SATELITNEWS.COM, LEBAK–Derit bambu rengkong mengalun pelan, memecah kesunyian di Kampung Adat Kasepuhan Cisitu, Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Di belakang bunyi yang khas itu, puluhan warga berjalan beriringan sambil memikul ikatan padi. Tak jauh dari barisan tersebut, 50 boboko berisi hasil panen diarak menuju leuit, lumbung padi adat yang menjadi jantung kehidupan masyarakat Kasepuhan.
Ribuan warga dari berbagai usia memadati kawasan adat. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan sebuah upacara, melainkan menjadi bagian dari tradisi yang telah mengikat kehidupan masyarakat Cisitu selama 341 tahun. Bagi mereka, acara yang digelar dari tanggal 6 sampai 13 Juli 2026 ini Seren Taun bukan pesta tahunan, melainkan momentum mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan melalui hasil bumi.
Setiap langkah dalam kirab budaya menyimpan makna. Padi yang diarak menuju leuit bukan dipandang sebagai komoditas untuk diperjualbelikan semata, tetapi sebagai titipan kehidupan yang harus dijaga. Sebagian disimpan sebagai cadangan pangan keluarga, sebagian lagi dipersiapkan menjadi benih bagi musim tanam berikutnya.
Cara hidup seperti itu telah membentuk masyarakat Kasepuhan Cisitu menjadi komunitas yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Jauh sebelum istilah ketahanan pangan ramai diperbincangkan, masyarakat adat telah mempraktikkan sistem penyimpanan hasil panen sebagai bekal menghadapi musim paceklik.
Ketua Adat Kasepuhan Cisitu, Abah Yoyo Yohenda, mengatakan Seren Taun tahun ini berlangsung selama delapan hari, mulai 6 hingga 13 Juli 2026. Seluruh rangkaian diisi dengan tahapan ritual yang diwariskan turun-temurun dan tetap dijalankan hingga sekarang.
Menurutnya, hari ketujuh menjadi salah satu bagian penting karena diisi kirab budaya yang dipadukan dengan ritual Sawer Buhun. Prosesi tersebut menjadi simbol doa agar alam terus memberikan keberkahan, tanaman tumbuh subur, hasil panen melimpah, dan masyarakat senantiasa diberi keselamatan. “Seren Taun merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat,” ujar Abah Yoyo, kepada wartawan.
Baca Juga: Kegiatan Seren Taun Diapresiasi Wabup Lebak
Ia menuturkan, Kasepuhan Cisitu berdiri sejak 1621. Sementara pelaksanaan Seren Taun pertama kali dilakukan pada 1685 dan terus berlangsung tanpa pernah terputus hingga kini. Sebagai generasi kedelapan pemangku adat, dirinya memandang tradisi tersebut sebagai amanah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selama delapan hari pelaksanaan, masyarakat menjalani delapan tahapan adat, mulai dari pendataan warga kasepuhan, penyambutan hasil panen, penghormatan terhadap padi, tawasulan, doa kepada para leluhur, turun ronda sebagai simbol menjaga kampung adat, hingga puncak Seren Taun.
Tahun ini, penyelenggaraan kegiatan juga mendapat dukungan melalui program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan.
Bagi masyarakat Kasepuhan Cisitu, adat bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat aturan hidup yang mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam. Karena itu, menjaga hutan, sawah, sumber mata air, hingga menyimpan padi di leuit dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Abah Yoyo juga meluruskan anggapan yang kerap muncul bahwa masyarakat adat identik dengan keyakinan di luar agama. Menurutnya, seluruh masyarakat Kasepuhan Cisitu memeluk agama Islam dan setiap prosesi adat selalu diiringi doa-doa keagamaan. “Kalau ada yang bertanya masyarakat adat itu Islam atau bukan, kami tegaskan masyarakat Kasepuhan Cisitu adalah Islam. Seluruh rangkaian adat juga diiringi doa-doa keagamaan,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menilai keberadaan Kasepuhan menjadi salah satu kekuatan besar yang dimiliki Kabupaten Lebak. Menurutnya, selain Baduy dan jejak sejarah Multatuli, kehidupan masyarakat adat Kasepuhan merupakan identitas daerah yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada dunia.
Baca Juga: Isu LGBT Mencuat, Forkopimcam Malingping Lebak Bentuk Tim PEKAT
Ia meyakini budaya yang tetap lestari tidak hanya memperkuat jati diri daerah, tetapi juga membuka peluang berkembangnya sektor pariwisata, penelitian, investasi, hingga ekonomi masyarakat berbasis budaya. “Seren Taun akhirnya bukan hanya menjadi penanda berakhirnya musim panen. Tradisi itu mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak semata diukur dari banyaknya hasil yang dipetik, melainkan dari kemampuan menjaga apa yang dimiliki agar tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya,” katanya.
Di tengah dunia yang kini dihadapkan pada ancaman krisis pangan dan perubahan iklim, Kasepuhan Cisitu menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan cerita masa lalu. “Mereka tetap hidup, tumbuh bersama masyarakatnya, dan terus membuktikan bahwa menghormati alam adalah cara paling bijak untuk menjaga masa depan,” pungkasnya. (mulyana)




























