SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Wali Kota Tangerang periode 2013–2023, Arief R Wismansyah menyebut daya tahan (resilience) menjadi modal utama yang harus dimiliki seorang entrepreneur di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pesatnya perkembangan teknologi. Sebab perubahan kini berlangsung sangat cepat sehingga pelaku usaha dituntut mampu beradaptasi terhadap berbagai dinamika, mulai dari kondisi ekonomi hingga kebijakan yang sulit diprediksi.
Karena itu, pengusaha tidak boleh hanya mengandalkan satu cara dalam menjalankan bisnis. “Yang diperlukan sekarang adalah resilience. Dunia usaha menghadapi perubahan yang sangat cepat sehingga kita harus mampu meresponsnya dengan baik,” ujarnya saat menjadi pemateri dalam seminar nasional dengan tema “Ketahanan Ekonomi Nasional di Tengah Krisis Global: Membangun Entrepreneur Tangguh dan Kepemimpinan Bisnis” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang di Auditorium Lantai 6 Gedung Muh Astary, Kamis (9/7/2026).
Selain memiliki daya tahan, Arief menekankan pentingnya membangun usaha secara bertahap dan tidak tergoda mengejar kesuksesan instan. Ia mengaku sejak awal dididik untuk mengembangkan usaha melalui proses, bukan bergantung pada pinjaman. “Pengusaha sukses itu tidak lahir dalam semalam. Semua membutuhkan proses dan konsistensi,” katanya.
Memasuki era kecerdasan buatan (artificial intelligence), Arief menilai kemampuan beradaptasi harus diiringi inovasi dan kreativitas. Menurutnya, perubahan hanya dapat dijawab melalui gagasan baru yang mampu memenuhi kebutuhan pasar. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya mengandalkan ijazah. Kompetensi, keterampilan, dan kemampuan memecahkan masalah menjadi faktor yang semakin menentukan di dunia kerja maupun dunia usaha.
“Sekarang bukan hanya soal memiliki ijazah, tetapi apa kompetensi yang benar-benar dimiliki dan bisa diterapkan,” ujarnya. Arief mendorong mahasiswa untuk menjadi “entrepreneur bagi dirinya sendiri”. Artinya, setiap individu harus mampu mengembangkan potensi dan kompetensi agar memiliki daya saing, baik sebagai profesional maupun pelaku usaha.
Dalam pandangannya, entrepreneur tangguh memiliki sejumlah karakter utama, yakni adaptif terhadap perubahan, inovatif, memahami risiko, mampu memanfaatkan teknologi digital, aktif membangun jejaring, serta memiliki kemampuan menjadi penyelesai masalah (problem solver). Ia menilai digital marketing dan networking kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Semakin luas jejaring yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk mengembangkan usaha dan menemukan solusi atas berbagai tantangan bisnis.
Baca Juga: Teliti Pilkada Calon Tunggal Kota Tangerang, Dekan FEB UNIS Raih Doktor Ilmu Politik
Arief juga mencontohkan pentingnya kembali pada kompetensi inti (back to basic) ketika menghadapi perlambatan usaha. Menurutnya, pelaku usaha harus jeli membaca perubahan pasar dan berani mencari peluang baru yang masih relevan dengan bisnis yang dijalankan.
“Kalau pasar berubah, jangan berhenti. Lihat kembali kekuatan bisnis yang dimiliki, lalu cari peluang baru yang sesuai dengan kebutuhan saat ini,” tuturnya. Ia menegaskan, tantangan dunia usaha akan terus berubah. Karena itu, entrepreneur yang mampu bertahan bukan hanya mereka yang memiliki modal besar, tetapi mereka yang memiliki karakter kuat, terus belajar, beradaptasi, dan menghadirkan solusi di setiap perubahan.
Narasumber lainnya Ichsanuddin Noorsy menyampaikan, rumus ketahanan ekonomi merujuk pada konsep yang dibangun oleh WTO ada 4A. “A yang pertama adalah availability, A kedua adalah affordablelity, A ketiga adalah accesibility dan A keempat accepcybilty,” jelasnya.
Availability (ketersediaan) yakni memastikan pasokan komoditas tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai di suatu wilayah. Accessibility (aksesibilitas): kemampuan infrastruktur dan distribusi untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara fisik. Affordability (keterjangkauan) yakni ketika daya beli masyarakat terhadap harga komoditas atau jasa tersebut. Adapun acceptability (penerimaan) yakni kesesuaian produk/layanan dengan standar kualitas, budaya, dan keamanan bagi konsumen.

Dekan Fakultas FEB UNIS Tangerang Dr. Asep Ferry Bastian, S.E., M.M. dalam sambutannya menyampaikan, sengaja memilih tema seminar di atas karena menjadi poin aktual dalam rangka mengetahui kondisi bangsa saat ini. “Serta bagaimana juga kita bisa bertahan melalui cara-cara membangun entrepreneur dan kepemimpin bisnis. Keluaran dari sini akan membuat tiga buku referensi yang sudah dikelompokkan oleh dosen serta mahasiswa,” ungkapnya.
Untuk diketahui, seminar ini juga menghadirkan narasumber Dr. Ir. Muhammad Yus Firdaus, M.Si. adalah Ketua Yayasan Islam Syekh-Yusuf (YIS) yang menaungi Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang serta panelis Prof Armanu Thoyib. Sementara bertindak selaku keynote speaker adalah Rektor Unis Tangerang Prof Mustafa Kamil. Acara ini diikuti kurang lebih hingga 580 peserta baik secara langsung maupun daring. (made)
Baca Juga: WH: Korupsi Bukti Kesenjangan Pengamalan Empat Pilar Kebangsaan




























