SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang Mulyadi menjadi saksi keributan Epa Emilia vs Jopie Amir. Saat itu, politisi Partai Golkar itu mengaku kebetulan ada di lokasi. “Kebetulan saya ada di situ,” ujar Mulyadi.
Mulyadi membenarkan adanya keributan di antara mereka. Saat keributan mereda, kedua belah pihak kemudian melakukan perdamaian. “Kondisinya betul terjadi keributan antar mereka dan memang ada upaya damai yang mereka usahakan saat itu setelah suasana ribut telah mereda,” jelasnya.
Mulyadi mengaku melerai mereka saat terjadi keributan. Namun saat disinggung lebih jauh Mulyadi mengaku tidak melihat secara langsung saat terjadinya tindak kekerasan. Dia ingin perannya sebagai saksi dalam kejadian itu dianulir dan digantikan orang lain dalam laporan kepolisian. “Saya kurang kuat karena tidak melihat saat terjadi kekerasan, saya tidak bersedia dan akan diganti dengan saksi yang lebih kuat,” katanya.
Sementara, anggota Komisi II DPRD Kota Tangerang Epa Emilia menjelaskan, masalah ini bermula ketika dirinya diperkenalkan dengan Jopie Amir yang mengaku sebagai pimpinan perusahaan properti PT Cahaya Langkisau. Dirinya kemudian menjalin kerjasama pemasangan interior rumah Epa senilai Rp 250 juta. Pengerjaan diperkirakan rampung dalam tiga bulan dari pembiayaan awal pada Februari 2021. Epa telah membayar 90 persen atau Rp 225 juta. “Jadi sisanya 25 juta dan 10 persen sebagai garansi jika pemasangam interior sudah selesai,” jelasnya.
Namun, hingga September interior itu tak kunjung dipasang. Kemudian dia menanyakan hal itu kepada pihak interior yang bekerjasama dengan Jopie yakni Alexander. Dari situ diketahui uang yang diberilan Jopie kepada Alexander baru sebesar Rp 125 juta. Saat itu Alexander menerangkan masih terdapat kekurangan pembayaran sebesar 90 juta.
Pada Minggu (19/09/2021), Epa mendatangi kediaman Jopie di kawasan Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari guna mempertanyakan hal itu. Jopie mengaku telah menyetorkan uang sebesar Rp 175 juta kepada Alexander. Namun, dia enggan menunjukkan bukti transfer. Dari situ terjadi perebutan HP antara Epa dan Jopie.
Baca Juga: Ribuan Ikan Mati di Situ Cangkring Tangerang, DLH Turun Tangan dan Larang Warga Konsumsi
Epa mengaku, tangannya dipelintir Jopie. Saat terjadi keributan itulah Pabuadi mencoba menyelamatkan Epa. Namun Pabuadi ditahan oleh rekan Jopie yang berjumlah tiga orang. Hal itu membuat Pabuadi mengeluarkan airsoft gun untuk memukul Jopie dan terjadi baku hantam.
“Lalu terjadilah baku hantam saat itu, saat itu lah Pauadi mengeluarkan airsoftgun yang dipukul secara reflek yang mengenai wajah Jopie Amir yang sedang melintir tangan saya,” katanya. Kemudian, Jopie Amir pun melepaskan pelintiran tangannya ke Epa. Mereka kemudian membuat surat damai yang ditandatangani kedua belah pihak. (irfan)
























