SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Satu per satu pengendara yang melintas di RW 06 Perumahan Puri Dewata Indah, Kelurahan Poris Plawad Utara, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, tampak memperlambat laju kendaraannya.
Sebagian berhenti di tepi jalan, mengangkat telepon genggam, lalu mengabadikan hamparan Merah Putih yang membentang di atas kepala mereka. Lorong sepanjang ratusan meter itu bukan dekorasi dari sebuah festival, melainkan hasil gotong royong warga yang dikerjakan kurang dari sehari untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bentangan bendera Merah Putih sepanjang 400 meter itu dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat dan ramai diperbincangkan di media sosial. Siang hari, kain raksasa tersebut membuat jalan lingkungan terasa lebih teduh. Ketika malam tiba, cahaya lampu yang melilit bambu penyangga mengubahnya menjadi lorong merah putih yang memikat perhatian siapa pun yang melintas.
Di balik pemandangan yang mencuri perhatian itu, tidak ada proyek besar ataupun dukungan anggaran pemerintah. Seluruh proses dikerjakan secara swadaya oleh warga atas gagasan Ketua RW 06, Momon Simon (45), yang dikenal kerap mengajak masyarakat bergerak cepat mewujudkan ide-ide di lingkungannya.
Momon mengatakan, gagasan membuat bendera raksasa muncul secara spontan. Begitu ide itu muncul, ia langsung membeli kain pada Kamis pagi. Sore harinya bahan tiba di lingkungan perumahan dan malam itu juga mulai dijahit hingga dipasang. “Untuk bendera Merah Putih ini, dari mulai saya beli sampai terpasang itu cuma 20 jam. Saya belinya hari Kamis pagi. Siang dikirim, sampai sini sore, langsung saya suruh istri yang menjahit,” ujar Momon kepada SatelitNews.Com, Selasa (4/8/2026).
Pekerjaan menyambung gulungan kain dilakukan oleh istrinya yang memiliki latar belakang sebagai desainer dan aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di Provinsi Banten. Agar mencapai panjang 400 meter, dibutuhkan empat rol kain putih dan enam lembar kain merah karena stok kain gulungan merah di pasaran tidak mencukupi. “Istri saya sendiri yang menjahit untuk menyambung-nyambung sampai menjadi 400 meter. Itu hitungan dua atau tiga jam selesai. Langsung malam itu juga saya gelar dan pasang,” katanya.
Baca Juga: Pimpin Upacara Kemerdekaan, Andra: Lanjutkan Perjuangan Kemerdekaan
Bukan hanya pengerjaan bendera yang mengandalkan tenaga warga. Tiang-tiang penyangga juga dibangun dari bambu yang sebagian besar berasal dari sisa material pembangunan rumah milik warga. Hanya beberapa batang bambu berukuran panjang yang dibeli sebagai penyangga utama, sedangkan sisanya diperoleh tanpa biaya.
“Tiang-tiangan dan penyangga lainnya itu sisa bambu dari warga yang lagi membangun rumah, saya mintakan. Makanya pemanfaatan hal itu, asal kita ada kemauan, segala sesuatu pasti akan terlaksana,” ujar Momon.
Semangat memanfaatkan kembali barang yang sudah tidak terpakai juga terlihat pada pembangunan gapura peringatan 17 Agustus. Warga menggunakan galon bekas air minum sebagai material utama, sejalan dengan program Bank Sampah yang selama ini berjalan di lingkungan RW 06. Gapura dan bentangan bendera kemudian dipercantik dengan lampu hias yang dipasang di sepanjang bambu penyangga. Saat malam tiba, cahaya lampu memantul pada kain merah putih sehingga menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa.
“Kalau malam pemandangannya ada, berbentuk terowongan jadinya. Terus terang, selama musim panas ini jalanan malah jadi adem karena tertutup lumayan rapat,” ujar Momon.
Bagi Momon, keberhasilan menghadirkan lorong Merah Putih sepanjang 400 meter tidak hanya soal dekorasi menyambut Hari Kemerdekaan. Yang lebih penting adalah membangun keyakinan bahwa lingkungan dapat berubah apabila warganya memiliki kemauan untuk bergerak bersama.
Ia bahkan memiliki semboyan yang sudah akrab di telinga warganya, yakni “RW gila, warga ikut gila”. Ungkapan itu, menurut dia, bukan berarti bertindak tanpa perhitungan, melainkan keberanian mengambil keputusan dan segera mengeksekusinya.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Perkuat Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
“Saya selalu bilang ke warga, kalau memang mau dipimpin sama saya, siap-siap warga jadi gila. Karena RW-nya gila dan nekat. Saya kalau mengerjakan program tidak pernah direncanakan jauh hari, selalu insting. Saya ngomong sekarang, besok harus jadi,” katanya.
Menurut Momon, semangat swadaya warga juga lahir dari keinginan untuk terus memperbaiki lingkungan meski sejumlah persoalan infrastruktur masih terkendala proses penyerahan fasilitas sosial dan fasilitas umum dari pengembang. Karena itu, biaya pembuatan bendera, pembangunan gapura hingga pemasangan lampu seluruhnya berasal dari iuran warga, dana pengelolaan lingkungan (IPL), dan donasi sukarela yang terus mengalir selama proses pengerjaan berlangsung.
Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat. Justru dari keterbatasan itulah, semangat gotong royong warga semakin tumbuh. “Yang penting kita ada kemauan, kita jalankan yang benar. Kalau RW-nya nekat, warganya juga dengan senang hati ikut membantu,” ujar Momon.
Kini lorong Merah Putih sepanjang 400 meter itu tidak hanya menjadi simbol perayaan Hari Kemerdekaan di lingkungan RW 06, tetapi juga menjadi ruang berkumpul warga setiap sore hingga malam hari. Anak-anak bermain di bawah bentangan bendera, sementara pengunjung dari berbagai wilayah datang untuk melihat langsung dekorasi yang lahir dari semangat kebersamaan sebuah kampung di tengah Kota Tangerang. (ari)




















