SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Industri edukasi dan ekosistem musik di Tangerang memasuki babak baru. Dialogue Music School & Music Store secara resmi dibuka di Gading Serpong, Kecamatan Pagedangan, Senin (1/6/2026). Kehadiran cabang pertama sejak resmi berdiri pada 21 April 2026 ini, membawa konsep segar yang mengintegrasikan sekolah musik dan toko alat musik dalam satu atap.
Kepala Dialogue Music School Gading Serpong, Mouritz Kansil, menjelaskan bahwa konsep ini sengaja dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan belajar, sekaligus penyediaan instrumen secara terintegrasi.
”Konsep yang kami hadirkan adalah perpaduan antara sekolah musik dan music store dalam satu tempat, sehingga kebutuhan belajar dan kebutuhan alat musik dapat terpenuhi secara terintegrasi,” ujar Mouritz kepada Satelit News, saat sesi wawancara di sela-sela peresmian.
Menopang kebutuhan instrumen berkualitas, Dialogue Music Store bergerak agresif dengan menggandeng dua distributor alat musik terbesar di Indonesia, yakni PT Citra Intirama dan Swee Lee. Kolaborasi ini memastikan produk kelas dunia seperti Gibson, Fender, Pearl, Tama, dan yang lainnya tersedia langsung bagi konsumen lokal.
Kepala Dialogue Music Store, Nyoman Saputra Wardana, menekankan pentingnya ketersediaan alat musik yang proper untuk menunjang proses belajar sejak tahap awal (trial). Toko ini menyediakan pilihan variatif mulai dari kelas entry level hingga premium.
”Alat musik premium kami hadirkan sebagai pembanding kualitas, sekaligus karena beberapa merek seperti Gibson dan Fender memiliki nilai investasi yang terus meningkat dari waktu ke waktu,” kata Nyoman.
Baca Juga: Pengadilan Agama Tigaraksa Sosialisasikan Isbat Nikah Terpadu di Dua Kecamatan
Lebih lanjut, Nyoman membeberkan bahwa keberadaan toko fisik ini menjadi solusi atas maraknya penipuan instrumen secara daring. “Pengalaman kami selama ini menunjukkan banyak murid membeli alat musik secara online tanpa pendampingan, dan akhirnya mendapatkan produk palsu. Di sini kami memberikan edukasi dan rekomendasi yang tepat sebelum mereka membeli,” imbuhnya.
Hingga saat ini, Dialogue Music Store telah menyediakan instrumen yang sangat lengkap, mulai dari gitar elektrik, akustik, dan klasik; drum akustik dan elektrik; piano digital, upright piano, hingga baby grand piano; serta keyboard, biola, alat musik tiup, dan berbagai aksesori pendukung.
Kurikulum Global dan Wadah Ekonomi Kreatif Musisi
Di bidang pendidikan, Kepala Dialogue Music School Gading Serpong, Mouritz Kansil menambahkan, Dialogue Music School menerapkan sistem kurikulum berlapis yang mengadopsi standar global. Ada tiga jalur pembelajaran yang ditawarkan. Pertama, kurikulum ABRSM (Associated Board of the Royal Schools of Music) dari Inggris: Berfokus pada musik klasik seperti piano, gitar klasik, alat tiup, dan instrumen orkestra.
Kedua, kurikulum Rockschool, ditujukan untuk instrumen kontemporer (gitar elektrik, bass, dan drum). Serta ketiga, program hobi yang dilengkapi dengan sertifikasi internal dari Dialogue Music School.
Edukasi yang diberikan pun diklaim sangat menyeluruh. “Setiap tiga bulan sekali diadakan evaluasi. Murid tidak hanya diajarkan memainkan instrumen, tetapi dibekali kemampuan tampil di panggung, melakukan setting alat, hingga memahami aspek teknis seperti perbedaan neck pickup dan bridge pickup pada gitar elektrik, serta karakteristik amplifier,” ungkap Mouritz Kansil.
