SATELITNEW.COM, JAKARTA—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kepuasan jemaah terhadap penyelenggaraan ibadah haji Indonesia pada 2026 mencapai 83,28 poin, yang masuk kategori sangat memuaskan. Peningkatan kepuasan itu terjadi ketika lebih dari sepertiga jemaah berusia di atas 60 tahun, layanan di Armuzna masih menjadi titik terlemah, dan 70 persen pengeluaran jemaah mengalir ke Arab Saudi.
“Hasil survei menunjukkan nilai IKLHI Tahun 2026 secara keseluruhan sebesar 83,28 persen. Nilai tersebut merupakan gabungan dari Indeks Kepuasan Layanan Haji Luar Negeri sebesar 82,71 persen dan Indeks Kepuasan Layanan Haji Dalam Negeri sebesar 83,85 persen,” kata Kepala BPS Amalia
Adininggar Widyasanti saat memaparkan hasil Survei Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) 2026 di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
IKLHI merupakan metodologi baru yang digunakan BPS untuk mengukur kepuasan layanan haji secara lebih komprehensif, mencakup seluruh rangkaian layanan mulai dari dalam negeri hingga di Arab Saudi.
“IKLHI merupakan penyempurnaan dari IKJHI. Pengukuran tidak lagi hanya berorientasi pada output layanan di luar negeri, tetapi juga mencakup proses layanan serta layanan haji di dalam dan luar negeri,” kata Amalia.
Berdasarkan perhitungan metode lama atau Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI), skor layanan di luar negeri mencapai 91,45 poin, naik signifikan dari 88,46 poin pada 2025. Amalia mengatakan kenaikan indeks pada 2026 merupakan yang terbesar dibandingkan tren peningkatan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Peningkatan pada tahun 2026 merupakan skor tertinggi dalam deretan pengukuran sejak 2019,” ujarnya.
Survei terhadap 14.400 jemaah itu juga memperlihatkan perubahan penting pada profil jemaah. Sebanyak 36,6 persen berusia 60 tahun ke atas, dan 21,5 persen di antaranya telah berusia minimal 65 tahun. Tercatat 291 jemaah atau sekitar 0,2 persen merupakan penyandang disabilitas.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan haji semakin bergeser. Persoalannya tidak lagi hanya menyangkut transportasi, akomodasi, atau konsumsi, tetapi juga kesiapan layanan kesehatan, aksesibilitas, dan pendampingan bagi jemaah dengan kondisi fisik yang lebih rentan.
Baca Juga: SIM Keliling Kota Tangerang Kamis 24 September, Cek Lokasinya
Amalia mengatakan kelompok usia 60–64 tahun memang belum seluruhnya masuk kategori lansia prioritas, tetapi sebagian sudah mulai mengalami penurunan kondisi fisik sehingga berpotensi membutuhkan pendampingan. Karena itu, kebutuhan pelayanan di setiap embarkasi sebaiknya mempertimbangkan komposisi usia dan kondisi fisik jemaah, bukan semata jumlahnya.
Tantangan paling nyata terlihat pada fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), yang kembali menjadi titik dengan tingkat kepuasan terendah. Nilainya 79,70 poin, lebih rendah dibandingkan layanan di bandara (84,76 poin), Mekkah (82,59 poin), maupun Madinah (82,53 poin).
Meski masih menjadi titik terlemah, hampir seluruh komponen layanan di Armuzna membaik dibandingkan 2025. Peningkatan terbesar terjadi pada layanan konsumsi yang naik 4,85 poin menjadi 81,16 poin, diikuti transportasi yang meningkat 4,03 poin.
Sebaliknya, transportasi menjadi aspek yang paling memuaskan jemaah. Untuk layanan luar negeri, sektor ini memperoleh nilai 83,13 poin, sedangkan di dalam negeri transportasi bus menuju bandara mencatat skor tertinggi 85,67 poin. Sebanyak 10 embarkasi meraih tingkat kepuasan di atas rata-rata nasional.
Selain kualitas pelayanan, BPS juga memotret besarnya dampak ekonomi penyelenggaraan haji. Total pengeluaran jemaah Indonesia pada musim haji 2026 diperkirakan mencapai Rp29,25 triliun.
Sekitar Rp8,78 triliun atau 30 persen menjadi konsumsi barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia, sedangkan Rp20,48 triliun atau 70 persen mengalir ke Arab Saudi. Konsumsi domestik tersebut berkontribusi sekitar 0,13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Data BPS juga menunjukkan sekitar 7 persen jemaah reguler berasal dari kelompok ekonomi 40 persen terbawah, berdasarkan pemadanan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.
Baca Juga: Saksi Bilang Fee Percepatan Haji Tak Mengalir ke Eks Menag Yaqut
Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf menyebut capaian IKLHI 2026 sebagai bukti bahwa transformasi penyelenggaraan haji mulai dirasakan oleh jemaah.
“Alhamdulillah kami mampu memberikan layanan sebaik-baiknya kepada jemaah. Ini adalah buah dari doa dan kerja keras seluruh jajaran,” ujarnya.
Namun, Irfan mengakui layanan di kawasan Armuzna masih menjadi tantangan utama dalam penyelenggaraan ibadah haji. Keterbatasan kapasitas di Mina menjadi persoalan yang belum sepenuhnya dapat diatasi.
“Semuanya di Mina, tantangannya. Karena Mina tempatnya relatif kurang dari separuhnya Arafah, sehingga diperlukan berbagai terobosan untuk mengatasinya,” ujarnya.
Salah satu langkah yang ditempuh tahun ini adalah penerapan skema tanazul bagi sekitar 20.000 jemaah, yakni memindahkan sebagian jemaah dari tenda Mina ke hotel. Skema tersebut, kata Irfan, kemungkinan akan diperluas pada penyelenggaraan haji tahun depan agar kepadatan di tenda Mina berkurang.
Selain itu, Kementerian Haji dan Umrah akan memperkuat layanan kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Irfan mengatakan jumlah jemaah yang meninggal pada musim haji 2026 mencapai 422 orang, turun lebih dari 100 orang dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi angka tersebut masih menjadi perhatian serius pemerintah. (rmg/xan)




















