SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Seksi Operasi dan Pemeliharaan UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cibungur DPUPR Provinsi Banten, turun tangan menangani tumpukan sampah kayu di Sungai Ciseukeut, Kabupaten Pandeglang. Pihaknya, menurunkan 1 unit alat berat yang dioperasikan selama 3 hari.
Kasi Operasi dan Pemeliharaan UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cibungur DPUPR Provinsi Banten, Aris Munandar mengatakan, dibantu warga setempat pihaknya melakukan penanganan tersebut.
“Target kita 3 hari, sejak Sabtu (25/4/2026) lalu. Kami juga turun ke lapangan,” kata Aris, Minggu (26/4/2026).
Katanya, kedepan akan melakukan penanganan rumah warga yang tergerus aliran sungai. Dengan memasang Bronjong, disepanjang aliran sungai tersebut.
“Ada 2 rumah warga yang tergerus aliran Sungai Ciseukeut, kami rencanakan akan memasang Bronjong. Doakan, semoga segera terealisasi,” pungkasnya.
Sementara, dengan diangkatnya tumpukan sampah kayu tersebut, dimanfaatkan sebagian oleh masyarakat sekitar untuk kayu bakar atau kebutuhan memasak di rumahnya masing – masing.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
Masyarakat merasa lega, dan tidak khawatir ada luapan sampah kayu yang mengancam ke permukiman. Karena, sudah diangkat dan ditangani pihak berwenang.
Diberitakan sebelumnya, pasca diterjang banjir pada 9 April 2026 lalu, terjadi penumpukan sampah kayu, bambu dan jenis sampah lainnya, di Sungai Ciseukeut, tepatnya di Kampung Bojong Kacang, RT 003 RW 006, Desa Mekarsari, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, sejak Jumat (17/4/2026) sampai sekarang, Minggu (19/4/2026).
Akibat aliran sungai tersebut tertutup tumpukan material sampah, akhirnya aliran air ke lahan persawahan warga sekitar terhambat, alias tersendat.
Informasi yang dihimpun, tumpukan sampah kayu diperkirakan mencapai 50 Meter dan menutupi Sungai Ciseukeut sekitar 70 Meter persegi.
Warga sekitar menduga, tumpakan sampah tersebut berasal dari hulu Sungai Cimandah, dan beberapa anak Sungai Cimandahan yang bermuara di Sungai Ciseukeut.
Seorang warga, Nurdin menyatakan, sampah kayu dan bahan material itu merupakan kiriman dari hulu Sungai Cimandahan, yang mandeg dan tak terbawa arus lagi saat tiba di Sungai Ciseukeut.
Baca Juga: UPT Puskesmas Bojong Pandeglang Bahas Kesehatan Masyarakat
Ia dan beberapa warga sekitar berharap, tumpukan sampah tersebut segera diangkut atau disingkirkan menggunakan alat berat.
“Bilamana tidak cepat di tangani,;akan berdampak ke beberapa perkampungan (9 kampung), dan ke jalan nasional. Jadi nanti kalau hujan lagi, airnya pasti meluap lagi dan sampah tersebut terbawa,” kata Nurdin, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, warga sudah menyampaikan atau mengkoordinasikan kondisi tersebut dengan aparatur desa dan kecamatan, serta pihak terkait lainnya.
Namun sayang, hingga kini belum ada tindakan konkrit. Karena ujarnya, warga kesulitan menyingkirkan material sampah itu, akibat keterbatasan kemampuan dan peralatan.
“Jadi menurut saya, untuk menyingkirkannya itu harus pakai alat berat. Enggak bisa manual atau pakai alat seadanya, seperti cangkul atau sejenisnya,” tambahnya.
Penasehat Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pandeglang, Ade Mulyana menyatakan, pihaknya sudah mendapat laporan dan informasi terkait hal itu dari anggota Tagana setempat.
“Malah, setelah menerima laporan saya langsung ke lokasi dan kondisinya sangat memprihatikan, harus secepatnya ada penanganan dari pihak terkait. Sudah kami koordinasikan dengan BPBDPK, Dinsos, DPUPR dan beberapa pihak lainnya,” ungkap Ade.
Ade juga berharap, segera ada penanganan agar tidak merugikan atau berdampak terhadap masyarakat. Semakin dibiarkan, katanya, material sampah akan semakin banyak.
“Kekhawatiran kami, nanti pas hujan deras mengguyur material sampah itu akan meluap dan menumpuk di permukiman warga, sehingga penanganannya semakin sulit,” ujar pria yang juga Pembina Boedak Suang Rescue (BSR) ini. (mardiana)
























