SATELITNEWS.COM, JAKARTA--Israel masih terus membombardir Lebanon di tengah gencatan senjata. Alih-alih membidik Hizbullah, serangan itu justru menewaskan ratusan warga. Indonesia pun mengecam kebrutalan Israel.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia mengecam keras serangan brutal Israel ke wilayah Beirut dan berbagai wilayah Lebanon yang menyebabkan banyak korban jiwa di kalangan sipil serta kerusakan fisik.
Indonesia memandang serangan Israel merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional. Serangan itu juga berisiko memperburuk ketegangan regional yang membahayakan keamanan global.
Alhasil, Indonesia menuntut Israel menghentikan serangan. “Indonesia menuntut Israel untuk segera dan secara permanen menghentikan kekerasan dan agresi di Lebanon,” lanjut pernyataan Kemlu RI yang dikutip dari akun X @Kemlu_RI, Jumat (10/4/2026).
Indonesia juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil dan infras truktur sipil, sesuai dengan kewajiban hukum internasional. Indonesia turut menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat untuk menahan diri secara maksimal, melakukan upa ya deeskalasi, mengedepankan dialog, dan menghindari lang kah-langkah yang dapat mem perburuk situasi.
Pelaksana Tugas Direktur Keamanan dan Perdamaian Internasional Kemlu, Veronica Vicka Ancilla Rompis menyoroti, risiko nyata dari eskalasi militer tersebut, terutama setelah insiden yang menewaskan personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dari Indonesia.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Diminta Segera Normalisasi Drainase untuk Mitigasi Banjir
“Operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan, termasuk pernyataan untuk mempertahankan kehadiran di wilayah tersebut, berisiko semakin mendestabilisasi situasi dan membahayakan personel pemelihara perdamaian,” ujar Veronica.
Kemlu juga mengingatkan komunitas internasional agar tidak membiarkan pelanggaran terhadap pasukan penjaga perdamaian terus terjadi. “Indonesia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan personel pemelihara perdamaian PBB tidak dapat ditawar,” kata Veronica.
Melansir Al Jazeera, pasukan Israel membombardir lebih dari 100 target di seluruh negeri dalam waktu 10 menit pada Rabu (8/4/2026). Data sementara Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon yang dirilis pada Kamis (9/4/2026) menyebutkan, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di seluruh Lebanon pada Rabu (8/4/2026) kini meningkat menjadi 303 orang. Sementara korban luka mencapai 1.150 orang.
Mendapati kebrutalan tersebut, Lebanon meminta bantuan Pakistan agar Israel berhenti menyerang wilayah Beirut yang menyasar warga sipil. Permintaan bantuan itu disampaikan oleh Perdana Menteri (PM) Lebanon Nawaf Salam melalui pembicaraan telepon dengan PM Pakistan Shehbaz Sharif.
“Sambil mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharif atas upaya perdamaiannya, Perdana Menteri Lebanon meminta dukungan Pakistan untuk segera mengakhiri serangan yang menargetkan Lebanon dan rakyatnya,” ujar Nawaf Salam.
Meski begitu, Hizbullah di Lebanon justru kembali melancarkan serangan roket ke arah permukiman di wilayah utara pendudukan Israel, Kamis (9/4/2026). Serangan tersebut diklaim sebagai upaya membela kedaulatan Lebanon di tengah pelanggaran kesepakatan damai. (rmg)
Baca Juga: Legislator Kota Tangerang Desak ADEKSI Lebih Responsif Perjuangkan Hak Anggota DPRD

















