SATELITNEWS.COM, LEBAK–Mencuatnya dugaan aktivitas kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kabupaten Lebak yang ramai diperbincangkan di media sosial memantik perhatian berbagai kalangan. Meski belum ada informasi resmi yang membenarkan kabar tersebut, sejumlah tokoh meminta pemerintah dan masyarakat tidak mengabaikan isu yang berkembang serta memperkuat langkah-langkah pencegahan melalui pendekatan edukatif dan keagamaan.
Aktivis mahasiswa, Firman Habibi, menilai isu yang telah menjadi perbincangan publik itu perlu disikapi secara proporsional. Menurutnya, langkah antisipatif jauh lebih penting dibanding saling menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Firman mengatakan, Kabupaten Lebak selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai religius, adat istiadat, dan norma kesusilaan. Karena itu, setiap persoalan yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial harus mendapat perhatian bersama.
“Lebak memiliki karakter masyarakat yang religius dan menjunjung tinggi norma kesusilaan. Karena itu, isu yang berkembang di masyarakat perlu disikapi secara serius agar tidak menimbulkan keresahan,” kata Firman, Minggu (12/7/2026).
Ia menilai derasnya arus informasi melalui media digital membuat berbagai pengaruh dari luar semakin mudah diakses oleh generasi muda. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan bagi keluarga maupun dunia pendidikan dalam membentengi anak-anak dari berbagai perilaku yang dinilai bertentangan dengan nilai moral dan agama.
Karena itu, Firman mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap perkembangan anak, termasuk aktivitas mereka di ruang digital. Di sisi lain, sekolah juga didorong memperkuat pendidikan karakter dan pembinaan spiritual sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang berakhlak.
“Orang tua harus lebih peka terhadap perkembangan anak, sementara sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter dan spiritual sebagai benteng utama menghadapi berbagai pengaruh negatif,” ujarnya.
Baca Juga: BPBD Lebak Siaga Hadapi Kemarau, Antisipasi Karhutla
Firman juga mengajak pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga aparat terkait meningkatkan sinergi melalui edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, langkah preventif lebih efektif dilakukan dibanding menunggu persoalan berkembang menjadi keresahan yang lebih luas.
“Kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan agar masyarakat tetap kondusif. Edukasi harus menjadi langkah utama, disertai pengawasan terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ucapnya.
Ia pun mengajak kalangan pemuda memperbanyak aktivitas positif, seperti mengikuti kegiatan keagamaan, olahraga, maupun seni budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pembinaan karakter sekaligus mengurangi pengaruh negatif di era digital.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Malingping, KH Idin Rosyidin, menyatakan perilaku LGBT bertentangan dengan ajaran Islam sehingga harus dicegah melalui pembinaan keagamaan dan penguatan peran keluarga. “Jadi harus dicegah. Karena sudah jelas dilarang dan tidak dibenarkan, lantaran perilakunya sudah menyimpang,” tegas KH Idin.
Ia menegaskan keluarga menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter anak. Pengawasan serta pendidikan agama sejak dini dinilai menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh perilaku yang dinilai menyimpang. “Harus ada pengawasan, jangan sampai dibiarkan. Karena itu merupakan kewajiban, terutama bagi orang tuanya sendiri,” katanya.
Menurut KH Idin, para ulama selama ini terus menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui pengajian sebagai bagian dari pembinaan umat. Materi mengenai akhlak dan perilaku sesuai tuntunan agama juga menjadi bagian dari dakwah yang rutin disampaikan kepada masyarakat.
Baca Juga: Pemkab Lebak Jamin Nasib PPPK, Gaji Aman hingga 2027
Ia mengaku prihatin dengan munculnya isu tersebut. Karena itu, MUI Kecamatan Malingping berencana mengusulkan langkah-langkah pencegahan kepada Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Malingping agar dilakukan upaya bersama sesuai kewenangan masing-masing.
“Akan kami usulkan, karena itu penyakit. Dan kalau menurut keyakinan kami, itu karena gangguan setan sehingga perlu ada semacam rukiah,” ujarnya. KH Idin berharap seluruh elemen masyarakat bersama-sama memperkuat pendidikan agama, pembinaan moral, dan pengawasan terhadap generasi muda sehingga nilai-nilai yang selama ini menjadi jati diri masyarakat Lebak tetap terjaga. (mulyana)




























