Rabu, 9 September 2026
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang

Mencari Solusi Penyelesaian Konflik di Papua

Oleh: Najamuddin Khairur Rijal*

Oleh Deddy Maqsudi
Minggu, 19 Mei 2024 18:39 WIB
Rubrik Kolom
Mencari Solusi Penyelesaian Konflik di Papua

MENCARI SOLUSI PENYELESAIAN KONFLIK DI PAPUA: Najamuddin Khairur Rijal, Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. (DOK PRIBADI)

FacebookTwitterWhatsapptelegramLinkedinEmail

PERUBAHAN penyebutan istilah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Kelompok Separatis Teroris (KST) kembali menjadi Organisasi Papua Merdeka (OPM) menunjukkan kegamangan TNI dalam mendefinisikan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Problem pendefinisian itu sekaligus menunjukkan dilema pemerintah dalam menghadapi eksistensi kelompok separatis ini.

Dari KKB ke OPM
Sebagaimana diberitakan, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengubah penyebutan TPNPB kembali menjadi OPM melalui Surat Keputusan Nomor STR/41/2024 tertanggal 5 April 2024. Sebelumnya, penamaan OPM menjadi KKB atau KST disepakati sejak tahun 2021. Dengan penamaan KKB sebagai kelompok teroris, maka sejak saat itu penanganannya memakai Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Menurut TNI, pengembalian nomenklatur OPM karena TPNPB merupakan suatu organisasi yang menyatakan dirinya tentara atau kombatan. Maka sebagai kombatan, berlaku hukum humaniter internasional yang mengatur bahwa dalam perang, kombatan boleh diserang atau menjadi korban. Karena itu, Panglima TNI menegaskan bahwa OPM hanya bisa dihadapi dengan kekuatan senjata dengan tidak membiarkan ada “negara” di dalam negara.

Sementara itu, Polri masih menggunakan istilah KKB dengan alasan belum ada arahan untuk mengubah istilahnya kembali menjadi OPM. Dengan istilah KKB, maka penanganannya adalah penegakan hukum oleh polisi dengan memperlakukan kelompok bersenjata itu sebagai pelaku kriminal atau teroris.

Perbedaan definisi ini, sebagai KKB/KST atau OPM, potensial menjadikan pendekatan dalam menghadapinya berbeda dan penanganannya menjadi tidak sinergis antaraktor. Hal ini akan semakin memperumit kompleksitas penyelesaian konflik di Papua. Karena itu, seharusnya pemerintah, TNI, Polri, dan pihak terkait perlu duduk bersama untuk mendefinisikan dan merumuskan strategi yang tepat.

Tiga Pendekatan
Dalam menghadapi terorisme, kelompok bersenjata, maupun gerakan separatis, secara teoretis ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan. Pertama, pendekatan realis (realist approach) yang meyakini bahwa tidak ada cara lain dalam menghadapi kekerasan kecuali dengan kekerasan pula. Maka cara-cara militeristik harus dikedepankan dalam memberantasnya.

Baca Juga: Pemkab Tangerang Diganjar Opini Kualitas Tinggi Tanpa Maladministrasi

Kedua, pendekatan liberal (liberalist approach) yang menegaskan bahwa menghadapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan menciptakan lingkaran setan kekerasan (vicious circle of violence). Karena itu, cara terbaik adalah melalui pendekatan humanis, ask them to talk, mengajak untuk bernegosiasi dengan mendengarkan apa yang menjadi aspirasi mereka. Cara-cara persuasif perlu diutamakan untuk membuat mereka merasa didengar.

Ketiga, pendekatan konstruktivis (constructivist approach). Menurutnya, jalan negosiasi bukanlah solusi karena negara tidak mungkin duduk sama tinggi dengan kelompok pemberontak. Pendekatan ini berasumsi bahwa cara terbaik adalah dengan menyelesaikan akar persoalannya. Bahwa terorisme ataupun separatisme tidaklah lahir dari ruang hampa, melainkan tumbuh dan berkembang dari lahan-lahan subur beragam permasalahan. Maka pemerintah harus menyelesaikan masalah itu hingga ke akar-akarnya.

