SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, sedang melakukan uji coba penanaman padi dengan menggunakan bibit toleran asin atau Biosalin.
Benih ini sangat efektif dan menjadi sebuah inovasi, untuk memecahkan persoalan utama para petani di Banten, terutama mereka yang berada di wilayah pesisir dimana kondisi airnya mayoritas payau.
Kepala Distan Provinsi Banten Agus M. Tauchid mengatakan, rencananya dalam waktu dekat pihaknha akan semai bibit padi itu di beberapa titik wilayah pesisir, dengan target uji coba perdana ini dilakukan terhadap lahan persawahan seluas 1 hektar yang akan selesai akhir bulan Oktober 2023 ini.
“Jika ini berhasil, maka persoalan utama para petani yang berada di daerah pesisir sudah terjawab. Meskipun kondisi air di sana payau, apalagi disaat musim kemarau seperti saat ini, para petani kita akan tetap bisa melanjutkan siklus tanam padinya,” kata Agus, Senin (16/10/2023).
Meskipun di beberapa daerah varian bibit Biosalin ini sudah berhasil dimanfaatkan, namun tidak serta merta bisa juga ditanam di semua daerah, karena kondisi keasaman dan kandungan zat tanah di setiap daerah berbeda-beda. Oleh karena itu, Agus meminta waktu untuk membuktikan keberhasilan percobaan itu.
“Beri kami waktu dan kesempatan, untuk membuktikan benih Biosalin itu bisa berkembang di Banten. Kami menunggu respon dari masyarakat. Jika nanti berhasil, akan dilanjutkan dengan menyiapkan penangkaran benih Biosalin untuk dikembangkan,” ujarnya.
Baca Juga: Distan Banten Tegaskan Manggis Bojong Pandeglang Berkualitas Ekspor
Bibit padi Biosalin itu sendiri, tambahnya, sudah dikembangkan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Kementerian Pertanian di Provinsi Banten.
Varian ini juga, sudah mulai dimanfaatkan di daerah sentra produksi padi di pinggir laut seperti pantai Utara Jawa, Sulawesi Selatan dan pantai Sumatera.
Distan sendiri, lanjut Agus, sudah membuat sembilan titik sumur patek untuk membantu para petani dalam menghadapi kemarau berkepanjangan ini.
Sembilan sumur patek itu, tersebar di Kabupaten Pandeglang, Lebak dan Serang. Sampai saat ini masih berfungsi dengan baik dan cukup membantu masyarakat.
“Di APBD perubahan 2023 ini kita juga kembali menganggarkan itu untuk 10 titik,” ucapnya.
Agus menambahkan, pada bulan Oktober 2023 ini, disejumlah daerah di Provinsi Banten yang akan menyelenggarakan panen padi, setidaknya terdapat 29.578 hektar atau sekitar 99.198 ton produksi beras.
Baca Juga: Belasan Tahun Banten Bebas Rabies, Distan Imbau Masyarakat Waspada Hewan Pembawa Virus
“Kita masih ada panen, kemarin kita melakukan survei ke tingkat lapangan. di bulan Oktober 2023 itu mencapai 20-30 ribu hektar dengan titik sebaran yang tinggi itu di Kabupaten Pandeglang dan daerah lainnya,” katanya.
Pj Sekda Banten Virgojanti menambahkan, persoalan pangan ini menjadi salah satu fokus Pemprov Banten dalam pengendalian inflasi di daerah selain cabai dan gula.
Oleh karena itu, pihaknya dalam waktu dekat akan menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat atau keluarga penerima manfaat (KPM) yang berasal dari Dana Insentif Daerah (DID) Provinsi Banten, yang beberapa waktu lalu dibelikan beras.
Hal itu juga dilakukan, dalam upaya mengatasi rawan pangan dan kekeringan.
“Disamping itu, dari Pemerintah Pusat juga menggelontorkan beras SPHP, kita juga minta Bulog untuk aktif melakukan monitoring ke pasar-pasar yang menjadi target survei indeks harga di Provinsi Banten,” jelasnya.
Kemudian, pihaknya juga meminta kepada Tim Satgas Pangan Provinsi Banten dan kabupaten/kota di Provinsi Banten, untuk dapat terus melakukan pengawasan agar tidak terjadinya penyelewengan beras SPHP.
“Satgas pangan akan bertindak tegas. Kita tidak ingin ada lagi seperti sebelumnya, karena ada yang memanfaatkan kondisi yang di masyarakat dengan menyalahgunakan beras SPHP,” imbuhnya. (luthfi)
























