SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang memetakan sebanyak 25 dari 29 kecamatan di wilayahnya masuk dalam zona rawan kekeringan dan kebakaran seiring memasuki musim kemarau panjang yang diprediksi dipengaruhi fenomena El Nino. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga September 2026.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini berpotensi memicu bencana kekeringan maupun kebakaran di sejumlah wilayah.
“Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau panjang akan terjadi pada Juli hingga September 2026. Akibatnya akan ada potensi bencana kekeringan dan kebakaran,” kata Achmad Taufik kepada Satelit News, Selasa (14/7/2026).
Menurut Taufik, potensi kebakaran paling banyak diperkirakan terjadi di lahan ilalang akibat aktivitas pembakaran sampah di lahan kosong yang kemudian merembet ke vegetasi kering, bangunan, hingga lapak-lapak limbah.
Berdasarkan riwayat kejadian kebakaran sebelumnya, BPBD memetakan kawasan industri, pergudangan, dan lokasi penampungan limbah sebagai wilayah yang paling rentan mengalami kebakaran. Beberapa di antaranya berada di Kecamatan Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, Tigaraksa, dan sekitarnya.
“Terutama wilayah-wilayah industri dan pergudangan, serta wilayah yang banyak limbah. Di antaranya di Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, Tigaraksa. Itu wilayah-wilayah industri rawan kebakaran,” jelasnya.
Baca Juga: Realisasi PAD Kabupaten Tangerang Tembus Rp2,09 Triliun
Sementara itu, terkait potensi kekeringan akibat kemarau ekstrem pada 2026 yang kerap disebut sebagai El Nino Godzilla, masyarakat, khususnya para petani, diminta meningkatkan kewaspadaan. Meski demikian, hingga saat ini baru satu kecamatan yang dilaporkan mengalami krisis air bersih.
“Yang baru kelihatan saat ini kekurangan air bersih yaitu Kecamatan Curug. Dan kita sudah bantu distribusi air bersih di wilayah Curug. Kita selalu stay petugas-petugas kita dengan armadanya,” ujar Taufik.
Ia menegaskan, sebagai langkah mitigasi, BPBD telah berkoordinasi dengan Perumda Air Minum Tirta Kerta Raharja (TKR) dan Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman (Perkim) Kabupaten Tangerang untuk menyalurkan air bersih apabila terjadi krisis air di wilayah Kabupaten Tangerang.
“Apabila ada kekeringan, kita bantu suplai air bersih. Kita bekerja sama dengan PDAM dan Perkim untuk suplai air, jadi bukan BPBD sendiri,” jelasnya. (alfian/aditya)




























