SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Mahfud MD meraih skor tertinggi dalam survei kualitas kepemimpinan nasional demokratik-transformatif. Dengan skor 7,6 pada skala 0–10, Mahfud unggul atas Presiden Prabowo Subianto yang mendapat 5,1 dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang meraih 4,4.
“Profesor Mahfud adalah yang secara umum dinilai yang terbaik, kira-kira begitu dari semua yang ada itu. Dengan skor paling tinggi, dari berbagai kategori,” kata pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, saat memaparkan hasil studi bertajuk Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif: Survei Opinion Leaders di Gedung FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Saiful mengatakan, studi ini mengukur penilaian kalangan yang dinilai memiliki pengetahuan relatif mendalam tentang politik dan tokoh-tokoh nasional. Hasilnya diharapkan menjadi bahan pertimbangan publik dalam menilai kualitas calon pemimpin menjelang kontestasi politik 2029.
Dari 31 tokoh yang dinilai kalangan opinion leaders, skor terendah diperoleh Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep, yakni 4,0. Sementara itu, lima tokoh berada di bawah Mahfud dengan skor rata-rata 7,0, yakni Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Zainal Arifin Mochtar, dan Pramono Anung.
Mahfud unggul pada sejumlah aspek penilaian. Ia meraih skor 7,6 untuk kapabilitas, 7,3 untuk empati, 7,7 untuk sikap pluralis-inklusif, dan 7,6 untuk kemampuan memimpin. Pada komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri, skornya mencapai 7,8. Sementara untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, ia mendapat 7,7, sedikit di bawah mantan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang meraih 7,8.
Sebaliknya, skor terendah Prabowo terdapat pada indikator komitmen terhadap profesionalisme TNI dan Polri, yakni 4,2. Nilai itu sama dengan skor Kaesang dan menjadi yang terendah di antara 31 tokoh pada indikator tersebut.
Baca Juga: Prabowo dan El-Sisi Kecam Israel
Indikator ini berkaitan dengan pembatasan fungsi TNI pada pertahanan negara dan Polri pada keamanan serta ketertiban masyarakat. Sebanyak 84 persen responden menilai prinsip tersebut sangat penting sebagai kriteria calon presiden.
Pada indikator lain, Prabowo memperoleh skor 4,9 untuk empati, 5,1 untuk kapabilitas, 5,3 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, 5,5 untuk kemampuan memimpin, dan 5,8 untuk sikap pluralis-inklusif.
Gibran juga mendapat skor rendah pada sejumlah aspek. Kapabilitasnya memperoleh nilai 3,7, hanya di atas Kaesang yang meraih 3,3. Gibran mendapat skor 4,0 untuk integritas, 4,2 untuk empati, 4,3 untuk kemampuan memimpin, 4,5 untuk komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri, 4,7 untuk politik luar negeri bebas aktif, dan 5,1 untuk sikap pluralis-inklusif.
Saiful turut menyoroti Dedi Mulyadi karena penilaian positif kalangan opinion leaders terhadap Gubernur Jawa Barat itu dinilai sejalan dengan penilaian masyarakat luas. Ia menyebut dukungan terhadap Dedi dalam sejumlah survei nasional telah melampaui 90 persen.
“Tidak ada yang bisa menyamai Dedi Mulyadi untuk kesejajaran antara opinion leader, evaluasi opinion leader dengan evaluasi massa secara umum,” ujar Saiful.
Di antara pimpinan partai politik yang dinilai, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh skor rata-rata tertinggi, yakni 6,5. Saiful juga menyoroti Ahok sebagai politisi yang tidak sedang memegang jabatan publik, Pramono sebagai tokoh yang memegang jabatan publik dengan skor terbaik dalam kategorinya, serta Zainal sebagai intelektual independen yang kritis terhadap pemerintah.
Baca Juga: Gibran: Tak Lulus SMA, Tak Mungkin Kuliah
Survei ini melibatkan 200 responden, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai bidang dan 34 jurnalis senior. Sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan. Mereka dipilih menggunakan metode snowballing, antara lain melalui penelusuran media massa nasional dan daerah, karena tidak tersedia daftar populasi opinion leaders secara nasional.
Karena responden tidak dipilih secara acak, SMRC menegaskan hasil studi ini bersifat deskriptif. Penilaian tersebut menggambarkan persepsi kelompok responden terhadap kualitas kepemimpinan para tokoh, bukan representasi seluruh opinion leaders ataupun preferensi pemilih secara nasional. Skor tersebut juga tidak mengukur elektabilitas para tokoh dalam pemilihan umum. (rmg/xan)

















