SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Kesadaran akan pentingnya kecerdasan finansial terus didorong hingga ke lingkungan sekolah. Melalui edukasi bertajuk “Bijak Keuangan Dimulai Dari Sekolah”, Wisnu Kala Kusumajati, seorang guru ASN dari SMAN 6 Kabupaten Tangerang yang telah lolos dalam pelatihan kecerdasan keuangan Astra, membagikan panduan teknis dan praktis mengenai pengelolaan keuangan secara berkelanjutan kepada para pelajar.
Dalam paparannya, Wisnu menegaskan bahwa literasi keuangan merupakan fondasi utama bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengambil keputusan finansial yang tepat di setiap rentang usia.
“Pemahaman literasi keuangan sangat penting sebagai bekal untuk mengevaluasi keputusan finansial secara terukur,” ujar Wisnu dihadapan puluhan pelajar, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Jam Sosial Mengajar yang diselenggarakan FIFGROUP Cabang Cikupa di GSG SMAN 6 Kabupaten Tangerang, Kamis (17/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa langkah awal dalam membangun ketahanan finansial dimulai dari pergeseran pola pikir (mindset), yakni kemampuan mendasar dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dinilai bersifat objektif dan wajib dipenuhi, sedangkan keinginan bersifat subjektif. Pemilahan ini menjadi kunci mendasar dalam menentukan alokasi prioritas anggaran.
Empat Pijakan Perencanaan Keuangan
Guna mempermudah implementasi, Wisnu menguraikan formulasi perencanaan keuangan sederhana yang terbagi ke dalam empat tahapan piramida: pemenuhan kebutuhan pokok, keamanan finansial, kenyamanan, hingga distribusi kekayaan.
Baca Juga: Pelajar SMAN 6 Kabupaten Tangerang Antusias Ikuti Jam Sosial Mengajar FIFGROUP
“Untuk pembagian porsi anggaran bulanan, ada dua metode praktis. Pertama metode 50/30/20, dengan rincian alokasi 50% untuk kebutuhan pokok harian, 30% untuk hiburan atau hobi, dan 20% khusus tabungan wajib,” jelasnya.
“Metode kedua, adalah metode 40/30/20/10, dengan rincian alokasi 40% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk cicilan produktif (rumah/kendaraan), 20% untuk tabungan wajib, serta 10% untuk pemenuhan kewajiban sosial dan keagamaan (amal, zakat, infak, dan sedekah),” imbuhnya.
Mengenal Ekosistem Keuangan Resmi dan Pajak
Selain pengelolaan pribadi, edukasi ini juga menyoroti pentingnya masyarakat memahami ekosistem industri keuangan formal. Seluruh lembaga keuangan yang diakses masyarakat, diimbau wajib terdaftar dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ada tujuh sektor industri keuangan yang diawasi OJK, mencakup perbankan, asuransi, pegadaian, dana pensiun, financial technology (fintech), serta perusahaan pembiayaan.
“Sebagai contoh di sektor pembiayaan, hadir grup usaha terkemuka seperti FIFGROUP yang menaungi berbagai layanan spesifik, di antaranya FIFASTRA (pembiayaan sepeda motor Honda baru), SPEKTRA (pembiayaan elektronik dan perabot), DANASTRA (pembiayaan multiguna berjaminan BPKB), serta FINATRA (pembiayaan modal usaha bagi pelaku UMKM),” jelasnya.
Baca Juga: Kabupaten Tangerang Raih Juara Umum Lomba PKK Tingkat Provinsi Banten 2026
Sebagai penutup paparan, materi pemahaman dasar perpajakan turut diberikan. Ditegaskan bahwa pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara berdasarkan undang-undang. Pemahaman mencakup perbedaan antara Pajak Langsung (seperti PPh yang ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak) dan Pajak Tidak Langsung (seperti PPN yang dibebankan saat transaksi penyerahan barang/jasa), dengan alur tata kelola ringkas yakni daftar, hitung, bayar, dan lapor.
“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat mendorong terciptanya pelajar yang sadar finansial, dan bijak dalam mengelola sumber daya keuangan di masa depan,” pungkasnya. (aditya)
























