SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Balai Besar Wilayah Sungai Cisadane-Ciliwung (BBWSCC) menyebut banjir yang terjadi di jembatan fly over Cibodas, jalan Gatot Subroto, Kota Tangerang disebabkan oleh penyempitan kali Sabi. Penyempitan tersebut salah satunya terjadi karena adanya klaster perumahan Cibodas.
Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan Rawa untuk BBWSCC Dadang M Yahya mengungkapkan penyempitan kali berdampak signifikan karena wilayah tersebut merupakan kawasan rendah. Menurut Dadang, topograpi kawasan yang meliputi Jalan Kalisabi, Taman Cibodas dan jalan Gatot Subroto itu masuk kawasan rendah. Relevansinya dengan kali Sabi pun sangat tipis.
“Jadi secara topograpi, ini daerah rendah dan relevansinya dengan sungai itu (Sabi) sangat tipis nah ketika air tinggi wilayah ini akan terjadi banjir,” ujarnya.
BBWSCC bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mencoba berbagai upaya untuk mengatasi banjir di wilayah tersebut. Namun, terhalang sejumlah kendala dengan konsekuensi masing-masing.
“Kemudian ini juga kita berandai-andai apabila kami melakukan normalisasi atau penanggulan ada konsekuensi juga bahwa jembatan yang ini harus dinaikkan karena ini akan membendung air sungai,” jelas Dadang.
Diketahui, hujan yang mengguyur wilayah Kota Tangerang menimbulkan banjir di wilayah sekitar jembatan Taman Cibodas. Banjir setinggi 50 hingga 100 centimeter sempat melumpuhkan lalu lintas.
“Kenaikan dari permukaan air sungai ini tidak hanya hujan lokal saja ini kemungkinan terjadi hulunya. Hulunya hujan deras kemudian juga mengalir ke sini,” kata Dadang.
Banjir yang terjadi sekira pukul 09.00 WIB itu berangsur-angsur surut. Pantauan Satelit News lalu lintas mulai kembali pulih. Untuk mempercepat surutnya banjir, Badan Pendanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mengoperasikan 2 mesin pompa air.
Salah satu warga, Muhammad Tomi, mengatakan banjir yang melanda di wilayahnya itu memang sudah terjadi sejak lama. Sehingga membuatnya harap-harap cemas tatkala hujan deras mengguyur Kota Tangerang.
“Memang gampang banjir. Hujan satu jam setengah saja di sini sudah banjir. Udah lama. Dulu saya kecil bisa satu sekali minggu banjirnya,” ungkapnya.
Warga pun kalang kabut saat banjir melanda. Pasalnya peristiwa ini membuat aktivitas warga terhambat. Tomi menjelaskan banjir ini meluas ke berbagai sudut.
“Kalau mau lurus (melintasi jalan Gatot Subroto) lewat flyover. Dari Cimone ke Jati aksesnya ketutup. Arah kiri ke pabrik, industri banjir sampe ke dalem sana, hampir sepanjang kali Sabi. Ke Utara agak tinggi jadi kemana-mana harus muter,” ujarnya.
Upaya yang dilakukan warga saat banjir tiba kata Tomi hanyalah menunggu sampai surut. “Di sana kan ada pintu air. Dari sungai Cisadane. Meluapnya dari Sabi ke Cisadane,” pungkasnya. (irfan/gatot)