SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Aris Marsudiyanto mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) untuk mengambil peran sebagai mitra strategis serta melakukan kontrol sosial dalam mengawal pembangunan dan kebijakan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Aris saat menjadi pembicara dalam kegiatan Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) UMJ 2026 yang mengusung tema Pemuda Berdaulat, Indonesia Maju yang berlangsung di Auditorium KH. Ahmad Azhar Basyir UMJ, Jalan KH. Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat Timur, Rabu (23/9).
Di hadapan mahasiswa baru, Aris menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi untuk melanjutkan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Mahasiswa baru itu adalah tunas bangsa yang akan melanjutkan proses pembangunan. Ini sangat penting ya untuk pembangunan sumber daya manusia. Karena apa, kita harus fokus terhadap pembangunan sumber daya manusia supaya bisa mengejar ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi hal penting agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, termasuk dalam penguasaan teknologi dan industri. Ia mencontohkan kemampuan suatu bangsa dalam menciptakan berbagai produk teknologi, seperti pesawat, satelit, mobil, hingga laptop, sebagai bagian dari tantangan pembangunan sumber daya manusia.
“Saya berikan bekal ya kepada tunas bangsa ini supaya menjadi sumber daya manusia ya yang bisa untuk melanjutkan pembangunan, menyongsong Indonesia 2045 menjadi Indonesia Emas ya,” katanya.
Baca Juga: Polsek Ciputat Timur Tangkap Pencuri Sepeda Motor di Parkiran UMJ
Aris juga menjelaskan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Mahasiswa, menurutnya, dapat mengambil bagian melalui fungsi intelektual dan kontrol sosial.
Ia mengatakan Bappisus memiliki tugas melakukan pengendalian dan pengawasan agar pembangunan berjalan sesuai sasaran serta program pemerintah dapat memberikan hasil sebagaimana yang direncanakan.
“Bagaimana kita mengawasi pembangunan-pembangunan itu berjalan dengan baik, sampai sasaran, tidak ada yang korupsi, tidak dimanipulasi,” katanya.
Menurut Aris, mahasiswa dapat berkontribusi dengan mencermati pelaksanaan program pembangunan dan menyampaikan berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan melalui cara-cara yang konstruktif dan berbasis kajian.
Aris menyatakan terbuka terhadap masukan dari kalangan perguruan tinggi maupun mahasiswa terkait persoalan pembangunan di berbagai daerah. Ia mengungkapkan, beberapa bulan sebelumnya Bappisus telah mengundang 20 rektor perguruan tinggi negeri untuk berdiskusi mengenai pembangunan nasional.
Menurut Aris, para rektor kemudian mengusulkan agar forum tersebut dapat dilakukan secara berkala. Dari forum itu, perguruan tinggi dapat menghimpun berbagai proposal dan masukan untuk disampaikan kepada pemerintah.
Baca Juga: Breaking News! Mahasiswa Buang Sampah Dua Truk di Kantor Wali Kota Tangsel
“Para rektor mengumpulkan proposal-proposal yang akan diberikan saran-saran masukan kepada pemerintah untuk pembangunan. Itulah cara-cara yang akademis ya, yang kita harapkan seperti itu ya, jadi tidak dilampiaskan dengan cara-cara yang di luar cara- cara akademis ya, itu jadi seorang intelektual harus berdasar konsep ya,” jelasnya.
Aris menilai penyampaian aspirasi melalui kajian akademis merupakan salah satu bentuk kontribusi intelektual yang dapat dilakukan mahasiswa dan perguruan tinggi.
Ia mendorong mahasiswa untuk menuangkan gagasan, temuan, maupun rekomendasi dalam bentuk konsep dan kertas kerja yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan maupun evaluasi kebijakan pembangunan. (eko)















