SATELITNEWS.COM, SETU—Hujan deras yang mengguyur Kota Tangerang Selatan pada Rabu (3/1) dinihari menyebabkan longsor di dua lokasi. Kedua titik longsor berada di Kelurahan Kademangan dan Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu.
Lokasi pertama berada di Perumahan Pinang Mas RT 007 RW 002 Kelurahan Kademangan. Longsor merusak bagian belakang rumah milik Sumatri dan suaminya. Lalu, titik kedua berada di RT007 RW 10, Kelurahan Kranggan. Pada lokasi kedua ini longsor terjadi sekitar pukul 06.30 WIB dan berdampak terhadap dua kepala keluarga.
Sumarti (46), warga Perumahan Pinang Mas RT 007 RW 002 ingat betul saat peristiwa yang berlangsung pada Rabu (3/1) sekitar pukul 01.30 WIB itu. Kata dia, dirinya dengan sang suami sedang memasak sejumlah olahan untuk dijual pada siang hari.
Pasangan suami istri (pasutri-red) yang berjualan nasi bakar dan cemilan itu tiba-tiba mendengar suara gemuruh yang bersumber dari amblasnya tanah turap di belakang rumahnya. Dia kemudian langsung melarikan diri keluar rumah.
“Kejadiannya jam 01.30 an pagi. Kita lagi masak. Kita kan dagang, jadi kalau malam jarang tidur. Dagang nasi bakar, jadi kalau malam produksi. Siang baru dibawa ke lapak buat dijual gitu. Pas kejadian suami lagi dibelakang dengar debuk tanah jatuh. Ya sudah langsung lari ke depan,” ujar Sumarti ditemui di kediamannya, kemarin.
Sumarti menyebutkan, longsoran itu diawali dengan hujan deras pada pukul 00.30 WIB. Menurut dia, rumahnya mengalami kerusakan di bagian belakang. Terutama di bagian kamar mandi yang posisinya sudah “menggantung.”
Baca Juga: Anggota DPRD Pandeglang Minta DPUPR Bergerak Cepat Tangani Longsor Di Huntap Tunggal Jaya
Setelah kejadian, beber dia, banyak pihak yang telah mendatanginya. Mereka datang melakukan pengecekan sekaligus berjanji memberikan bantuan.
“Tadi dari Dewan, caleg, lurah, Kapolsek dan BPBD. Insya Allah ini secepatnya ada bantuan. Besok mudah-mudahan material sudah datang buat memperbaiki turapnya. Itu yang belakang bagian kamar mandi dan dapur. Kalau dapur belum kena banyak, kalau kamar mandi itu sudah gantung,” ungkapnya.
Sumarti yang sudah tinggal sejak tahun 2008 ini merasa trauma setelah musibah itu terjadi. Turap rumah yang amblas membuat anggota keluarga cemas setiap berada di dalam rumah. Ia pun berharap, agar Pemkot Tangsel segera memberikan bantuan.
“Bulan lalu ada yang longsor juga daerah sini, cuma sudah selesai dapet bantuan dari pemerintah juga,” sambungnya.
Pantauan di lokasi, nampak terpal milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel terpasang menutupi titik longsor. Berdasarkan keterangan dari Sumarti, jika dari dalam rumah lantai bagian belakang masih rapat.
“Masih rapat ubinnya karena kan coran. Sekarang sudah ngga ke kamar mandi itu karena takut,” pungkasnya.
Baca Juga: Tebing Tergerus Longsor, Puluhan Warga Huntap Tunggal Jaya Sumur Pandeglang Was was
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel, M Faridzal Gumay mencatat ada dua peristiwa tanah longsor yang terjadi pada Rabu (3/1). Gumay menambahkan, tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Ia menambahkan, usai kejadian pihaknya terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan perangkat daerah terkait.
“Iya bang ada dua rumah yang terdampak tanah longsor. Curah hujan yang cukup deras. Turap belakang rumah ambles. Beruntung tidak ada korban akibat kejadian tersebut. Kami melakukan monitoring dan koordinasi dengan RW,” ujar dia.
Dia mengatakan, penyebab tanah longsor diakibatkan curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut. Selain cuaca, terdapat faktor lain yang menyebabkan tanah longsor kerap terjadi di wilayah Kecamatan Setu. Salah satunya adalah kondisi geografis yang berbukit.
Kondisi tersebut diperburuk dengan tindakan warga mendirikan bangunan rumah di lahan tidak semestinya. Warga mendirikan bangunan di dataran yang berdekatan dengan tebing curam. Kondisi tersebut menyebabkan longsor semakin membahayakan.
“Ya yang pertama geografisnya, di sana kan berbukit. Kedua, mereka tidak menaati yang sudah ditetapkan di dekat tebing mereka membangun rumah, itu saja. Karena merasa itu tanah dia, ya dia bangun, mereka tidak memikirkan dampak selanjutnya,” jelasnya. (eko)

















