SATELITNEWS.ID, SOLEAR—Kepala Puskesmas Cikuya, Kecamatan Solear, Mutmainah menyebut bahwa dugaan kesalahan diagnosis yang terjadi kepada pasien berinisial SN (14), dikarenakan terjadinya kekeliruan dalam komunikasi atau miskomunikasi antara pasien dengan pihak Puskesmas.
“Sebenarnya bukan kesalahan diagnosis, tetapi hanya terjadi miskomunikasi saja,” tegas Mutmainah kepada Satelit News, Senin (15/11).
Tim Mutu, Keselamatan Pasien Puskesmas Cikuya, Taufik Nugraha menambahkan, sebelumnya pasien dating ke Puskesmas Cikuya, pasien sudah berobat dan rongten lebih dulu di klinik lain. Kemudian pihaknya tidak langsung serta merta mendiagnosis pasien mengidap flek paru. Sebelumnya dia mencoba untuk melakukan cek dahak terlebih dahulu, karena pasien sempat menerangkan bahwa SN mengalami sesak.
“Kita tidak langsung mendiagnosis pasien mengalami sakit flek paru, tapi berdasarkan keterangan pasien yang mengalami sesak, makanya kita mencoba untuk cek dahak terlebih dahulu,” kata Taufik.
Lanjut Taufik, setelah hasil tes dahak keluar pada tanggal 4 November dan pasien terlihat mulai membaik, sehingga dianjurkan meneruskan terapi dulu selama tiga hari dengan meminum vitamin, obat batuk, dan pelega tenggorokan yang diberikan Puskesmas. Setelah itu baru kembali lagi ke Puskesmas untuk melakukan kontrol.
Namun setelah tiga hari pasien tidak kontrol ke Puskesmas, tetapi ke klinik lain. Setelah kontrol ke klinik lain itulah dianjurkan untuk rujuk ke RS dengan alasan peralatan lebih lengkap.
Baca Juga: Nonton Tawuran di Solear, Remaja Disabet Senjata Tajam
“Dari klinik pun belum didiagnosis penyakit ginjal, tetapi mereka menyuruh untuk rujuk ke RS. Setelah di RS barulah ketahuan bahwa pasien memgalami gagal ginjal,” ujarnya.
Menurut Taufik, pihaknya sama sekali belum melalukan diagnosis. Dia juga mengatakan, RS Hermina bisa cepat mendiagnosis dikarenakan memang peralatan yang memadai, dengan rongten, monitor, memasang alat pemeriksaan darah, fungsi ginjal, fungsi hati, dan fungsi jantung.
“Dengan alat yang lengkap itulah baru bisa kelihatan penyakit apa yang dialami oleh pasien. Sementara di Puskesmas tidak ada,” katanya.
Lanjut Taufik, terkait salahnya membuat surat rujukan dikarenakan pihak pasien tidak mengatakan akan dirujuk terkait penyakit apa, dan pihak pasien tidak membawa surat perintah dari RS. Katanya, seharusnya pihak pasien membawa surat perintah rujukan dari RS dan membawa pasien juga. Pasalnya, ginjal itu tidak selalu mengenai penyakit dalam, karena bisa saja rujukannya untuk memasang selang darah.
“Ini menjadi pelajaran untuk kami. Seharusnya kami meminta surat perintah rujukan terlebih dahulu, akan dibawa ke RS mana dan ke bagian apa, supaya kami tidak salah membuat surat rujukannya,” tegasnya.
Masih kata Taufik, namun tidak membutuhkan waktu lama surat langsung diperbaiki, untuk melakukan rujukan ke RS Ciputra. “Tetapi selang sehari langsung diperbaiki,” katanya.
Baca Juga: Kolaborasi Pemkab Tangerang dan PMI Lahirkan Poltekkes
Sementara itu, Camat Solear, Sony Karsan mengatakan, bahwa pihaknya bersama Kepala Puskesmas sudah mendatangi pihak pasien yang berinisial SN. Namun kebetulan pasien sedang melakukan cuci darah di RS Ciputra Citra Raya.
Menurut Sony, pihak Puskesmas sudah berupaya untuk melayani masyarakat secara maksimal. Namun memang adanya kekurangan sarana dan prasarana agar bisa dimaklumi.
“Kami tadi sudah ke rumah pasien, mengecek apakah betul warga Solea dan ternyata benar. Saya mengapresiasi kepada pimpinan Puskesmas yang sudah berupaya maksimal dalam melayani masyarakat, namun dengan kurangnya sarana dan prasarana harap dimaklumi,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang remaja berinisial SN (14) asal Kecamatan Solear, diduga menjadi korban salah diagnosis yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Cikuya. Akibat hal itu, pasien harus mengalami keterlambatan penanganan medis. (alfian/aditya)
