BeritaTerbaru

Budi Luhur di Kalangan Anggota Dewan dalam Perspektif Psikologis

Budi Luhur di Kalangan Anggota Dewan dalam Perspektif Psikologis

Sabtu, 15 Agu 2026 05:26 WIB
Salah Paham tentang Wakaf Saham

Salah Paham tentang Wakaf Saham

Rabu, 12 Agu 2026 15:21 WIB
Hari Pertama Palang Parkir Otomatis, Pengunjung Stadion Benteng Reborn Terjebak Antrean

Hari Pertama Palang Parkir Otomatis, Pengunjung Stadion Benteng Reborn Terjebak Antrean

Minggu, 2 Agu 2026 20:06 WIB
144 Tahun Peradilan Agama: Dari Serambi Masjid Menuju Penjaga Keadilan Modern

144 Tahun Peradilan Agama: Dari Serambi Masjid Menuju Penjaga Keadilan Modern

Sabtu, 1 Agu 2026 16:36 WIB

Mencari Solusi
Dalam konteks penyelesaian konflik puluhan tahun di Papua antara pemerintah Indonesia dan kelompok separatis, pemerintah sejatinya telah mengintegrasikan ketiga pendekatan di atas. Hanya saja, sejauh ini integrasi ketiganya masih menjadi persoalan tak berkesudahan dan acapkali tumpang tindih bisa jadi karena kurangnya sinergitas antar aktor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan lainnya.

Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekarang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada tahun 2009 menyebut bahwa akar masalah di Papua adalah pertautan persoalan status dan sejarah politik, diskriminasi, kegagalan pembangunan, serta kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Penyelesaian persoalan kegagalan pembangunan berusaha dilakukan pemerintah, terutama di masa pemerintahan Joko Widodo, dengan menaikkan dana otonomi khusus dan membangun infrastruktur secara besar-besaran. Persoalan diskriminasi juga berusaha diretas dengan memberikan otonomi kepada masyarakat Papua dalam politik dan pemerintahan. Juga suara dan aspirasi masyarakat Papua berusaha diakomodir dan semakin diberi ruang.

Tetapi pada saat yang sama, pengerahan militer dan penggunaan kekuatan bersenjata menjadikan upaya penyelesaian masalah menjadi semakin suram karena berhadapan dengan problem HAM. Bagai menyiram bensin pada bara, cara ini membuka luka lama dan traumatik terkait sejarah politik integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga: Perbedaan Prioritas Budgeting Gen Z: Traveling atau Wedding Dream?

Terlebih lagi penyebutan kembali nomenklatur OPM menunjukkan bahwa TNI hanya akan memakai jalan bersenjata dalam menangani konflik ini. Artinya, lingkaran setan kekerasan masih akan terus berlanjut dan belum akan mereda. Bisa jadi akibatnya, alih-alih mereda, aksi kekerasan oleh kelompok separatis menjadi semakin tidak terkendali yang kian memperkeruh jalan panjang upaya penyelesaian konflik. Apalagi, patut diingat bahwa TPNPB didukung oleh beberapa negara Melanesia yang bisa semakin vokal berbicara di forum-forum internasional menyuarakan narasi-narasi pelanggaran HAM dan penindasan oleh pemerintah atas rakyat Papua.

Menempuh jalan dialog dengan pendekatan yang humanis juga menjadi dilematis. Sebab, berpotensi memberi ruang bagi mereka untuk memaksakan aspirasinya melalui hak menentukan nasib sendiri (self-determination). Lepasnya Timor Timur melalui pemberian self-determination (referendum) menjadi sejarah Republik Indonesia yang tidak boleh terulang di Papua. Pada saat yang sama, keberhasilan pemerintah berdamai dengan kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) perlu menjadi catatan dan pelajaran sejarah dalam menangani persoalan Papua, sekalipun tentu dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Pada akhirnya, pemerintah dan elemen-elemen terkait perlu secara bersama memikirkan dan merumuskan strategi dan model pendekatan terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini, secara sinergis, kohesif, komprehensif, dan satu suara. Pemerintahan baru mendatang punya tugas berat untuk menemukan solusi dan upaya penyelesaian terbaik atas konflik berkepanjangan ini, sebagai sebuah warisan (legacy) sejarah. (*)

*(Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang)

Tags: konflik papuamencari solusinajamuddin khairur rijalOpini
ShareTweetKirimShareShareKirim

