SATELITNEWS.ID, CILEDUG—Menghadapi pandemi Covid-19 butuh kesabaran dan keuletan dalam menjalankan bisnis. Hal itulah yang dilakoni oleh Mujiyati (41), salah satu produsen keripik singkong dan pisang di Jalan Masjid 7a RT.002/007, Kelurahan Sudimara Timur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten. Meski omzet usahanya menurun, dia memilih tetap bertahan menjalankan usahanya.
Mujiyati mengungkapkan, kondisi pandemi saat ini, ditambah dengan kebijakan pemerintah dalam menanggulangi Covid-19 melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Dadurat, sangat berdampak terhadap omzet usaha yang sudah digelutinya selama hampir 5 tahun.
“Mengalami penurunan sebesar 45 persen. Biasanya, sebelum pandemi saya dapet Rp1,5 juta, tapi sekarang cuma Rp850 ribu,” ujarnya.
Lanjut Mujiyati, walaupun mengalami penurunan, dia masih tetap semangat. Lantaran setiap hari keripik singkong dan pisang yang dia titipkan di berbagai toko dan warung selalu habis terjual.
“Saya setiap hari keliling buat nganter ke warung-warung. Setelah itu nganter pesanan juga. Pas saya balik lagi ke warung tempat tadi ternyata sudah ludes kejual,” tuturnya.
Meski omzet menutun, Mujiyati bersyukur produknya masih digemari masyarakat. Terlebih menjelang Hari Raya Idul Adha ini, dia mengaku kewalahan karena banyaknya pesanan yang belum selesai.
Pihaknya mengaku dulu mempunyai pegawai, namun saat ini semua dikerjakan bersama dengan suami. “Kendala saat ini, sulitnya mencari pegawai yang gesit dan konsisten. Saya capek udah ganti pegawai terus. Saya juga lagi mikir gimana caranya cari pegawai yang seperti itu,” jelasnya.
Menurut Mujiyati, seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu berinovasi. Apalagi dengan banyaknya persaingan dan produk yang sama di berbagai tempat, terutama sebagai pelaku UMKM. “Saya mencoba inovasi agar pendapatan (bertambah) dan pilihannya banyak variasi (produk), serta untuk pembeli itu sih jadi lebih menarik,” tandasnya.
Perbedaan untuk keripik buatannya terletak pada bahan baku, yakni berkualitas baik tanpa pengawet, lebih renyah, dan memakai minyak berkualitas. “Semuanya alami karena tidak pakai pewarna, dan juga tahan lama kerenyahannya mencapai 3 bulan selama dikemas yang baik. Harganya pun bervariasi mulai dari 4 ribu rupiah hingga puluhan ribu rupiah,” kata ibu dari dua orang anak ini.
Sebelum menggeluti usaha ini, Mujiyati mengatakan, pada tahun 2017 awalnya hanya memproduksi keripik singkong. Pada saat itu, dia selalu mengalami kegagalan. Mulai dari kualitas yang tidak renyah, bumbu tidak merata dan lain sebagainya. Namun pihaknya tak pantang menyerah untuk terus mencoba kembali agar keripik singkong buatannya enak untuk dinikmati. Sehingga usaha dengan modal Rp47 juta ini bisa dikenal masyarakat dan banyak peminatnya. (neneng/aditya)