SATELITNEWS.COM, SERANG – Wakil Presiden (Wapres) RI Ma’ruf Amin, menekankan industri baja di Provinsi Banten untuk turut serta berperan aktif menurunkan emisi gas kaca, yang saat ini tengah menjadi persoalan di berbagai negara belahan dunia.
Hal itu dikatakan Wapres Ma’ruf Amin, saat meresmikan pabrik baja PT. Lautan Baja Indonesia (LBI), yang merupakan ekspansi dari PT. Lautan Steel Indonesia di Telagasari, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Jum’at (29/9/2023).
Menurut Wapres, saat ini industri baja merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang cukup tinggi. Pada tahun 2022, industri baja tercatat menyumbang emisi gas rumah kaca dunia mencapai 7 persen.
Angka itu cukup besar, bagi pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan bumi. Oleh karenanya, pemerintah menargetkan pada tahun 2060 seluruh industri baja di Provinsi Banten bisa menuju 0 persen dari emisi gas rumah kaca.
“Untuk menuju itu, saya minta industri baja nasional menjadi bagian integral dari ekonomi sirkular dengan konsep indutri hijau. Dimana produksinya mengedepankan efesiensi dan efektifiktas penggunaan sumber daya keberlanjutan dan memanfaatkan sampah sebagai energi alternatif,” kata Wapres.
Dikatakan Ma’ruf Amin, industri baja berperan vital dalam pertumbuhan suatu negara. Ia juga berperan sangat esensial bagi pengembangan sektor industri lainnya seperti industri energi, kontruksi, otomotif dan transportasi serta infrastukrut.
Baca Juga: Damenta Kosongkan Posisi Pj Sekda Banten
Di Indonesia, industri baja mempunyai peranan penting dalam mendukung pembanguan infrasturktur yang saat ini tengah dikembangkan seperti pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan, jalur rel kereta api, pembangkit listrik, kilang minyak dan pembangunan IKN.
“Dalam 50 tahun terakhir kebutuhan baja nasional meningkat 40 persen. Pada tahun 2050 penggunaan baja global diperkirakan meningkat 20 persen. Untuk memenuhi kebutuhan itu, kapasitas produksi dalam negeri kita harus terus ditingkatkan, sehingga tidak melakukan impor,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Wapres juga menekankan beberapa hal dalam rangka peningkatan kemandirian industri baja nasional. Pertama penerapan secara tegas dan konsisten tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan wajib SNI.
Apalagi dalam beberaoa tahun terakhir pemerintah sangat intensif mengakselerasi berbagai proyek infrastruktur IKN dan program kendaraan listrik.
Selain itu, sebagai salah satu industri dengan mempunyai efek berganda, indsutri baja nasioanl untuk menyediakan program dan insentif memajukan UMKM untuk dapat masuk pada rantai pasok industri.
“Saat ini keterlibatan UMKM pada rantai pasok industri hanya 7, persen jauh tertinggal dari beberapa negara ASEAN. Itu harus terus ditingkatkan,” pungkasnya.
Baca Juga: Pj Gubernur Soroti Kinerja Plt Kadis, Dianggap Kurang Efektif
Pj Gubernur Banten Al Muktabar juga menekankan, untuk menerapkan pola industri hijau dengan zero emisi dengan terus menggiatkan teknologi yang ramah lingkungan dan pengelolaan alam yang baik melalui penghijauan.
“Baja adalah satu hal penting dalam menggiatkan infrastruktur baik di daerah maupun secara nasional,” kata Al Muktabar.
Oleh karenanya, Al Muktabar melanjutkan, produk industri baja di Banten harus bisa bersaing dengan yang lainnya. Apalagi, kebutuhan baja baik nasional maupun global diperkirakan akan terus meningkat.
“Yang tak kalah penting, produk baja yang dihasilkan harus mengandung produk bahan dalam negeri dan mempunyai SNI,” ucapnya.
Dikatakan Al, Banten itu daerah yang banyak diminati oleh para investor. Selain karena lokasinya yang strategis, juga berbagai infrastruktur penunjang lainnya seperti jalan, akses tol, laut sampai ketersediaan pasokan air baku dan suplay listriknya terjaga dengan baik. Itu modal yang sangat menguntungkan.
“Saat ini reaalisasi investasi di Provinsi Banten pada triwulan kedua ini secara nasional Provinsi Banten berada pada urutan kelima besar dengan capaian investasi sebesar Rp24,9 triliun yang didominasi dari sektor investasi Penanam Modal Asing (PMA) sebesar 20,6 persen atau Rp17,09 triliun sedangkan untuk Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 4,7 persen atau Rp7,80 triliun,” ujarnya.
Baca Juga: Inflasi Banten Masuk 10 Besar Nasional, Kebutuhan Cabai Alami Kekurangan
Jika di breakdown ke daerah, realisasi pada triwulan kedua ini yang paling besar di Kabupaten Tangerang yang mencapai Rp9,85 triliun atau 39,60 persen. Kemudian Kota Cilegon Rp8,16 triliun atau 32,81 persen. Lalu Kabupaten Serang Rp2,46 triliun atau 9,91 persen. Lalu disusul Kota Tangerang Rp2,21 triliun atau 8,88 persen, lalu Kota Tangsel Rp1,80 triliun atau 7,26 persen.
Selanjutnya Kabupaten Pandeglang Rp220 miliar atau 0,88 persen, Kota Serang Rp106 miliar atau 0,43 persen dan yang terakhir Kabupaten Lebak sebesar Rp57,12 miliar atau 0,32 persen.
Paling besar investasi dari sektor industri kimia dan farmasi yang mencapai Rp6,50 triliun atau 26,50 persen dimana seluruhnya terdapat 384 proyek. Lalu perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp6,20 triliun atau 24,92 persen dengan total proyek mencapai 436 proyek.
Selanjutnya listrik, gas dan air sebesar Rp2,30 triliun atau 9,24 persen dengan total proyek mencapai 94 proyek. Kemudian industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatan Rp2,57 triliun atau 10,03 persen dengan 137 proyek dan yang kelima industri makanan sebesar Rp2,18 triliun atau 8, 51 persen dengan total 317 proyek.
Direktur Utama PT. Lautan Steel Indonesia Heintje Tan berharap dengan adanya ekspansi usaha ini bisa memenuhi kebutuhan baja dalam negeri.
Dirinya juga mendukung penuh kewajiban pemenuhan produk yang SNI. “Itu wajib melekat di produk kami, dan juga Tingkat Komposisi Dalam Negeri (TKDN),” katanya. (luthfi)
