SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Bayang-bayang kemarau ekstrem akibat fenomena El-Nino Godzilla kian nyata merayapi Kabupaten Tangerang. Deretan retakan tanah pertanian dan ancaman gumpalan debu kini menyelimuti asa para petani lokal.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang mencatat, setidaknya hingga Senin (14/9/2026), seluas 311,8 hektare lahan sawah yang tersebar di 17 kecamatan terancam mengalami gagal panen atau puso.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengungkapkan bahwa hantaman El-Nino Godzilla telah memangkas curah hujan secara drastis. Akibatnya, pasokan air mengering dan memaksa tanaman padi bertahan di batas kemampuan.
“Berdasarkan data Senin (14/9/2026), area terdampak puso mencapai 311,8 hektare. Dan diperkirakan akan bertambah sejalan dengan kondisi iklim serta prakiraan cuaca dari BMKG,” kata Ujang Sudiartono kepada Satelit News, Kamis (17/9/2026).
Sebanyak 17 kecamatan yang lahan pertaniannya kini berada dalam kepungan ancaman puso tersebut meliputi Kecamatan Cisoka, Tigaraksa, Gunung Kaler, Kronjo, Solear, Panongan, Teluknaga, Mekar Baru, Jambe, Pakuhaji, Sindang Jaya, Rajeg, Kemiri, Sukadiri, Mauk, Sukamulya, dan Kresek.
Di tengah ancaman gagal panen ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang bergerak menyiapkan jaring pengaman bagi para petani. Langkah kolaborasi ditempuh agar nasib para penggarap sawah tidak makin terpuruk.
“Pemerintah Kabupaten Tangerang telah berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk menyiapkan benih pengganti bagi para petani yang mengalami puso,” sebut Ujang.
25 Kecamatan Awas Kekeringan
Dampak mengerikan El-Nino Godzilla tak berhenti di pematang sawah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat gelombang kekeringan telah menyebar luas ke pemukiman warga. Sebanyak 25 dari total 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang kini resmi berstatus Awas Bencana Kekeringan.
Status Awas ini ditetapkan untuk wilayah yang berpotensi mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari berturut-turut dengan intensitas curah hujan yang sangat rendah.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menjelaskan bahwa penetapan status awas di 25 kecamatan tersebut merujuk pada peringatan dini bencana kekeringan yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Dasarian II September 2026—yakni periode 11 hingga 20 September 2026—hingga 60 hari ke depan.
Adapun 25 wilayah kecamatan yang memasuki status Awas Kekeringan meliputi Balaraja, Cikupa, Cisauk, Curug, Gunung Kaler, Jambe, Jayanti, Kelapa Dua, Kresek, Kronjo, Kosambi, Legok, Mauk, Mekar Baru, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan Timur, Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga, dan Tigaraksa.
Baca Juga: Pelajar SMAN 6 Kabupaten Tangerang Antusias Ikuti Jam Sosial Mengajar FIFGROUP
“Hampir seluruhnya itu. Karena ada hujan pun hanya gerimis kecil ya, paling sekitaran Tigaraksa gitu. Tapi kan malah itu yang terbanyak jumlah kebakarannya,” ujar Taufik.
Dampak krisis air ini dirasakan langsung oleh ribuan warga. BPBD mendata ada 73 desa/kelurahan di 25 kecamatan yang terdampak kekeringan sepanjang periode 1 Juli hingga 12 September 2026. Secara keseluruhan, sebanyak 62.076 jiwa dari 23.430 Kepala Keluarga (KK) terpaksa berjuang mendapatkan air bersih.
Guna meringankan krisis tersebut, BPBD Kabupaten Tangerang telah menggelontorkan bantuan pendistribusian air bersih sebanyak 330 kali pengiriman ke 178 titik terdampak.
Kendati situasi mengkhawatirkan, Taufik mengklaim bahwa bencana kekeringan saat ini masih sanggup ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Oleh karena itu, pihaknya belum memandang perlu untuk menaikkan status menjadi Siaga Bencana Kekeringan.
“Untuk kebakaran dan suplai air itu seluruhnya bisa kita layani bersama, terutama suplai air ya bisa dibantu oleh PDAM, PMI, bahkan pihak swasta. Apabila kekeringan ini terus-menerus kemudian meluas, baru kita akan lakukan siaga bencana,” pungkasnya. (alfian/aditya)
















