SATELITNEWS.COM, MAKASSAR—Indonesia saat ini mencatat stok cadangan beras pemerintah mencapai 4,5 juta ton, tertinggi dalam sejarah republik. Angka ini diklaim menunjukkan ketahanan pangan nasional relatif aman meski gejolak geopolitik global dan El Nino memengaruhi pasar energi dan komoditas.
“Kapasitas gudang kita saat ini hanya 3 juta ton, tapi stok nasional sudah 4,5 juta ton. Dalam beberapa minggu ke depan, diperkirakan meningkat hingga 5 juta ton,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau Gudang Bulog Panaikang, Minggu (5/4/2026).
“Jika ditambah cadangan di sektor hotel, restoran, kafe, serta potensi panen yang sedang berlangsung, ketersediaan pangan nasional aman untuk 11 bulan ke depan,” tambahnya.
Lonjakan stok ini merupakan hasil kebijakan terpadu pemerintah, termasuk peningkatan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram, penurunan harga pupuk bersubsidi, serta transformasi pertanian modern. Penambahan gudang sewa juga membantu menampung stok berlebih.
Di sisi lain, Amran mengatakan tanda-tanda El Nino mulai terasa, namun intensitasnya diperkirakan tidak lebih parah dibandingkan peristiwa serupa pada 2015. Ia menegaskan pemerintah telah memiliki pengalaman dalam mengelola dampak iklim tersebut, termasuk pada periode 2015, 2023, dan 2024.
“Mulai terasa. Katanya kering enam bulan. Tapi sepertinya masih lebih tinggi dulu El Nino yang 2015,” kata Amran.
Baca Juga: Timnas Voli Indonesia Berpeluang Pijak Semifinal
Menurutnya, pemerintah Indonesia memperkirakan periode kekeringan akibat El Nino akan berlangsung sekitar enam bulan. Namun, kondisi tersebut diyakini tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional karena stok beras saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Selain mengandalkan stok dan produksi yang ada, pemerintah juga mengoptimalkan program irigasi dan pompanisasi untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kering. Program tersebut ditargetkan mampu menghasilkan tambahan produksi minimal 2 juta ton per bulan.
Jika program tersebut berjalan selama enam bulan masa kekeringan, maka tambahan produksi dapat mencapai sekitar 12 juta ton. “Artinya sampai Maret paling puncak tahun depan aman. Bahkan bisa sampai April,” ujar Amran.
Selain ketersediaan beras, Amran menyoroti kesiapan pemerintah dalam menjamin pasokan pupuk. Ia mengatakan pemerintah telah mengantisipasi kebutuhan pupuk sejak awal tahun dengan mengamankan bahan baku. “Awal tahun kita sudah beli stok bahan baku pupuk. Sekarang stok pupuk kita banyak,” ujarnya.
Indonesia juga berpotensi mengekspor pupuk jenis urea ke sejumlah negara karena produksi dalam negeri mencukupi kebutuhan domestik. “Kita akan ekspor urea. Sudah ada tiga negara yang meminta, tapi masih dalam tahap negosiasi,” kata dia.
Selain sektor pangan, Amran menyoroti efek geopolitik global pada komoditas perkebunan. Lonjakan harga crude palm oil (CPO), kakao, dan kelapa meningkatkan pendapatan petani di berbagai daerah.
Baca Juga: Stok Beras 5,3 Juta Ton, Harga Pangan Bergerak Beragam
“Konflik, geopolitik memanas itu berkah buat Indonesia untuk pangan. Petani pesta. Kenapa? Harga CPO naik. Harga kakao bagus, harga kelapa naik. Itu yang dirasakan di lapangan,” kata Amran
Misalnya, harga kelapa di Maluku Utara meningkat dari Rp600 menjadi Rp6.000 per kilogram. “Lonjakan harga ini memberi insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi dan perawatan tanaman,” kata Amran.
Efek ini juga mendorong percepatan hilirisasi energi domestik. Pemerintah mengembangkan etanol dari ubi dan jagung sebagai bahan bakar alternatif, dengan produksi kendaraan berbahan bakar etanol yang kini diekspor ke Brasil.
Di sisi lain, Amran mengingatkan tantangan tetap ada. Ia menyebut ada pihak yang diuntungkan jika Indonesia mengalami kesulitan dalam mencapai kemandirian pangan.
“Ada dugaan praktik mafia dan kepentingan negara lain yang bisa diuntungkan,” ujarnya. Pernyataan ini menekankan pentingnya pengawasan dan transparansi dalam pengelolaan stok nasional. (rmg/xan)




























