SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Wilayah RW 02, Kelurahan Neglasari salah satu dari 9 RW di Kota Tangerang yang menerima penghargaan kampung iklim kategori utama tingkat nasional. Lingkungan yang berada dekat Bandara Soekarno-Hatta ini berhasil menata lingkungan menjadi lebih hijau dengan KWT dan lorong anggur.
Ketua RW 02 Nisan mengatakan, warga aktif mengikuti berbagai program dan pembinaan yang diberikan oleh Pemkot Tangerang. Mulai dari PHBS, kampung tematik hingga kampung proklim. Keikutsertaan warga dalam mendukung program proklim didorong keinginan memiliki lingkungan yang hijau, asri dan bersih. Upaya ini dimulai dengan mengubah pola pikir (mindset) warga untuk bersama-sama menjaga lingkungan.
“Pertama sekali kami bersihkan tumpukan sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan. Saat itu hampir tiga mobil sampah berhasil dipindahkan,” katanya. Pria yang akrab disapa Coeng ini menuturkan, lahan-lahan kosong dan pekarangan warga mulai dihijaukan dengan berbagai tanaman. Salah satunya adalah tanaman anggur yang dinisiasi oleh ketua RT 04 Entis Sutisna.
“Sekarang lorong-lorong permukiman menjadi hijau dengan tanaman anggur, kita juga punya KWT namanya Anggursari yang dilengkapi dengan rumah bibit,” ungkapnya. RW 09 Kelurahan Cibodasari Kecamatan Cibodas meraih penghargaan sertifikat beserta Tropi Kampung Proklim kategori utama yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa waktu lalu. Prestasi ini diraih berkat kerjasama seluruh warga yang mengikuti pembinaan proklim dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun RW 09 berada di permukiman perumahan yang memiliki berbagai latar belakang profesi namun tak menyurutkan semangat untuk menata lingkungan. “Proklim menjadi sarana keguyuban warga untuk menata dan menjaga lingkungan. Mengubah mindset yang tadinya ga peduli jadi peduli, tadinya ga aktif jadi ikut berpartisipasi. Jadi intinya buka sekadar untuk lomba,” ujar Ketua RW 09 Kasnab Sudarisman.
Lebih lanjut dikatakan, proklim di RW 09 bermula saat ada pembinaan proklim dari Pemkot Tangerang sejak tahun 2019, pembinaan yang diikuti kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Proklim mulai berjalan salah satunya dengan memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif dengan menanam sayuran dan budidaya ikan lele,” ujar dia.
Selain pemanfaatan lahan kosong yang ada di lingkungan warga juga memanfaatkan pekarangan untuk penghijauan dengan menanam sayur, tanaman obat dan tanaman hias. Pemanfaatan lahan sangat bermanfaat terutama di masa pandemi Covid-19.
“Alhamdulillah apa yang dilakukan warga memberikan manfaat, hasil panen dan budidaya ikan dikelola bersama, salah satu tanaman yang menghasilkan adalah tanaman cincau, hasilnya dikelola untuk kebutuhan lingkungan,” ujar dia.
Selain itu, warga juga aktif memilah sampah dari rumah dan menabung sampah daur ulang di bank Sampah. “Ada sekitar 80 nasabah aktif bank sampah yang mengolah sampah organik menjadi pupuk dan anorganik berupa kardus, plastik dan kaleng dijual kembali dan dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan,” ungkapnya.
Kemudian dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim, RW 09 juga telah memasang sebanyak 119 lubang biopori di lingkungan. “Ketika hujan air cepat meresap kedalam tanah sehingga tak ada genangan ataupun banjir di lingkungan,” tukasnya. (made)