SATELITNEWS.ID, SERANG–Dalam kepemimpinannya sebagai Bupati Serang di periode mendatang, Ratu Tatu Chasanah diminta memberikan perhatian lebih pada aspek lingkungan hidup. Karena Kabupaten Serang rawan bencana ekologi seperti, banjir, longsor dan pencemaran.
Semua hal itu, diharapkan dapat diperbaiki dengan menata dan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya lebih baik.
Hal itu disampaikan pegiat lingkungan hidup, Daddy Hartadi. Menurutnya, perhatian serius Bupati Serang terhadap lingkungan hidup, akan memberi jaminan kepastian terhadap SDA agar tidak rusak. Sekaligus memberi jaminan kepada rakyat, yang ekonominya rendah sadar pada pelestarian ekosistem SDA, agar dapat hidup berkelanjutan.
“Bupati Tatu bisa memberi porsi yang lebih besar terhadap lingkungan hidup. Sebagai bukti, tetap berpihak pada rakyat dengan memberi jaminan kelestarian sumber daya alam, dan menjaga ekonomi rakyat yang bersumber pada kelestarian ekosistem sumber daya alamnya. Maka tata kelolanya harus diperbaiki, termasuk sumber daya manusia dalam pengelolaan lingkungan hidup, juga harus diperbaiki. Agar selaras antara konsep dan implementasi,” kata Deddy, Senin (15/2).
Menurutnya, bupati juga bisa memberi pengawasan secara ketat terhadap kinerja anak buahnya di Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk membuat program konservasi. Baik konservasi perairan laut, maupun konservasi hutan dengan perencanaan yang baik.
Program tersebut tambahnya, tentunya harus dirumuskan oleh semua pemangku kepentingan, termasuk nelayan dan petani yang merupakan masyarakat terdampak atas rusaknya ekosistem perairan maupun hutan.
Baca Juga: Kirim Nakes ke NTT, PMI Banten Bawa 130 Kg Obat untuk Bantu Pengungsi
Ia juga juga mengingatkan, program konservasi harus memiliki output yang bisa dicapai minimal 90 persen, dengan melibatkan masyarakat terdampak sebagai basis konservasi. “Program konservasi harus dibangun dengan basis partisipasi masyarakat terdampak. Bupati dapat memberikan pengawasan ketat kepada anak buahnya, untuk mewujudkan output dari program konservasi itu agar tercapai minimal 90 persen,” tambahnya, seraya menyatakan, jika anak buahnya gagal copot saja, ganti dengan yang lebih baik yang memiliki kompetensi. (sidik/mardiana)
























