SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Sebanyak 65,4 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tengah penilaian positif tersebut, publik masih menyoroti persoalan ekonomi, terutama kemiskinan dan mahalnya kebutuhan pokok.
Hasil survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) nasional yang secara khusus menyoroti dua tahun pemerintahan Prabowo menunjukkan, angka kepuasan itu terdiri atas 58,6 persen responden yang menyatakan puas dan 6,8 persen sangat puas.
Sebaliknya, 25,7 persen menyatakan tidak puas dan 6,8 persen sangat tidak puas. Adapun 2,1 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
Bantuan sosial menjadi alasan yang paling banyak disebut responden untuk menilai positif kinerja pemerintah. “Pertama adalah bantuan sosial yang semakin banyak. Ada sekitar 16,7 persen yang menganggap bantuan sosial makin banyak yang sudah diberikan oleh pemerintah,” kata Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno saat memaparkan hasil survei secara daring, Minggu (18/10/2026).
Berikutnya, penegakan hukum terhadap koruptor disebut oleh 10,3 persen responden, program Sekolah Rakyat 9,8 persen, serta perbaikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 8,5 persen.
Penilaian terhadap MBG juga menunjukkan perubahan. “Dan kemudian MBG yang dinilai makin membaik. Memang selama kurang lebih 2 sampai 3 bulan belakangan ini, isu dan informasi yang terkait dengan kekurangan MBG, misalnya salah satunya adalah soal keracunan, itu kan memang cukup berkurang informasi-informasinya,” ujarnya.
Baca Juga: Gerindra Tetap Teratas, PDI-P dan Golkar Membuntuti
Di sisi lain, ketidakpuasan terutama dipicu kondisi ekonomi yang dianggap sulit atau memburuk, sebesar 11,8 persen. Sebanyak 11,4 persen menilai bantuan sosial tidak tepat sasaran, sedangkan 10,4 persen menyoroti mahalnya harga kebutuhan pokok. Sebanyak 6,7 persen lainnya menilai pemerintah kurang memperhatikan masyarakat kecil dan miskin.
“Ini adalah alasan-alasan kenapa ada sebagian publik dan masyarakat kita yang menganggap tidak puas terkait dengan kinerja pemerintah,” ungkap Adi.
Meski demikian, kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah menjalankan tugasnya tergolong tinggi. Sebanyak 67 persen responden percaya pemerintah mampu menjalankan tugas dengan baik.
“Ada sekitar 67,0 persen yang menyatakan percaya bahwa pemerintah saat ini itu akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik,” kata Adi.
Sementara itu, 24,4 persen responden tidak percaya terhadap kemampuan pemerintah, terdiri atas 18,8 persen yang tidak percaya dan 5,6 persen yang sangat tidak percaya. Sebanyak 8,6 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
Ketika ditanya mengenai persoalan paling mendesak yang perlu diselesaikan, 33,5 persen responden menyebut kemiskinan dan ekonomi. Persoalan berikutnya mencakup harga kebutuhan pokok, korupsi, lapangan kerja, ketidakmerataan bantuan sosial, dan infrastruktur.
Baca Juga: Kepuasan Terhadap Pemerintahan Prabowo Tinggi, Ekonomi Masih PR
Kepuasan terhadap pemerintah secara keseluruhan sedikit berbeda dari penilaian khusus terhadap Presiden Prabowo. Sebanyak 65,2 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Prabowo, terdiri atas 62,3 persen yang puas dan 2,9 persen yang sangat puas. Sebaliknya, 28,1 persen menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas, sedangkan 6,7 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
Berdasarkan kelompok generasi, kepuasan tertinggi tercatat pada Generasi X, yakni 73,4 persen. Angkanya mencapai 63,4 persen pada generasi milenial dan kelompok baby boomer, 60,6 persen pada Generasi Z, serta 65,5 persen pada kelompok pre-boomer.
Tingkat pendidikan juga memperlihatkan perbedaan mencolok. Kepuasan mencapai 79,3 persen pada responden yang tidak tamat sekolah dasar atau tidak pernah bersekolah, 74,9 persen pada lulusan SD, 64,3 persen pada lulusan SMP, dan 62,4 persen pada lulusan SMA atau SMK. Di kalangan lulusan perguruan tinggi, kepuasan turun menjadi 43,2 persen, sementara 50,4 persen menyatakan tidak puas.
Adapun kepuasan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tercatat 49 persen. Sebaliknya, 38,5 persen responden menyatakan tidak puas.
Dalam penilaian terhadap program pemerintah, bantuan sosial kembali menempati urutan teratas dengan 15,9 persen. Berikutnya, Sekolah Rakyat memperoleh 12,6 persen dan MBG 11 persen. Program pendidikan gratis hingga perguruan tinggi mendapat 8,1 persen, pemeriksaan kesehatan gratis 7,7 persen, serta program pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan 6,7 persen.
Meski sejumlah program mendapat penilaian positif, pemerintah masih perlu meningkatkan kinerja untuk mendongkrak kepuasan publik.
“Untuk mampu mengembalikan level kepuasan hingga di atas 70 persen dibutuhkan peningkatan kinerja bersama,” demikian temuan survei.
Dalam penilaian terhadap menteri dan pejabat pemerintah berkinerja terbaik, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati urutan pertama dengan 15,4 persen. Ia diikuti Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan 14,5 persen dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dengan 6 persen.
Survei yang sama juga menguji elektabilitas calon presiden melalui pertanyaan terbuka. Responden diminta menyebutkan nama calon yang akan dipilih jika pemilihan presiden dilaksanakan saat survei berlangsung.
“Pertanyaannya adalah, ‘Jika pemilihan presiden dilaksanakan saat ini, siapakah yang akan Anda pilih menjadi Presiden Republik Indonesia?’. Responden diminta untuk menjawab secara spontan,” kata Adi.
Dalam simulasi tersebut, Prabowo memperoleh 31,6 persen, unggul atas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang meraih 11,4 persen dan Anies Baswedan 10,1 persen. Gibran berada di posisi berikutnya dengan 6,9 persen, disusul Ganjar Pranowo 4,4 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,3 persen, Mahfud MD 1,7 persen, dan Sherly Tjoanda 1,1 persen.
Sebanyak 25,5 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Selisih elektabilitas Prabowo dan Dedi mencapai 20,2 poin persentase.
Survei PPI melibatkan 1.200 responden berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah, yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan, dan 120 desa/kelurahan.
Wawancara tatap muka dilakukan pada 26 September–6 Oktober 2026 menggunakan metode multistage random sampling. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error 2,83 persen. (rmg/xan)

















