SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Upaya mencegah tindak pidana pencucian uang (TPPU) tak hanya dilakukan melalui pengawasan transaksi keuangan. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana turun langsung meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi peserta didik disabilitas di Sekolah Khusus (SKh) Negeri 1 Kabupaten Tangerang, Kamis (16/7/2026).
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG yang didanai melalui skema corporate social responsibility (CSR), sehingga dipastikan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“PPATK selalu bersama dengan teman-teman dari kalangan swasta untuk membangun kebersamaan dan daya juang dalam upaya melakukan pemberantasan dan pencegahan pencucian uang,” kata Ivan Yustiavandana kepada Satelit News.
Ivan menegaskan, program CSR untuk MBG bagi siswa disabilitas yang dijalankan Grab dan OVO sepenuhnya berasal dari dana perusahaan, bukan dari APBN. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peringatan 24 Tahun Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (Gernas APU PPT) yang mengusung semangat “Indonesia Anti Pencucian Uang 24 Karat”.
“OVO dan Grab bergerak bersama, dibiayai oleh mereka sendiri tanpa APBN, dan ini adalah semangat yang sama dengan apa yang sudah diarahkan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Program MBG di SKh Negeri 1 Kabupaten Tangerang menjadi contoh kolaborasi yang baik karena sepenuhnya didukung dana CSR perusahaan swasta melalui Grab, OVO, dan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa tanpa menggunakan anggaran negara. Menurut Ivan, memuliakan anak-anak berkebutuhan khusus merupakan bentuk nyata bela negara sekaligus bagian dari upaya membangun Indonesia yang lebih inklusif.
Baca Juga: 173 Pelajar Ramaikan Bupati Tangerang Cup 2026, Jadi Ajang Berburu Bibit Pecatur Berprestasi
“Program Makan Bergizi Gratis ini dibiayai murni oleh CSR perusahaan, bukan dari APBN. Kami berharap model kolaborasi seperti ini dapat menjadi benchmark nasional dalam mendukung pelaksanaan Program MBG. Kita juga harus memuliakan saudara-saudara kita yang luar biasa. Mereka memiliki kemampuan dan potensi yang harus terus kita dukung,” imbuhnya.
Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), Cahaya Manthovani, mengungkapkan penyaluran MBG bagi siswa disabilitas di SKh Negeri 1 Kabupaten Tangerang merupakan kelanjutan dari program CSR Grab dan OVO yang telah berjalan sejak tahun lalu.
“Itu kita mulai sedikit demi sedikit, lalu akhirnya kita bekerja sama dengan Grab dan OVO. Akhirnya kita belajar bahwa sistemnya sangat sistematis, berjalan dengan baik, dan juga transparan,” ungkap Cahaya.
Hingga saat ini, program CSR Grab dan OVO telah menyalurkan MBG ke 12 sekolah khusus dengan total penerima manfaat lebih dari 2.000 siswa dan guru.
“Alhamdulillah, tahun ini kami berkembang dan semakin banyak perusahaan yang melalui program CSR ikut mendukung pelaksanaan MBG CSR swasta ini,” katanya.
Sementara itu, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala PPATK, Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI, Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, serta seluruh pihak yang telah menunjukkan kepedulian nyata kepada masyarakat Kabupaten Tangerang, khususnya anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas perhatian yang luar biasa kepada masyarakat Kabupaten Tangerang. Sekolah ini berdiri di atas lahan hibah Pemerintah Kabupaten Tangerang kepada Pemerintah Provinsi Banten agar dapat dibangun menjadi sekolah khusus. Alhamdulillah saat ini telah menampung sekitar 290 siswa dan jumlahnya akan terus bertambah,” ujar Maesyal Rasyid.
Ia menambahkan, Program Makan Bergizi Gratis menjadi bagian penting dalam mendukung proses pendidikan sekaligus tumbuh kembang para siswa agar mampu belajar secara mandiri dan menggapai masa depan yang lebih baik. Menurutnya, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama sebagai generasi penerus bangsa yang harus memperoleh pelayanan, pendidikan, dan kesempatan yang setara.
“Mereka mungkin berbeda secara fisik ataupun cara belajar, tetapi mereka adalah bagian dari kehidupan kita, ciptaan Tuhan yang memiliki hak yang sama. Tugas kita adalah saling menyayangi, menghormati, dan memberikan kesempatan terbaik bagi mereka untuk meraih masa depan,” tegasnya. (alfian/aditya)




























