SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Pasar Gintung Pusat Oleh-oleh Tangerang Selatan (Tangsel) yang berlokasi di Jalan Ir. Juanda, Kecamatan Ciputat masih menghadapi tantangan untuk menarik minat pengunjung. Meski seluruh kios yang tersedia telah terisi, aktivitas perdagangan dinilai belum begitu ramai.
Koordinator Pasar Gintung, Nasolihin mengatakan saat ini terdapat sekitar 20 kios di Pasar Gintung dan seluruhnya telah ditempati pelaku usaha. Beragam produk ditawarkan, mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan yang dikelola oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Tangerang Selatan.
“Pasar Gintung saat ini dengan ketersediaan kiosnya sekitar 20, terisi semua,” ujarnya saat dijumpai, Senin (12/10).
Menurutnya, aktivitas perdagangan berlangsung setiap hari. Namun, jumlah pengunjung yang datang belum sesuai harapan.
“Aktivitas setiap harinya tetapi kurang begitu ramai,” katanya.
Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi karakter Pasar Gintung yang berbeda dengan pasar tradisional pada umumnya.
Baca Juga: Layanan SIM Keliling Tangsel Selasa 13 Oktober 2026, Cek Lokasinya
“Faktornya tidak seperti pasar-pasar tradisional lainnya, pasar tradisional untuk kebutuhan sehari-hari ada, apa yang dibutuhkan masyarakat ada. Kalau di pasar Gintung ini hanya kuliner,” ucapnya.
Selain kuliner dan kerajinan, keberadaan produk oleh-oleh yang memiliki ciri khas daerah juga dinilai penting untuk menarik minat pengunjung. Namun, menurut Nasolihin, Pasar Gintung saat ini belum memiliki produk oleh-oleh khas yang dapat menjadi daya tarik utama. Ia mengungkapkan, sebelumnya sempat ada produk oleh-oleh yang dipasarkan di lokasi tersebut. Akan tetapi, karena minimnya peminat, produk itu akhirnya ditarik kembali.
“Kalau oleh-oleh itu kan kita sudah tidak ada lagi, ciri khas juga tidak ada, dulu pernah disediakan karena tidak ada peminatnya jadi ditarik barangnya, jadi tidak ada ciri khasnya untuk memberikan data tarik pengunjung,” ucapnya.
Dari sisi biaya operasional, tarif retribusi kios berkisar Rp180 ribu hingga Rp240 ribu per bulan. Besaran tarif tersebut disesuaikan dengan ukuran dan luas kios, serta sudah mencakup biaya yang ditetapkan pengelola.
“Kios beda ukuran, besar dan kecil. Retribusi per bulan 180 ada yang 240 ribu itu sudah mencakup semuanya tergantung ukuran luas,” ucapnya.
Sementara itu, Pasar Gintung beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Meski belum memiliki agenda kegiatan rutin, kawasan tersebut sesekali dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas. Salah satunya adalah kegiatan sanggar tari yang biasanya berlangsung setiap Sabtu.
Baca Juga: Maling Gasak Mobil, Motor hingga Tiga HP di Pondok Aren
Ke depan, terdapat rencana renovasi atau perawatan fasilitas Pasar Gintung. Namun, Nasolihin menyebut rencana tersebut masih belum dipastikan waktu pelaksanaannya. Ia berharap, keberadaan Pasar Gintung dapat terus berkembang sebagai wadah bagi UMKM lokal untuk memasarkan produk mereka.
Upaya meningkatkan daya tarik kawasan, termasuk menghadirkan produk unggulan yang memiliki ciri khas, menjadi salah satu hal yang dapat dipertimbangkan agar pasar tersebut semakin dikenal masyarakat.
Dengan kios yang telah terisi penuh oleh pelaku UMKM lokal, tantangan Pasar Gintung saat ini bukan sekadar menyediakan tempat berjualan, melainkan juga membangun daya tarik agar semakin banyak masyarakat tertarik datang dan berbelanja.
Pantauan di lokasi, persentase kios yang tutup cukup banyak. Namun, pengurus pasar berdalih UMKM yang mengisi tengah libur berjualan. Dari segi letak, lokasi itu cukup stategis berdempetan dengan jalan utama yang menjadi penghubung Tangerang Selatan dengan Jakarta.
Untuk fasilitas, salah satunya kantong parkir yang tersedia cukup luas bahkan untuk beberapa kendaraan roda empat. Dari beberapa kios yang buka, tidak mencirikan produk khas kota berjuluk anggrek. (eko)

















