SATELITNEWS.ID, LEBAK–Ade Bemo (60) warga Kampung Bojongcae, Desa Bojongcae, Kecamatan Cibadak, tak pernah surut untuk terus memproduksi atap yang terbuat dari daun rumbia. Dari usaha itu pula, dia ikut memperkerjakan tetangganya.
Sayangnya tak banyak kini yang bisa diharapkan, selain mengadu peruntungan. Pandemi Covid-19 yang tak pasti kapan ujungnya membuat omzetnya merosot hingga mencapai 50 persen.
Padahal, kelihaiannya membuat atap dari daun rumbia sebagai pengganti genting patut diapresiasi. Sebab dari tahun 1982 sampai sekarang, hasil kerajinannya selalu diburu pelanggan. Tidak hanya itu, kepiawaiannya menganyam daun tersebut boleh dibilang membuatnya menjadi orang sukses. Buktinya, pria yang biasa disapa akrab Ade Bemo ini sudah memiliki sebanyak 15 karyawan yang tak lain warga setempat yang merupakan ibu rumah tangga.
Seiringnya berjalan waktu, kemaujan teknologi rupanya membuat usaha yang ditekuni sudah sejak dia tekuni 38 tahun tersebut tersisih. Hal itu membuat Ade harus berpikir ekstra. “Menurunnya cukup lumayan, omzet saya biasanya setelah gaji karyawan itu tidak kurang Rp 1 juta atau paling kecil Rp 800 ribu. Saat ini dapatnya kecil ya Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu,” kata Ade Bemo, kemarin.
Ade menjelaskan, saat ini atap yang terbuat dari anyaman daun rumbia tersebut hanya diminati pondok pesantren atau masyarakat yang akan membuat gazebo. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya peminat sebagai atap rumah khususnya di daerah pelosok. “Harganya saat ini hanya Rp 2.500 perlembar, nggak mahal padahal, tapi peminatnya berkurang,” katanya.
Ade yang kini memiliki lima anak, akan berusaha keras agar usaha yang dirintasnya sejak tahun 1982 tersebut bisa terus berjalan, walaupun saat ini bahan untuk membuat atap tersebut harus beli di petani lainnya. Terlebih bagaimana caranya ia bisa membantu meningkatkan roda perekonomian warga setempat. “Alhamdulilah, ada 15 karyawan. Semuanya mayoritas ibu-ibu yang dibantu anaknya. Upahnya dengan sistem bagi hasil dari perlembar itu,” terang Ade.
Baca Juga: Pendataan Sensus Ekonomi di Tangerang Selatan Hampir Tuntas
Di sisi lain, pelaku usaha yang kini sedang sibuk mengambil bantuan uang BPUM pemerintah sebesar Rp 2,4 juta, ia hanya bisa tersenyum dengan raut sedih. Ade bukan tidak mau bantuan tersebut, akan tetapi rejeki yang membawa dirinya belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Mengajukan sudah, ya mungkin rezekinya belum ada. Ya berharap bisa mendapatkan seperti warga lainnya. Kalau BST iya dapat ini kan lain. Uang ini untuk modal usaha,” kata Ade.
Seorang pekerja pembuat Atap dari daun rumbia, Minah mengaku, rasa syukurnya diberikan kesempatan oleh Ade untuk membantu membuat atap dari daun r umbia. “Kalau upah mah nggak banyak, tapi alhamdulilah setidaknya untuk jajan anak ada,” kata singkatnya. (mulyana/made)
























