SATELITNEWS.COM, TANGERANG SELATAN—Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangerang Selatan mempercepat pengerukan sedimentasi dan normalisasi sungai pada musim kemarau tahun ini. Langkah ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan.
Kepala Dinas SDABMBK Kota Tangerang Selatan Robbi Cahyadi, mengatakan, musim kemarau menjadi periode paling ideal untuk mengembalikan kapasitas sungai karena alat berat lebih mudah menjangkau lokasi pekerjaan.
“Kami tidak menunggu banjir datang baru melakukan penanganan. Musim kemarau adalah kesempatan terbaik untuk mengangkat sedimentasi berupa lumpur maupun sampah yang mengendap di dasar sungai sehingga kapasitas aliran kembali optimal. Saat curah hujan meningkat nanti, air diharapkan mengalir lebih lancar dan risiko luapan ke permukiman dapat ditekan,” ujar Robbi.
Salah satu lokasi yang sedang dikerjakan berada di kawasan Puri Serpong Kali Jeletreng. Di lokasi tersebut, tim Operasional Sumber Daya Air (OP SDA) melakukan pengerukan menggunakan long arm ekscavator target pengerukan pada ruas sepanjang 1 Km dengan volume sedimentasi mencapai 7.500 m3 saat ini masih progress baru 150 meter.
Di lapangan, petugas tidak hanya menemukan endapan lumpur, tetapi juga tumpukan sampah plastik yang bercampur dengan sedimen di dasar sungai. Kondisi tersebut menunjukkan persoalan sampah masih menjadi salah satu penyebab berkurangnya kapasitas aliran sungai di kawasan perkotaan.
Program normalisasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam memperkuat sistem pengendalian banjir.
Baca Juga: Perkuat Budaya Keselamatan Kerja, SDABMBK Tangsel Gelar Uji Kompetensi K3 Konstruksi
Salah satu pekerjaan prioritas saat ini adalah normalisasi Sungai Ciputat, anak Sungai Angke yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Angke. Sungai tersebut membentang dari kawasan Lapangan Golf Pondok Cabe di perbatasan Kota Depok dan Kecamatan Pamulang hingga Perumahan Japos di Kecamatan Pondok Aren.
Di sungai tersebut, SDABMBK menargetkan pengerukan sedimentasi sepanjang 2,5 kilometer, mulai dari kawasan Perumahan Pondok Hijau hingga Perumahan Cipayung. Hingga kini, pekerjaan telah mencapai sekitar 500 meter.
“Sungai Ciputat merupakan salah satu tulang punggung sistem pengendalian banjir di Kota Tangerang Selatan. Karena itu kapasitas tampungnya harus terus dijaga agar mampu mengalirkan debit air secara optimal ketika musim hujan tiba,” kata Robbi.
Untuk menjangkau lokasi yang tidak dapat diakses dari daratan, SDABMBK mengoperasikan Excavator Amfibi dan Mini Excavator. Penggunaan alat berat khusus tersebut memungkinkan proses pengerukan tetap berlangsung pada area dengan kondisi tanah lunak maupun akses yang terbatas.
Namun, proses normalisasi tidak selalu berjalan mudah. Di sejumlah lokasi, alat berat tidak dapat masuk karena badan sungai telah terhimpit bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan sempadan sungai.
“Pada titik-titik tertentu kami terpaksa melakukan pengerjaan secara manual karena ruang gerak alat berat sangat terbatas. Memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi tetap kami kerjakan sesuai skala prioritas,” jelasnya.
Baca Juga: Bocah 5 Tahun di Lebak Hilang, Diduga Terseret Sungai Cisimeut
Sebelum pekerjaan dimulai, SDABMBK terlebih dahulu melakukan survei lapangan untuk memastikan penggunaan alat berat tidak mengganggu bangunan warga maupun aktivitas masyarakat sekitar.
Selain mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai, Robbi juga meminta para pengembang perumahan yang wilayahnya dilintasi aliran sungai agar lebih aktif memantau kondisi tanggul sungai, serta kapasitas saluran di kawasan yang mereka kelola.
Menurutnya, pemeriksaan rutin dan penanganan dini jauh lebih efektif dibandingkan menunggu kerusakan berkembang menjadi bencana.Ia juga mengimbau agar pengembang menjadwalkan pengerukan sedimentasi secara berkala pada titik-titik yang dinilai mulai mengalami pendangkalan.
“Sistem sungai itu saling terhubung. Ketika ada satu titik yang mengalami penyempitan, sedimentasi, atau kerusakan tanggul, dampaknya bisa dirasakan hingga ke wilayah lain di bagian hilir. Karena itu kami mengajak para pengembang ikut menjaga fungsi sungai melalui pemantauan tanggul, perawatan tanggul, dan pengerukan sedimentasi secara berkala. Pengendalian banjir tidak bisa hanya dilakukan pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak,” ujar Robbi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai karena kebiasaan tersebut menjadi salah satu penyebab utama pendangkalan dan penyumbatan aliran air.
“Ketika hujan deras datang dan aliran sungai tersumbat sampah, dampaknya akan kembali dirasakan masyarakat dalam bentuk genangan maupun banjir. Menjaga sungai harus menjadi budaya bersama, dimulai dari hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya,” tegasnya.
Melalui normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, revitalisasi turap, serta dukungan masyarakat dan pengelola kawasan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan optimistis kapasitas sungai akan terus meningkat sehingga kota ini semakin siap menghadapi musim hujan dan mampu menekan risiko banjir di berbagai wilayah. (gatot)




























