SATELITNEWS.COM, LEBAK– Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak saat ini tengah mengalami krisis obat TBC (Tuberculosis). Padahal obat tersebut sangat dibutuhkan lantaran di Bumi Multatuli angka penderita penyakit yang ditimbulkan infeksi bakteri tersebut cukup tinggi.
Diketahui data dari Dinkes Lebak tahun 2023, penderita TBC mencapai 2.553 kasus tersebar hampir merata di 28 kecamatan di Kabupaten Lebak. Namun, tingginya kasus tersebut tidak dibarengi dengan ketersediaan obatnya.
“Ketersediaan obat TB yang FDC (kombinasi) ketersediaannya aman. Sedangkan yang Non FDC, khususnya Rifampisin sebagai salah satu dari bagian obat kombinasi ketersediaan secara nasional memang sangat terbatas bahkan ada yang tidak punya stok, termasuk di Kabupaten Lebak,” kata Plt Kepala Dinkes Lebak, Budhi Mulyanto, belum lama ini.
Kelangkaan obat TBC, Budhi yang juga menjabat Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo Rangkasbitung, mengungkapkan, kekosongan itu lantaran bahan baku obat yang tidak ada. Sehingga mempengaruhi kekosongan obat TBC yang terjadi saat ini.
“Masalahnya karena bahan baku obat (impor) produksi kosong. Pihak Direktorat Farmasi Kementerian Kesehatan yang dikonfirmasi saat Rapat Kerja Arsada (Asosiasi Rumah Sakit Daerah) pada bulan April 2024, belum bisa memastikan kapan bahan baku dan produksi bisa normal lagi,” terang Budhi.
Sementara Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Lebak dr Firman Rahmatullah menyampaikan jika saat ini untuk obat kombinasi dari pemerintah masih tersedia stoknya.
Baca Juga: Sepanjang 2026, Sebanyak 391 Warga Lebak Terserang DBD
“Untuk stok obat paket pemerintah aman, memang kalau mencari satuan tidak ada, karena stok yang yang terbatas,” ucap Firman.
Firman memberikan saran kepada masyarakat, untuk datang ke puskesmas terdekat terlebih dan melakukan konsultasi terkait dengan pengobatan penyakit TBC.
“Untuk masyarakat karena penyakit TB pengobatannya harus tuntas, jadi alangkah baiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum kita mencari obatnya,” tandasnya.(mulyana)
