SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Air Sungai Cisadane terus menyusut seiring minimnya curah hujan yang melanda wilayah Tangerang dan Bogor dalam beberapa pekan terakhir. Permukaan sungai turun hingga dasar sungai mulai terlihat di sejumlah titik. Bagi para pemancing, kondisi itu bukan sekadar pertanda kemarau, melainkan ancaman terhadap sumber penghasilan mereka.
Pantauan SatelitNews.Com di kawasan Sungai Cisadane, Senin (20/7/2026), menunjukkan aliran sungai jauh lebih dangkal dibandingkan kondisi normal. Arus air melambat, sementara hamparan bebatuan dan endapan di dasar sungai mulai bermunculan. Di beberapa sisi, tumpukan sampah yang sebelumnya terbawa arus kini mengendap dan terlihat jelas.
Penurunan debit air langsung dirasakan warga yang menggantungkan hidup dari hasil memancing. Dedy, warga Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, mengatakan hasil tangkapan ikan terus menurun sejak debit Sungai Cisadane mulai menyusut sekitar satu bulan lalu. “Kurang lebih sudah satu bulan ini kering. Sekarang cari ikan juga susah, hasil tangkapannya sedikit, jadi pemasukan juga ikut berkurang,” ujar Dedy.
Keluhan serupa disampaikan Andri. Menurut dia, ikan semakin sulit ditemukan karena habitatnya ikut berubah ketika permukaan air terus menurun. “Kalau biasanya masih bisa dapat beberapa ekor, sekarang dapat sedikit saja sudah bagus,” kata Andri.

Bukan hanya air yang menyusut, kualitas lingkungan sungai juga menjadi sorotan. Saat debit air turun, sampah rumah tangga yang mengendap di aliran Sungai Cisadane semakin terlihat sehingga membuat kondisi sungai tampak kotor. Para pemancing khawatir kondisi tersebut akan memperburuk ekosistem dan mengurangi populasi ikan. “Selain airnya sedikit, sampah juga banyak. Sungainya jadi kelihatan kotor, apalagi saat air surut seperti sekarang,” ujar Andri.
Kepala Balai UPT Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian Cisadane, Didik Purwanto, membenarkan adanya penurunan debit air di Sungai Cisadane. Berdasarkan pemantauan di Pintu Air 10 Kota Tangerang, debit sungai turun sekitar 12 persen dibandingkan kondisi normal. “Kondisi tahun ini lebih ekstrem karena curah hujan lebih rendah, sehingga debit Sungai Cisadane mengalami penurunan sekitar 12 persen,” kata Didik.
Baca Juga: Kekeringan Melanda Pagedangan Tangerang, 200 KK Krisis Air Bersih
Menurut Didik, pengaturan muka air di wilayah hulu terus dilakukan agar kebutuhan air baku masyarakat dan pasokan irigasi pertanian tetap terpenuhi selama musim kemarau. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara hemat karena kondisi cuaca masih berpotensi menyebabkan debit sungai terus menurun.
Di sisi lain, para pemancing berharap hujan segera turun agar Sungai Cisadane kembali pulih. Mereka juga meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai karena pencemaran dinilai memperparah kondisi ketika debit air sedang rendah. Bagi warga yang menggantungkan hidup dari Sungai Cisadane, kemarau kali ini bukan hanya membuat aliran sungai menyusut, tetapi juga menggerus pendapatan yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. (ari)

















