SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Moody’s dan Fitch Ratings “offside” setelah kedua lembaga pemeringkat global itu memberikan prospek (outlook) negatif terhadap peringkat utang Indonesia. Ia menilai penilaian tersebut tidak mencerminkan kondisi perekonomian nasional yang tumbuh 5,6 persen pada kuartal I-2026.
“Saya sudah bingung waktu Moody’s mengeluarkan outlook negatif, lalu tidak lama Fitch juga outlook-nya negatif. Padahal kami sudah menjelaskan berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan kondisi kita baik,” kata Purbaya saat menghadiri GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026).
Ia mengatakan bahwa outlook negatif dirilis sebelum data resmi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diumumkan. “Rupanya mereka offside karena mengeluarkan itu sebelum angka triwulan pertama keluar. Begitu angka triwulan pertama keluar 5,6 persen, harusnya kelihatan betul mereka salah ukur ekonomi kita,” semprit Purbaya.
Purbaya kemudian membandingkan sikap Moody’s dan Fitch dengan S&P Global Ratings, yang dinilainya melakukan pembahasan lebih mendalam mengenai arah kebijakan fiskal, moneter, dan strategi ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“S&P tidak mengulangi kesimpulan yang sama. Mereka berdiskusi dengan kami secara detail, melihat kebijakan fiskal, moneter, dan arah kebijakan pemerintah. Akhirnya mereka bisa melihat bahwa kita bergerak ke arah yang benar,” katanya.
Ia juga mengutip sejumlah indikator domestik yang dinilainya menunjukkan aktivitas ekonomi tetap bertahan. Penjualan mobil pada Juni 2026 tercatat melonjak 32,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara penjualan sepeda motor tumbuh 1,1 persen.
Baca Juga: Dorong Daya Saing Ekonomi Kreatif, Kemenekraf Latih dan Sertifikasi 30 Fotografer Junior di Tangsel
“Kami memonitor setiap variabel yang menunjukkan kondisi ekonomi saat ini maupun ke depan dan bertindak cepat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terpengaruh oleh perkembangan negatif di pasar,” ujarnya.
Indikator lain juga menunjukkan penguatan. Penjualan semen domestik meningkat 13,5 persen (yoy), konsumsi listrik naik 10,8 persen, dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 12,3 persen, sektor bisnis 10 persen, dan sektor industri 6,5 persen. Sementara itu, indeks konsumsi ritel mencapai 123,3.
Menurutnya, penguatan sejumlah indikator tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk mempertahankan fokus pada permintaan domestik sebagai penopang pertumbuhan. Dalam konteks itu, industri otomotif dinilai memiliki peran strategis karena memberikan efek berganda terhadap sektor manufaktur, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.
Koordinasi antara pemerintah dan pelaku industri, lanjutnya, diperlukan untuk menjaga daya saing industri otomotif nasional sekaligus mendorong transformasi menuju kendaraan berteknologi rendah emisi.
Dalam kesempatan yang sama, ia membuka peluang menambah injeksi likuiditas ke sistem perbankan apabila penyaluran kredit belum cukup kuat mendorong pemulihan permintaan.
Pemerintah telah menjalankan skema penempatan dana di perbankan senilai total Rp400 triliun, yang terdiri atas Rp200 triliun dan dua fasilitas masing-masing Rp100 triliun.
“Dua minggu lalu saya injek lagi Rp400 triliun itu. Seharusnya sekarang permintaan mobil atau motor sudah mulai pulih. Kalau masih kurang, hari ini saya akan tambah lagi sampai jumlahnya cukup ke perekonomian,” katanya.
Baca Juga: Pendataan Sensus Ekonomi di Tangerang Selatan Hampir Tuntas
Ia menjelaskan dana Rp200 triliun akan ditempatkan di perbankan hingga akhir tahun dan berpotensi diperpanjang, sedangkan dana Rp100 triliun akan dievaluasi setiap tiga bulan. Satu fasilitas Rp100 triliun lainnya bersifat fleksibel dan dapat ditempatkan atau ditarik sesuai kebutuhan.
Menurutnya, tujuan utama kebijakan tersebut adalah memperkuat likuiditas perbankan agar penyaluran kredit kepada dunia usaha dan masyarakat dapat meningkat. “Jadi harusnya itu bisa dipakai oleh perbankan untuk menggenjot kredit lebih banyak,” ujarnya. (rmg/xan)

















