih pascabencana sering diperparah oleh infrastruktur yang tidak tangguh. Pipa HDPE menjadi solusi yang lebih aman dan berkelanjutan untuk kondisi geografis Indonesia,” ujar Chief Marketing Officer Alvapipe, Christabelle Priscilla.
Seiring meningkatnya frekuensi bencana, pembangunan infrastruktur yang adaptif dinilai menjadi langkah penting dalam mitigasi jangka panjang. Ketahanan jaringan distribusi air tidak hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga mengurangi risiko krisis serupa di masa mendatang. (made)

















