SATELITNEWS.ID, SERANG–Warga Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, mengaku ‘sumeh’ divaksin. Meskipun kemarin (Kamis,14/1,red) perdana dilakukan vaksinasi kepada seluruh pimpinan daerah se Provinsi Banten, di Kabupaten Tangerang.
“Jangan lah (divaksin), kita mau melihat orang lain dulu divaksin bagaimana reaksinya. Kalau ke kitanya tidak enak mah seperti yang di pemberitaan baik di koran maupun di televisi, kita juga agak takut,” ungkap salah satu pedagang di Pasar Baros, Kabupaten Serang, Hendra, Kamis (14/1).
Meskipun kegiatan sehari-hari di pasar, ia mengaku tidak begitu merasa takut akan terjangkit virus Covid-19. Sebab, ia mengaku sudah menerapkan protokol kesehatan, begitupun dengan para pedagang lainnya yang menempati pasar tersebut.
“InsyaAllah kalau kita yakin dan menjaga diri dengan menerapkan 3 M, dengan cara itu kita bisa (terhindar) dengan baik,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa secara berkala, satuan gugus tugas (Satgas) dalam hal ini pihak kepolisian sektor Baros, patroli di pasar dan mengimbau seluruh pedagang agar selalu menerapkan protokol kesehatan. Hendra juga mengaku, apabila memang diwajibkan untuk menerima vaksin, maka ia akan melihat darimana vaksin itu berasal dan bagaimana tanggapan masyarakat, apakah menerima atau menolak.
“Tergantung bagaimana vaksinnya, lihat saja nanti reaksi masyarakat. Kalau semuanya mau, ya kita juga ngikut saja, tidak akan sembunyi-sembunyi,” tandasnya.
Baca Juga: Jelang Arus Mudik, Puskesmas Se-Kota Tangerang Kembali Gencarkan Vaksinasi Covid-19
Pedagang lainnya asal Desa Baros, Maksum mengaku bahwa, bila vaksinasi ini dapat membawa kemaslahata, ia mau menerima. Namun ia mengaku memiliki kekhawatiran terkait vaksin yang dipilih oleh Pemerintah ini membuat masyarakat menjadi ‘sakit’ dan bukan lagi menangkal virus korona.
“Kalau untuk kebaikan ya tidak apa-apa, tapi kalau hanya untuk menguntungkan perusahaan vaksin, bukannya tambah sehat malah jadi sakit, ya buat apa,” tegasnya.
Ia mengaku, masih mempertanyakan terkait uji klinis vaksin yang dipilih oleh Pemerintah. Karena ia sendiri masih meragukan kemanjuran dari vaksin tersebut.
“Katanya doang (pimpinan divaksin), yang ditakutkan masyarakat, setelah divaksin bukannya menjadi sehat tapi malah sakit, seperti halnya di Jawa. Kabarnya, bukan sehat malah K O (meninggal dunia),” ucapnya.
Ia menyebut vaksinasi untuk kepala daerah masih tanda kutip bahwa mereka sudah divaksin. Sebab, dirinya belum melihat bukti para pimpinan divaksin seperti halnya penyuntikan Presiden Joko Widodo, yang disiarkan secara langsung.
“Masih ‘katanya’ kan. Kita kan belum tahu benar atau tidak mereka divaksin. Cuman katanya,” tutur Maksum.
Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 Booster Bakal Dikenai Biaya Rp 100 Ribu
Apabila memang masyarakat diwajibkan menerima vaksin, ia menginginkan pembuktian terlebih dahulu apa benar setelah divaksin akan sehat, tidak bikin sakit.
“Katanya Walikota serta Bupati sudah divaksin, melihat tidak waktu disuntiknya,” ujarnya seraya tertawa. (muf/bnn)
