BeritaTerkait

Menakar Peta Jalan Operasional: Jembatani Disparitas Ketahanan Pangan Banten Unggul Berdaulat
Kolom

Menakar Peta Jalan Operasional: Jembatani Disparitas Ketahanan Pangan Banten Unggul Berdaulat

Jumat, 17 Jul 2026 13:10 WIB
Nasib Malang Rupiah
Kolom

Nasib Malang Rupiah

Senin, 13 Jul 2026 20:32 WIB
Membangun Prestasi Olahraga melalui Budaya Evaluasi di Lingkungan KONI
Kolom

Membangun Prestasi Olahraga melalui Budaya Evaluasi di Lingkungan KONI

Rabu, 17 Jun 2026 18:56 WIB
“Revitalisasi Puskesmas dan Posyandu:  Dari Tempat Berobat Menjadi Pusat Pencegahan Penyakit”
Kolom

“Revitalisasi Puskesmas dan Posyandu: Dari Tempat Berobat Menjadi Pusat Pencegahan Penyakit”

Minggu, 14 Jun 2026 08:52 WIB
Krisis Keamanan Obat dan Self-Medication Remaja:  Pembelajaran dari Kasus GGAPA terhadap Risiko Penyakit Pernapasan Urban
Kolom

Krisis Keamanan Obat dan Self-Medication Remaja: Pembelajaran dari Kasus GGAPA terhadap Risiko Penyakit Pernapasan Urban

Jumat, 5 Jun 2026 16:35 WIB
Darurat TBC di Serang: Ketika Anak-Anak Menjadi Korban Pembangunan yang Timpang
Kolom

Darurat TBC di Serang: Ketika Anak-Anak Menjadi Korban Pembangunan yang Timpang

Jumat, 29 Mei 2026 13:19 WIB
Turut Berduka Cita Atas Wafatnya H. Desri Arwen
Pendaftaran Obyek Subyek Pajak Daerah Bapenda Tangsel
HUT RI Ke 81 Dinas perpustakaan dan arsip Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 PT LKM Artha Kerta Raharja
HUT RI Ke 81 Dinsos Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 Bapenda Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang
HUT RI Ke 81 DPRD Kab Tangerang

Berita Pilihan

BAGIKAN MASKER -- Persit Cabang XXXIII Dim 0601 Koorcab Rem 064 PD III/Siliwangi, turun langsung ke tengah masyarakat dengan membagikan masker secara gratis, Selasa (8/9/2026). (ISTIMEWA)

Persit Kodim 0601/Pandeglang Bagikan 1.000 Masker

Selasa, 8 Sep 2026 14:50 WIB
Tinjau Proyek Turap di Tangsel, Pilar Saga Wanti-Wanti Soal Kualitas

Tinjau Proyek Turap di Tangsel, Pilar Saga Wanti-Wanti Soal Kualitas

Rabu, 2 Sep 2026 20:38 WIB
Bakar Sampah, Lahan Kosong di Karawaci Terbakar hingga 200 Meter Persegi

Bakar Sampah, Lahan Kosong di Karawaci Terbakar hingga 200 Meter Persegi

Rabu, 2 Sep 2026 14:36 WIB
Pegawai Pemprov Banten Tetap Masuk Kerja, Agar Pelayanan Tidak Terganggu

Pegawai Pemprov Banten Tetap Masuk Kerja, Agar Pelayanan Tidak Terganggu

Senin, 7 Sep 2026 17:14 WIB
Bupati Dewi: Purna Tugas Sebagai ASN Bukan Akhir Pengabdian

Bupati Dewi: Purna Tugas Sebagai ASN Bukan Akhir Pengabdian

Senin, 7 Sep 2026 20:01 WIB
WhatsApp Satelit News
Ikuti WA Channel Satelit News
Google News Satelit News
Ikuti Kami di Google News

Facebook

SatelitNewsIDN

Youtube

@SatelitNewsIDN

Instagram

satelitnewsid

Pinterest

SatelitNewsID

Linkedin

SatelitNews

Tiktok

@satelitnewsofficial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman
  • Kode Etik

Jauh Menjangkau Jernih Bersuara.
© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password Yang Terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Log In

Add New Playlist

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran

© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.