Baca Juga: Mayat di Kali Sasak Ciputat Ternyata Warga Jombang
Saat ini, sekolah tersebut telah diperkuat oleh sekitar 20 pengajar kompeten yang mengampu sekitar 50 murid terdaftar. Dengan sistem kelas bergilir, fasilitas ini memiliki kapasitas ideal hingga 300 murid aktif per minggu.
”Biaya kursus dipatok mulai dari Rp600.000 hingga Rp1,5 juta per bulan, tergantung pada durasi kelas yang dipilih (30 menit, 45 menit, atau 60 menit) dengan frekuensi reguler satu kali per minggu. Tersedia pula program intensif seperti Summer School saat musim liburan,” jelas Kepala Dialogue Music School Gading Serpong, Mouritz Kansil.
Selain menjadi lembaga edukasi, Dialogue Music School mengusung misi sosial-ekonomi di tengah tantangan pasar saat ini. Tempat ini diproyeksikan membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya menjadi wadah bagi para musisi dan artis yang sedang tidak menjalani jadwal tur panggung. Beberapa nama besar pun mulai dijajaki untuk mengisi program pembelajaran, seperti Ojan untuk kelas vokal online, serta Ardian dan Ical dari Last Child untuk kelas gitar.

Dukungan Istri Menteri UMKM
Peresmian ini turut dihadiri dan mendapat apresiasi tinggi dari Tina Astari, istri Menteri UMKM RI, yang juga merupakan salah satu orang tua murid di Dialogue Music School. Tina mengungkapkan telah mempercayakan pendidikan musik privat putrinya di sekolah ini sejak usia delapan tahun karena kurikulumnya yang berstandar internasional.
Bagi Tina, musik merupakan instrumen penting untuk menjaga kesehatan mental, mengekspresikan diri, dan merilekskan pikiran dari stres. Ia pun mewajibkan anak-anaknya menguasai minimal satu alat musik sebagai bekal keterampilan hidup di masa depan.
”Kita tidak pernah tahu bagaimana masa depan anak-anak kita. Meskipun cita-citanya ingin menjadi dokter, misalnya, paling tidak mereka memiliki keterampilan yang bisa dibagikan kepada orang lain, bisa menjadi pengajar atau profesi lain yang berkaitan dengan musik. Musik juga tidak memiliki batas umur,” tutur Tina.
Dari kacamata ekonomi makro, Tina mendorong Dialogue Music School & Store tidak hanya sekadar mencetak seniman baru, melainkan mampu membangun ekosistem yang terintegrasi dengan sektor kriya lokal dan pelaku UMKM daerah.
”Kita bisa membangun ekosistem antara pemilik sekolah musik, para musisi, pelaku usaha, dan UMKM. Misalnya bahan baku alat musik seperti kayu untuk gitar atau komponen lainnya bisa melibatkan para pengrajin daerah,” urai Tina optimis.
Meskipun instrumen besar seperti piano saat ini masih didominasi impor dari Jepang atau Jerman, Tina yakin pengrajin Indonesia memiliki kualitas dan potensi besar untuk masuk ke dalam rantai pasok material pendukung industri musik dan ekonomi kreatif nasional.
Menanggapi visi tersebut, Nyoman Saputra Wardana mengonfirmasi bahwa banyak alat musik bermerek luar negeri yang dijual di tokonya, sebenarnya diproduksi langsung di pabrik-pabrik Indonesia. Ke depan, dalam waktu satu tahun, Dialogue Music berencana melebarkan sayap bisnis ke arah sektor distribusi alat musik.
“Kami sedang menjajaki peluang bekerjasama dengan berbagai merek international, yang belum memiliki distribusi resmi di Indonsia. Kami juga terbuka untuk bekerjasama dengan produsen alat musik lokal, apabila terdapat peluang yang sesuai. Selain itu, kami juga membuka peluang untuk mengembangkan produk dengan merek sendiri,” pungkasnya. (aditya)




















