SATELITNEWS.COM, SERANG–Pemprov Banten, memastikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau Geotermal yang berlokasi di Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, akan kembali dilanjut setelah sempat terhenti karena adanya penolakan dari warga setempat.
Proyek pengembangan PLTP yang diduga sudah mulai dilakukan sejak tahun 2017 silam itu, sampai sekarang masih terkatung-katung. Karena, menimbulkan konflik sosial yang begitu tinggi. Meskipun berbagai cara sudah dilakukan, oleh pihak pengembang yakni PT Sintesa Banten Geothermal. Bahkan, beberapa alat berat milik perusahaan sempat dirusak warga, ketika akan masuk ke lokasi proyek.
Wilayah Padarincang, memang sangat potensial untuk dikembangkan PLTP sebagai energi baru terbarukan, serta solusi jangka panjang menghadapi kelangkaan energi listrik yang selama ini berpangku pada batu bara.
Proyek PLTP di Padarincang ini, diproyeksikan akan menghasilkan listrik sebesar 110 megawatt dari panas bumi yang terkandung di dalamnya. Jumlah itu, berdasarkan proposal pengajuan dari pihak pengembang.
Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten, Deri Dariawan mengatakan, jumlah itu sudah berdasarkan hasil lelang dari pihak perusahaan yang akan menjadi garapannya.
“Kalau untuk sebaran luas penggunaannya itu relatif, tergantung berapa besar setiap rumah/industry menggunakan arus listriknya,” kata Deri, Sabtu (18/2/2023).
Baca Juga: Program Magang ke Jepang Minim Peminat, Di Banten Baru 73 Pendaftar
Dikatakan Deri, saat ini dengan beberapa PLTU yang ada di Banten, bisa menghasilkan listrik sekitar 10.000 megawatt. Jumlah itu sudah menyuplay kebutuhan listrik Jawa-Bali sebesar 25 persen. Itu semua bersumber dari energi batu bara, dimana emisi gas karbon yang dihasilkan cukup tinggi.
“Namuan dengan adanya PLTP ini, bisa mengurangi dampak dari emisi gas karbon yang saat ini menjadi fokus seluruh dunia. Jadi ini memang sangat strategis sekali,” ucapnya.
Belakang ini, lanjutnya, beberapa PLTU yang ada di Banten juga sudah mulai mengembangkan energi listrik yang bersumber dari sampah pengganti batu bara. Potensinya cukup besar untuk bisa dikembangkan, dimana PLTU kita membutuhkan sebanyak 2.000 ton sampah per hari.
“Saat ini yang sudah mengembangkan itu baru di daerah Kota Cilegon. Selain itu, potensi pengembangan energi baru terbarukan di Banten juga bisa dilakukan melalui tenaga angin, surga, dan sekarang sedang dikaji untuk energi gelombang,” ujarnya.
Sebelumnya, Pj Gubernur Banten Al Muktabar mengatakan, untuk bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat terhadap keberadaan proyek tersebut, dirinya bersama seluruh Forkopimda Provinsi dan Kabupaten Serang akan mengintensifkan komunikasi dengan warga sekitar.
“Prinsipnya, ini adalah Proyek Strategis Nasional (PSN), yang sebenarnya banyak hal – hal yang berdampak positif bagi masyarakat,” ujar Al.
Baca Juga: Kekeringan Meluas, Ratusan Hektare Sawah di Banten Gagal Panen
Menurut Al, Provinsi Banten ditunjuk sebagai lokasi PSN PLTP sejak 11 tahun lalu, karena berdasarkan kajian ilmiah, mempunyai potensi besar untuk pengembangan energi baru terbarukan dengan melalui panas bumi.
“Kita semua akan melakukan komunikasi yang baik dengan masyarakat, termasuk juga pihak dari pengembang. Mudah-mudahan nanti tidak ada hal mendasar yang menjadikan kita semua terdikotomi, sehingga ini bisa dipahami bersama bahwa PSN ini bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (mg2)
























