SATELITNEWS.COM, JAKARTA – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menyelenggarakan Iftar bersama Habib Husein Ja’far Al Hadar, Penulis Buku “Menyegarkan Islam Kita” dan “Tuhan ada di Hatimu”. Acara yang berlangsung di Manhattan Hotel, Grand Capitol Ballroom lantai 5, Jakarta Selatan, Jumat (14/4/2023), ini dihadiri lebih dari 250 partisipan yang berasal dari korps diplomatik dan kalangan publik.
Dalam ceramahnya, Habib Ja’far mengangkat isu tentang iklim , diikuti dengan diskusi publik dipandu oleh Ketua dan Pendiri FPCI, Dr. Dino Patti Djalal. Acara ini diselenggarakan oleh FPCI dilandasi kesadaran bahwa tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi dari krisis iklim tidak terlepas dari landasan religius. Untuk itu, bertepatan dengan bulan Ramadan ini, dan untuk merayakan Hari Bumi Sedunia tanggal 22 April, FPCI mengakomodasi diskusi bertajuk “Amanah Islam Menjaga Bumi Bersama”.
Diskusi mengangkat landasan Al-Qur’an mengenai kelestarian lingkungan, krisis iklim, dan peran seorang muslim dan umat manusia dalam menanganinya. Habib Jafar pun mengutarakan pandangannya, ketika ditanyakan mengenai korelasi pelestarian lingkungan dan pemilu mendatang.
“Bukan tentang calon tapi tentang nilai. Apa yang ditawarkan sebagai visi-misi? Salah satu nilai itu nilai lingkungan. Kalau tidak ada kesadaran lingkungan, bisa berantakan ini bangsa,” ujarnya.
Selain itu, Habib Jafar juga menyatakan, bahwa limbah lingkungan dan emisi karbon Indonesia yang berjumlah sangat besar, tidak menunjukan orang tersebut sebagai muslim merepresentasikan dan menjalankan perintah agama.
“Karena Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia juga salah satu negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia,” imbuhnya.
Ketua dan Pendiri FPCI Dr. Dino Patti Djalal menyatakan, bahwa FPCI akan menyelenggarakan Net Zero Summit pada 24 Juni 2023 ini, untuk mendorong Indonesia net-zero 2050.
“Kalau kita memang nasionalis, kita harus peduli iklim, karena Indonesia Emas 2045 tidak bisa hidup di bumi 4 derajat Celcius. Indonesia harus mencapai net-zero di 2050, bukan di 2060,” ujar Dr. Dino Patti Djalal.
Berikut poin-poin yang disampaikan oleh Habib Jafar dan Dr. Dino Patti Djalal:
1. Islam dan lingkungan
Kita semua adalah satu, saya, Pak Dino, Anda, botol air ini, meja, semua yang diruangan
ini, dan lingkungan di sekitar kita adalah satu, karena kita adalah manisfestasi dari ciptaan
Tuhan, yang nantinya kita juga akan kembali ke Tuhan. Jadi jika kita menyakiti alam, kita
menyakiti diri kita sendiri. Jika kau merusak lingkungan, kau merusak dirimu sendiri.
2. Muslim dan pemimpin politik
Yang kita harus cek dari calon-calon Presiden 2024 adalah soal kesadaran lingkungan. Ketika mereka mencalonkan diri menjadi pemimpin, mereka tidak memiliki hanya kesadaran tapi visi untuk iklim dan lingkungan. Saya tidak peduli siapa yang dicalonkan (menjadi Presiden). Saya peduli, dan Anda juga harus peduli, dengan nilai-nilai yang dibawakan. Dan semua calon pemimpin negara harus memiliki visi lingkungan.
3. Konsep tujuan Syari’ah untuk lingkungan
Tadi saya sempat menyinggung 6 hifdzul dengan hifdzul bi’ah sebagai hifdzul keenam. Lima hifdzul lainnya adalah hifdzul nafs (menjaga jiwa), hifdzul al-’aql (menjaga akal), hifdzul al-maal (menjaga harta), hifdzul an-nasl (menjaga keturunan). Dan dasar dari semua itu adalah hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan). Jika tidak ada lingkungan yang bisa kita tempati, bagaimana kita bisa berpikir, menjalankan agama, menikmati harta, menjaga keturunan kita? Apakah jiwa kita bisa hidup tanpa adanya lingkungan? Maka itu, dasar dari semua prinsip dalam ilmu agama adalah adanya lingkungan. Ketika lingkungan tidak ada, maka kita tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan ibadah dan hidup sekali pun. (rs/aditya)