SATELITNEWS.ID, PONDOK AREN—Penjualan terompet di masa pandemi Covid-19 ini menurun drastis. Bahkan produksi produk yang kerap meramaikan malam tahun baru itupun lesu.
Pantauan di “Kampung Terompet” di Gang Keluarga, Jalan Raya Ceger, Kelurahan Jurangmangu Barat, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak terlihat lagi aktifitas warga yang memproduksi terompet.
Keriuhan pedagang berjualan terompet menjelang tahun baru di Gang Keluarga, Jalan Raya Ceger, Kelurahan Jurangmangu Barat, kini tinggal kenangan. Kawasan yang dikenal luas sebagai ‘Kampung Terompet’ ini telah menanggalkan tradisi memproduksi terompet pada pengujung akhir tahun, setidaknya dalam empat tahun belakangan.
Seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, hanya tinggal seorang perajin yang masih memproduksi terompet. Namun, produksinya hanya dalam jumlah kecil.
Haris nama perajin terompet satu-satunya yang tersisa. Ketika ditemui di rumahnya, Haris mengaku, tidak lagi berjualan terompet. “Udah enggak. Empat atau lima tahun sudah (penjualan terompet lesu). Ya tahu sendiri lah (faktornya apa),” ujar Haris singkat.
Pengamatan di kediamannya, terlihat puluhan terompet teronggok di depan teras rumah. Dari luar rumah, terlihat pula ada sejumlah terompet yang digantung di dinding rumahnya. Terompet berdesain warna-warni tersebut merupakan stok sisa tahun-tahun sebelumnya yang tidak terjual.
Baca Juga: MBG Disetop Sementara, Dimulai Lagi 23 Februari
Haris mengaku, telah beralih pekerjaan dengan membuka ruko di kampung halamanya di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dalam beberapa tahun ke belakang. Dia menjelaskan, kehadirannya di ‘Kampung Terompet’ dilakukan sesekali untuk mengunjungi anak dan cucunya. Dia sendiri mengaku sudah tidak lagi memiliki urusan berjualan terompet. “Enggak, enggak (memproduksi) lagi,” kata Haris sambil berusaha mengakhiri pembicaraan.
Tak jauh dari rumah Haris, seorang warga yang pernah menjadi perajin terompet, Parmi (42) mengaku, bersama dengan suaminya pernah mengambil peruntungan dari berjualan terompet. Namun, semenjak diterpa beberapa isu, penjualan terompet tak lagi menjadi pilihan masyarakat yang ingin menyambut pergantian tahun.
Salah satu faktornya, sambung dia, isu sentimen meniup terompet dianggap sebagai tradisi di luar Islam. Di samping itu, sambung dia, juga karena semakin banyak terompet di pasaran tidak hanya yang terbuat dari kertas.
Parmi menuturkan, pendapatan dari memproduksi dan berjualan terompet dulunya sangat menggiurkan. Dia bisa meraup hingga puluhan juta rupiah, dengan hanya berjualan selama sepekan pada momen Natal hingga tahun baru. “Tahun kapan itu cuma dapat Rp200 ribu doang, biasanya jutaan, puluhan juta. Ada yang sampai Rp50 juta. Sekarang sudah mati, enggak laku, enggak ada minat,” kata Parmi.
Ketua RT Gang Keluarga, Abdul Aziz menyampaikan, warga di lingkungannya telah menyuplai terompet selama puluhan tahun. Hal itu pula yang membuat muncul sebutan ‘Kampung Terompet’ atau ‘Gang Terompet’. Di setiap rumah warga, kata dia, bertahun-tahun penuh dengan aktivitas pembuatan terompet, bahkan proses produksi meluber hingga di teras-teras rumah.
“Dulu mah penjualannya masya Allah laris bener, yang ngambil itu dari (daerah) mana-mana. Hampir semua warga (jualan terompet), dari depan (gang) ke belakang,” ucap Azis.
Baca Juga: Bupati Tangerang dan Musisi Jalanan Galang Dana untuk Sumatera
Dia mencatat, ada sekitar 30 orang yang memproduksi terompet pada saat masa jayanya. Puluhan prajin itu memiliki sejumlah karyawan yang diperbantukan untuk menjalankan produksi. Omzet mereka tak tanggung-tanggung, yakni ada yang sampai ratusan juta rupiah. “Buset bisa kebeli mobil. Bisa mah (untung besar).”
Namun, lagi-lagi, semua itu tinggal kenangan. Usaha terompet di wilayahnya telah mati dalam beberapa tahun belakangan. Azis menganalisis, penjualan terompet tradisional kalah bersaing dengan jenis terompet produksi pabrik. (jarkasih)
























