SATELITNEWS.ID, JAKARTA—Kasus Covid-19 dalam sehari bertambah 11.788 pada Minggu (24/1), berdasarkan data dari Satgas Penanganan Covid-19. Kini total sudah 989.262 orang terinfeksi Covid-19.
Jumlah kasus harian terdeteksi dari hasil pemeriksaan 48.002 spesimen. Sebanyak 35.456 orang dites dalam sehari. Positivity rate naik menjadi 16,9 persen dari sebelumnya 16,6 persen.
Jumlah orang berstatus suspek sebanyak 80.114 orang. Pasien suspek, adalah orang yang mengalami keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Dan kelompok orang yang dalam 14 hari terakhir sebelum timbulnya gejala, pernah punya riwayat melaksanakan perjalanan atau tinggal di suatu daerah di mana dilaporkan transmisi lokal terjadi.
Lalu, pasien suspek juga memiliki gejala ISPA yang jika dalam 14 hari sebelum muncul, memiliki kontak erat dengan kasus konfirmasi positif atau probable. Serta, kelompok orang dengan ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan layanan di RS dan tak ada penyebab lain yang jelas.
Sebaran kasus positif Covid-19 harian paling banyak terdapat di DKI Jakarta 3.512 kasus. Jawa Barat 2.328 kasus. Jawa Tengah 1.515 kasus. Jawa Timur 901 kasus. Kalimantan Timur 432 kasus.
Angka kematian harian bertambah 171 jiwa. Kematian harian paling banyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 56 jiwa. Sudah 27.835 jiwa meninggal dunia akibat Covid-19.
Pasien sembuh bertambah 7.751 orang dalam sehari. Paling banyak pasien sembuh terdapat di DKI Jakarta sebanyak 2.328 kasus sehari. Sudah 798.810 orang sembuh dari Covid-19.
Sudah 510 kabupaten kota terdampak Covid-19. Ada 2 provinsi di bawah 10 kasus sehari. Dan tak ada satupun provinsi dengan nol kasus Covid-19 harian.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sudah 172.901 orang telah mengakses guna mendapatkan vaksinasi Covid-19 di 13.525 fasilitas pelayanan kesehatan yang ada pada 92 kabupaten/kota di 34 provinsi. Bahkan, jumlah tenaga kesehatan yang telah divaksinasi Covid-19 bertambah menjadi 40 ribu hingga Sabtu (23/1).
“Proses vaksinasi ini akan terus berjalan kepada seluruh tenaga kesehatan yang diharapkan hingga Februari kami bisa mencapai target 1,4 juta tenaga kesehatan divaksinasi Covid-19,” kata juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi dalam keterangannya, Minggu (24/1).
Nadia menyampaikan, jika terdapat tenaga kesehatan yang belum terdaftar di tahap pertama, maka akan masuk pada kelompok tahap kedua. Sementara itu, kurang lebih 27 ribu tenaga kesehatan yang ditunda vaksinasi Covid-19. Hal itu dikarenakan kondisi tenaga kesehatan yang masuk ke dalam pengecualian penerima vaksin Covid-19.
“Pengecualian tersebut dikarenakan tenaga kesehatan sedang dalam kondisi menyusui, penyintas Covid-19, dan paling banyak itu karena hipertensi yang pada waktu diukur tekanan darahnya lebih dari 140/90,” ujar Nadia.
Nadia memastikan, hingga kini tidak ada laporan dari dinas kesehatan provinsi adanya penolakan vaksin oleh tenaga kesehatan. Melainkan hanya ada penundaan vaksinasi.
“Adanya juga tenaga kesehatan ingin sekali mendapatkan vaksin tetapi karena tertunda jadi terhalang,” ujar Nadia.
Nadia menekankan, vaksinasi Covid-19 merupakan hal penting yang diberikan kepada para tenaga medis. Hal ini dilakukan guna mengurangi tingkat keparahan bahkan kematian akibat Covid-19.
“Kita sudah mengetahui bersama bahwa sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan yang sudah meninggal dan ini merupakan kehilangan yang besar bagi bangsa Indonesia sehingga marilah kita putuskan mata rantai penyebaran COVID-19,” pungkas Nadia.
Masih terkait vaksinasi, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) membuka opsi vaksinasi Covid-19 mandiri. Opsi tersebut muncul atas usulan para pengusaha di Tanah Air. Dengan mekanisme itu, biaya vaksinasi akan ditanggung oleh perusahaan.
Pemerintah tentunya menyambut baik hal ini, lantaran dinilai dapat mempercepat penanganan pandemi Covid-19. Pemerintah pun akan menyiapkan regulasi tentang vaksinasi mandiri Covid-19 itu.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa wacana vaksinasi Covid-19 mandiri sangat memungkinkan untuk dilakukan.
’’Artinya bisa saja setelah vaksin tenaga kesehatan dan tenaga pelayan publik selesai maka dalam waktu itu mungkin vaksin mandiri sangat dimungkinkan,’’ ungkap Muhadjir.
Muhadjir menjelaskan vaksinasi mandiri yang di maksud adalah vaksinasi yang dilakukan perusahaan atau korporasi kepada karyawannya dan vaksinasi secara indivdual. Khususnya untuk korporasi, kata Muhadjir, paling penting dan utama untuk segera dilakukan agar memulihkan perputaran roda ekonomi.
’’Ini sangat penting terutama untuk korporasi agar segera bergerak berproduksi. Sehingga keamanan dari produk produksi karena karyawannya sudah divaksin, keluarganya sudah divaksin, itu akan lebih nyaman tentram lebih merasa tenang dalam berproduksi roda ekonomi bisa secepatnya ikut berputar,’’ terangnya.
Apabila vaksinasi mandiri tersebut dapat dilakukan, maka menurut Muhadjir, target percepatan vaksinasi di Indonesia yang dicanangkan Presiden yakni 1 juta orang per hari bisa terealisasi. ’’Karena itu kalau nanti pihak swasta itu dilibatkan baik korporasi maupun mungkin RS swasta yang kredibel bisa memberikan penawaran jasa individual saya kira itu akan lebih bagus mempercepat,’’ imbuhnya. (jpg/gatot)