SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG—Meski zaman sudah masuk modernisasi atau era digital, ternyata tak mematikan tradisi yang diwariskan nenek moyang pada momentum peringatan 10 Muharram 1442 Hijriyah. Hampir di seluruh wilayah khususnya di Kabupaten Pandeglang, masih memegang teguh tradisi pada 10 Muharram, yaitu membuat atau memasak bubur asyura yang lazimnya masyarakat menyebut ngebubur suro. Selain itu, tradisi juga dibarengi dengan santunan bagi anak-anak yatim.
Salah satu wilayah yang memperingati itu yakni di wilayah perkotaan Kabupaten Pandeglang, atau tak jauh dari pusat Pemerintahan Daerah (Pemda) Pandeglang, tepatnya di Kampung Kadu Gajah RT/RW 01/08, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang.
Salah seorang warga, Unah mengatakan, walau zaman sudah modern dan kondisi sedang dilanda pandemi Covid-19, dia bersama warga lainnya masih tetap melestarikan tradisi warisan nenek moyang yang mengajarkan kebaikan itu.
“Ya, memang sekarang zaman modern dan era digital. Kami warga Kampung Kadu Gajah tetap melestarikan ngebubur suro ini. Walaupun juga kami tinggal di wilayah perkotaan tidak menghalangi kami untuk saling berbagi dan bersilaturahmi melalui kegiatan itu,” kata Unah, Sabtu (29/8).
Wanita berkerudung ini mengungkapkan, biaya untuk memasak bubur suro itu hasil dari gotong royong warga Kadu Gajah RT 01. Iuran yang dilakukan itu, katanya bukan hanya berbentuk uang saja. Namun ada juga yang menyumbang beras dan lainnya.
“Alhamdulillah, budaya gotong royong di kampung kami masih kuat. Jadi dana membuat bubur suro itu hasil dari iuran warga, ada yang menyumbang berupa uang dan ada juga berupa beras serta alat masak,” jelas istri Ketua RT 01 ini.
Pihaknya berharap kegiatan pada momentum 10 Muharram tak mati ditelan zaman. “Mudah-mudahan kegiatan membuat bubur suro ini tetap dilestarikan hingga terus turun menurun,” tandasnya.
Ketua RT 01 Kadugajah, Ahmad Toni mengatakan, kegiatan itu murni inisiasi masyarakatnya. Dia selaku ketua RT mengaku sangat mendukung penuh kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, warga saya sangat kompak dalam hal apapun baik itu gotong royong maupun kegiatan bubur suro yang saat ini dilaksanakan. Tentu saya selaku RT bangga dan sangat mendukung kegiatan itu. Apalagi itu demi kembaikan bersama,” katanya.
Menurutnya, peringatan 10 Muharram tahun ini ada perbedaan dengan tahun kemarin. Karena di masa Covid-19, warga telah menerapkan protokol kesehatan baik mengurangi kerumunan maupun mengenakan masker.
“Kami mengikuti protokol kesehatan seperti yang biasanya tidak pakai masker. Kali ini kami pakai masker, biasanya di dapur umum sekarang di lapangan terbuka dan biasanya lebih dari 30 orang ini hanya 10 orang,” pungkasnya. (nipal/aditya)