SATELITNEWS.ID, LEBAK–Bencana longsor yang menerjang Kabupaten Lebak pada 1 Januari 2020 lalu masih terekam jelas di benak warga terdampak. Setelah hampir setahun bertahan di hunian sementara (Huntara), mereka mulai bangkit. Para korban longsor menggarap lahan pertanian untuk bertahan hidup. Bagaimana kisahnya?
Minimnya perhatian Pemerintah Kabupaten Lebak membuat warga terdampak longsor setahun silam harus mandiri. Terutama, dalam bertahan hidup. Setahun berlalu, para pengungsi yang masih bertahan di Huntara ini mulai mencari cara agar dapur mereka tetap ngebul. Sehingga, tak melulu mengharapkan bantuan donasi.
Seperti yang dilakukan oleh warga Desa Banjarsari, Kampung Cigobang, Kecamatan Lebak Gedong. Sudah tiga bulan ini para pengungsi menggarap pertanian. Lahan yang sebelumnya tertimbun tanah akibat longsor mereka tata kembali.
Lahan yang luas tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menanam beraneka ragam sayur seperti sawi, tomat, cabai, padi. Mereka juga membudidayakan lele. Hasil panen dijual ke pasar. Sebagian lagi mereka konsumsi sendiri.
“Dijual ke pasar Jograk (Pasar di Kampung Cigobang). Alhamdulilah dari sini (hasil pertanian) kita bisa punya pemasukan,” ujar salah satu warga, Suki kepada Satelit News, Sabtu, (2/1) saat ia tengah menggarap lahannya.
Suki bercerita sebelum menggarap para warga hanya mengandalkan bantuan dari donasi. Memang tak semua warga, karena sebagian ada yang masih bekerja. Ada pula penghasilan warga penghasilan dari warung kecil-kecilan yang mereka dirikan di depan Huntaranya.
Baca Juga: Ribuan Hektare Sawah di Banten Terdampak Kekeringan, 223 Ha Puso
“Jadi memang sebagian warga ada yang dapat bantuan 500 ribu tapi nggak semuanya. Jadi bikin warung,” ujarnya.
Pertanian yang warga garap ini kata Suki merupakan inisiatif dari Riman Wahyudi, seorang yang sudah setahun menjadi relawan bagi warga terdampak longsor di Kabupaten Lebak. Pria asal DKI Jakarta ini menggerakkan warga untuk menggarap lahan pertanian.
“Sudah 3 bulan ini kita garap pertanian dan sudah beberapa kali panen. Cuma kalau padi memang belum,” tutur Suki.
Riman Wahyudi mengatakan dirinya melakukan ini demi keberlangsungan hidup dan kemandirian para warga. Ketimbang harus mengharapkan bantuan. Mulanya dia membawa bibit sayur yang dibeli dari Jakarta dengan kocek pribadi.
“Saya beli bibit sampai 10 Juta rupiah. Semuanya premium. Ini untuk ketahanan pangan mereka. Hasilnya bisa mereka jual dan dimakan sendiri,” katanya.
Riman mengungkapkan semula memang sulit untuk menggerakkan warga lantaran sudah terbiasa dengan bantuan donasi. Namun, perlahan tapi pasti dia berusaha membujuk warga agar bisa keluar dari keterpurukan ini.
Baca Juga: Sudah Bertemu Kadin, Mentan Siap Distribusikan Benih dan Bibit Unggul
“Paling susah memang menangani karakteristik warga. Ada yang keras kepala, malas dan iri. Tapi lama-lama luluh juga,” katanya.
Dikatakan Wahyu, memang ide ini bermula ketika perhatian Pemerintah setempat sangat minim. Kemudian, donasi yang didapat kian sedikit tak seperti awal bencana. Sementara kebutuhan warga terus-menerus tinggi.
“Peran pemerintah sangat minim. Donasi semakin sidikit yang tersalurkan. Saya pikir membuat ketahanan pangan ini bisa dan buktinya sudah. Mereka sudah beberapa kali panen,” ujarnya.
Kini, mereka bahu-membantu kembali menciptakan kehidupan baru pasca longsor yang telah meluluhlantakkan wilayahnya. Setahun telah berlalu, namun demikian kata Wahyu dia masih tidak habis pikir dengan pemerintah setempat yang nampak acuh.
“Contoh saja, listrik kita bayar sendiri. Sementara warga di Cileuksa (Kabupaten Bogor) yang di Huntara gratis,” kata Wahyu.
Kemudian, janji Pemerintah yang ingin memberikan rumah bagi warga Lebak yang terdampak longsor. Sampai saat ini, mereka belum dapatkan dan masih bertahan di Huntara.
“Katanya anggaran dirasionalisasi untuk Covid-19. Tapi belum lama ini kita ketemu dengan DPRD Banten membicarakan soal nasib warga. Janjinya mereka akan diberikan rumah tinggal di wilayah Kabupaten Lebak,” kata Wahyu.
Dia mengatakan saat ini ada sekitar 600 Kepala Keluarga yang masih bertahan di Huntara. Mereka terdiri dari warga di 5 Kecamatan yakni Lebak Gedong Cipanas, Sajira, dan Curug Bitung.
Menyedihkan memang, terlebih lokasi yang mereka huni saat ini terjal. Untuk menjangkau ke lokasi tersebut aksesnya cukup sulit apalagi saat diguyur hujan. Akses jalan menjadi licin sehingga harus kendaraan khusus untuk dapat dijangkau. Meski demikian, tidak nampak rona kesedihan yang terpancar. Mereka tetap bahagia untuk melanjutkan hidupnya dari awal. (irfan/gatot)
























