SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Di tengah tantangan terbatasnya lapangan kerja formal, Pemerintah Kabupaten Tangerang mulai menyiapkan jalan alternatif bagi masyarakat untuk tetap produktif dan mandiri. Melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) bersama Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan Industri Daerah (FKLPID), bantuan peralatan usaha diserahkan kepada kelompok wirausaha baru dalam Sub Kegiatan Perluasan Kesempatan Kerja tahun 2026.
Penyerahan bantuan berlangsung di Aula UPT BLK Disnaker Kabupaten Tangerang, Kecamatan Jayanti, Selasa (5/5/2026), sekaligus menjadi penanda berakhirnya pelatihan angkatan pertama tahun ini.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menegaskan, program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga membuka peluang nyata bagi peserta untuk masuk ke dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.
“Hari ini kita hadir di BLK Jayanti. Ada ratusan peserta yang melaksanakan pelatihan dan dihadiri pimpinan perusahaan. Disnaker sudah bekerja sama dengan perusahaan untuk membuka kesempatan pemagangan,” ujarnya kepada Satelit News, usai acara penyerahan.
Ia menjelaskan, meski rekrutmen karyawan masih dalam tahap perencanaan, peserta pelatihan mendapat kesempatan magang selama satu bulan di berbagai perusahaan. Selama masa itu, peserta tidak hanya belajar bekerja, tetapi juga mendapat jaminan transportasi dan uang saku.
“Selama satu bulan mereka harus menunjukkan dedikasi, disiplin, dan tanggung jawab. Jika perusahaan merasa cocok, bukan tidak mungkin mereka diangkat menjadi karyawan,” katanya.
Baca Juga: Kapolresta Tangerang Dorong Generasi Muda Jadi Pelopor Kamtibmas
Selain jalur pemagangan, Pemkab Tangerang juga memperkuat pelatihan berbasis keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK), baik di Jayanti maupun Jati Mulya, Kosambi. Beragam bidang pelatihan disiapkan, mulai dari servis AC, otomotif, forklift, tata boga, menjahit, hingga barista.
Namun, pemerintah tidak hanya mengandalkan sektor industri. Program wirausaha baru menjadi salah satu fokus utama untuk menjawab keterbatasan daya tampung perusahaan.
“Setelah pelatihan, peserta tidak dibiarkan diam. Mereka langsung diberikan alat usaha, seperti kompresor servis AC, peralatan bengkel, hingga mesin jahit. Jadi begitu selesai pelatihan, langsung bisa bekerja atau membuka usaha,” jelasnya.
Pada tahun 2026, Pemkab Tangerang menargetkan 1.700 peserta pelatihan, dengan 608 di antaranya merupakan wirausaha baru. Jumlah tersebut direncanakan akan terus bertambah pada tahun berikutnya seiring peningkatan anggaran.
Menurut Maesyal, langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Ini bukti kolaborasi pemerintah daerah dengan dunia usaha untuk membuka lapangan kerja dan menciptakan peluang usaha baru,” tegasnya.
Baca Juga: Curanmor Diduga Bersenjata Api Gegerkan Citra Raya, Polresta Tangerang Lakukan Penyelidikan
Sementara itu, Kepala Disnaker Kabupaten Tangerang, Rudi Lesmana, menambahkan bahwa peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pembekalan kewirausahaan sebelum menerima bantuan alat usaha.
Untuk angkatan pertama tahun ini, sebanyak 240 peserta telah menyelesaikan pelatihan yang tersebar di enam kecamatan, yakni Balaraja, Sukamulya, Gunung Kaler, Kronjo, Kresek, dan Sindang Jaya.
Adapun bidang pelatihan yang diberikan meliputi menjahit, bengkel otomotif, las listrik, tata boga (kuliner), pelatihan bahasa, dan instalasi listrik.
“Pelatihan dimulai setelah bulan puasa, dari Februari hingga April, dengan durasi yang berbeda-beda tiap bidang,” jelasnya.
Program ini dilaksanakan secara berkelompok, dengan satu kelompok berisi 16 orang. Dalam praktiknya, kelompok tersebut dibagi lagi menjadi unit-unit kecil sesuai kebutuhan jenis usaha, termasuk pembagian peralatan yang disesuaikan.
“Sebagai contoh, kalau menjahit itu satu kelompok itu dibagi empat kelompok kecil. Jadi setiap empat kelompok kecil itu dikasihlah peralatan satu mesin jahit, satu mesin obras. Sedangkan untuk kuliner, ada yang sama dibagi empat kelompok kecil, ada juga yang dua kelompok. Misalnya AC, itu dua, karena kan kalau AC kan ke mana-mana itu dua orang ya. Jadi satu kelompok itu dua orang dapatnya satu set gitu,” paparnya.
Rudi mengakui, hasil evaluasi program menunjukkan variasi capaian. Sebagian peserta berhasil mengembangkan usaha, sementara lainnya tetap mencoba peluang kerja di perusahaan.
“Tahun lalu total peserta yang diluluskan mencapai 688 orang. Tahun ini baru 240 untuk angkatan pertama, dan akan terus bertambah hingga target sekitar 608 peserta di APBD murni, sedangkan untuk ABT kami belum tahu ada tambahan atau tidak,” katanya.
Ia berharap, program ini mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha mandiri di tengah ketatnya persaingan kerja. “Harapannya mereka bisa punya penghasilan sendiri. Karena saat ini masuk ke pabrik tidak mudah, apalagi kondisi banyak PHK. Ini jadi solusi agar masyarakat tetap bisa berusaha,” pungkasnya.
Salah satu peserta, Emmy Hamidah dari Desa Saga, Kecamatan Balaraja, mengaku terbantu dengan program tersebut. Ia menjadi penerima bantuan peralatan kuliner, seperti oven dan perlengkapan memasak lainnya.
“Setelah pelatihan ini, kami membentuk kelompok untuk membuat kue kering, kue bolu, dan sebagainya untuk dijual di sekitar lingkungan,” ujarnya.
Emmy juga menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah daerah atas pelatihan yang diberikan.
“Saya berterima kasih karena sudah difasilitasi pelatihan selama sepuluh hari, ada chef, ada pelatihan menu, sehingga kami punya keterampilan untuk dipakai berjualan sehari-hari. Ini bisa menjadi pemasukan bagi kami dan warga sekitar. Alat-alat ini juga sangat berguna untuk usaha ke depan,” tuturnya. (aditya)

















