SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG–Untuk memasifkan program mitigasi bencana, terlebih berbasis kearifan lokal. Dibutuhkan penguatan lembaga, dan keseriusan komitmen seluruh stakeholder dalam pelaksanaannya.
Hal itu ditegaskan Kepala Bagian (Kabag) Tata Pemerintahan Kabupaten Pandeglang, Hasan Bisri, menyikapi kegiatan Ngolah Pikir (NGOPI) Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal, yang diprakarsasi Perkumpulan Boedak Saung Barokah Putra Mandiri (BSBPM), sessi I (Selasa, 15/2/2022) lalu dan sessi II (Selasa,15/3/2022).
Katanya, pihaknya bisa mengoordinasikan dengan 10 wilayah kecamatan pesisir dan 100 wilayah desa pesisir. Sehingga, penguatan kelembagaan juga diharapkan seiring dengan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya.
“Beberapa hal yang sifatnya kearifan lokal misal, jangan menebang pohon bambu di sungai, karena pohon bambu itu merupakan penahan tanah sepadan sungai agar tidak mudah longsor. Atau, menanam pohon pakis di pegunungan atau bukit, serta hal – hal lainnya, dalam rangka mengurangi risiko bencana,” kata Hasan, Rabu (16/3/2022).
Diakuinya, Pandeglang tergolong daerah dengan resiko tinggi bencana. Baik bencana longsor, banjir, gempa, tsunami dan jenis bencana lainnya. Walau tidak dapat diprediksi dan tak dapat dihindari ujarnya, paling tidak resikonya dapat ditekan.
“Seperti di wilayah Pandeglang tengah, merupakan daerah rawan air bersih. Sehingga, kita harus berbuat sesuatu yang dapat menghasilkan sumber air atau bagaimana mengurangi risiko dari terjadinya kerawanan air bersih itu,” tambahnya.
Baca Juga: Bupati Pandeglang Dukung Kerja Sama Pelatihan Vokasi dengan BBPVP Serang
Koordinator Boedak Saung Rescue (BSR), Ade Mulyana menegaskan, dengan tema mitigasi bencana berbasis kearifan lokal itu, artinya, bagaimana meningkatkan peran aktif masyarakat dalam mengurangi risiko bencana.
“Potensi ancaman bencana, dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, masyarakat dan kita semua harus menyadari. Sehingga, kita secara bersama – sama pula melakukan sesuatu yang dapat berefek terhadap pengurangan risiko ketika terjadi bencana,” ungkap Ade.
Kedepan tambahnya, BSR akan berupaya secara massif melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat, dalam rangka menumbuhkan kearifan lokal. “Misalnya, kita akan tumbuhkan kembali budaya gotong – royong, membuat kentongan di masing – masing titik perkampungan, dengan memprioritaskan perkampungan rawan bencana,” pungkasnya. (mardiana)























