SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG–Walau sudah memasuki era modern, ternyata mainan lokal atau tradisional pada bulan Ramadan yakni bebeledogan, masih eksis dimainkan anak-anak millenial. Tampak anak-anak di Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, asyik memainkan bebeledogan sebagai hiburan ngabuburit.
Untuk diketahui, bebeledogan merupakan mainan yang terbuat dari bahan bambu dengan ukuran panjang 1,5 meter, diberikan lubang seukuran kurang lebih 5 Cm untuk memasukan minyak tanah, yang dimana nantinya disulut dengan menggunakan api sehingga menghasilkan suara ledakan yang lumayan dahsyat.
Salah seorang warga, Ari Sihabudin mengatakan, permainan bebeledogan kerap dijadikan salah satu permainan oleh anak-anak sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba. “Biasanya kalau sebelum buka puasa sambil ngabuburit gitu dan setelah salat tarawih selalu dimainkan,” kata Ari, Minggu (18/4).
Menurut Ari, jika suara ledakan yang dihasilkan ingin lebih keras, maka salah satu media yang dijadikan sebagai bahan untuk menghasilkan ledakan menggunakan karbit. Namun kata dia, jika memakai karbit maka memiliki resiko yang bisa membahayakan anak-anak. Pasalnya, daya ledakannya begitu keras daripada menggunakan bahan minyak tanah, sehingga dapat menyebabkan bambu menjadi pecah. Alhasil, pasti bakal melukai pemainnya.
Selain itu, bambu yang dijadikan sebagai meriam juga bisa saja diganti dengan pohon pepaya. Namun, memiliki potensi pecah saat ledakan yang dihasilkan lebih keras.
“Bisa pakai pohon pepaya juga, tapi itu bisa saja pecah karena kan tidak kuat. Dan bambu juga tidak asal bambu yang digunakannya. Kalau bambu yang masih umurnya muda itu suaranya tidak nyaring, jadi yang digunakan harus bambu yang betul-betul sudah tua,” tandasnya. (nipal/aditya)
Baca Juga: Produksi Dodol Betawi di Serpong Meningkat Tajam Jelang Idul Fitri
