SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distan) Provinsi Banten, mencatat sebanyak 273 hektar sawah di Provinsi Banten mengalami puso akibat banjir yang melanda persawahan di beberapa daerah seperti Kabupaten Tangerang, Serang dan Lebak.
Sebagian besar para petani yang sawahnya mengalami puso tersebut, tidak terdaftar pada Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sehingga untuk mengurangi beban para petani, Pemprov Banten memberikan benih padi yang bersumber dari Cadangan Benih Daerah (CBD) yang sudah disiapkan.
Kepala Distan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, pihaknya memberikan benih kepada para petani yang mengalami puso sebanyak 20 kg persatu hektar sawah.
“Jika yang terdampak puso 273, maka tinggal dikalihkan saja jumlahnya,” ujarnya, Rabu (5/4/2023).
Dikatakan Agus, pihaknya mendorong agar seluruh petani yang ada di Banten ini untuk mengikuti program AUTP, terutama bagi yang berada di wilayah-wilayah dengan resiko bencana yang tinggi.
“Banyak keuntungan yang akan didapat para petani kalau sudah terdaftar menjadi anggota AUTP, salah satunya ketika terjadi puso seperti ini. Mereka bisa mengajukan klaim, yang bisa dicairkan sebesar Rp6 juta perhektar,” katanya.
Baca Juga: Belasan Tahun Banten Bebas Rabies, Distan Imbau Masyarakat Waspada Hewan Pembawa Virus
Untuk besaran iurannya sendiri, lanjut Agus, sebesar Rp36.000/hektar. Besaran itu sudah termasuk bantuan subsidi yang diberikan oleh pemerintah.
Karena kalau tidak dibantu, maka iuran yang dibebankan akan lebih besar.
“Subsidinya dari pusat atau APBN, kita belum bisa untuk itu,” pungkasnya.
Meski demikian, untuk tahun 2024 Agus akan mencoba untuk mengajukan usulan subsidi AUTP agar bisa juga dicover dari APBD. Dengan begitu maka, akan lebih banyak para petani yang terbantu.
“Target kita sawah yang masuk AUTP 5 ribu hektar, meskipun saat ini dalam praktiknya baru mencapai 3.500 hektar. Butuh edukasi menyeluruh kepada para petani,” ucapnya.
Plh Sekda Banten Virgojanti menambahkan, pemerintah secara berjenjang wajib menjaga stabilitas kebutuhan beras ketika para petani mengalami puso. Banyak instrumen yang bisa dilakukan oleh pemerintah baik pusat, daerah maupun Kabupaten dan Kota yang bisa dilakukan.
“Seperti mengoptimalkan Cadangan Beras Daerah (CBD) yang sudah dialokasikan. Jadi kita sudah mempunyai mekanisme untuk penanganan itu, selain pada tingkat hulunya juga,” ujarnya. (mg2)
Baca Juga: Bantu Penanganan Gizi, Distan Banten Tingkatkan Produktivitas Telur
























