SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Tak jauh dari jalan utama Majasari – Cipacung, Kabupaten Pandeglang, tepatnya di Kampung Cidanghyang, Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, seorang nenek Kanilah (91) bersama cucunya, Mumun (42), sedang duduk santai sambil di bagian dapur rumahnya menunggu kue Serabi matang.
Satu per satu, pembeli – pun menghampiri dan memesan kue Serabi untuk sarapan, atau hanya sebagai teman ngopi sambil santai di teras depan rumah.
Diketahui, nenek Kanilah sudah Berjualan kue Serabi tersebut sejak tahun 50-an, atau pada usianya sekira 19 tahunan.
Kanilah adalah, generasi ke dua dari awalnya yang jualan ibunya.
Sekarang, operasional dipegang oleh cucunya, Mumun (42) atau generasi keempat. Karena, ibunya Mumun alias anak Kanilah, sudah meninggal dunia duluan.
“(Ieu mah usaha koreh – koreh cong, poe ieu ngoreh, poe ieu nyongcong). Ini mah usaha koreh – koreh cong, hari ini ngoreh, hari ini nyongcong), seperti ayam sedang mencari makan,” kata nenek Kanilah, Selasa (13/8/2024).
Jadi, katanya, hari ini mencari rezeki dan kemudian hasilnya langsung dipakai makan hari itu juga. Besok mencari lagi.
Kanilah juga mengaku, saat anak – anak dan usia remaja mengalami jaman penjajahan Belanda dan juga Jepang.
Baca Juga: 9 Rumah Warga Di Panimbang Pandeglang Rusak
Sehingga, ia dan ortunya terpaksa ngeli atau mengungsi ke kaki Gunung Karang agar tidak ditangkap Belanda.
Nenek dengan 9 anak ini juga menceritakan, saat ini anak – anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di sekitar atau tak jauh dari rumahnya. Namun, ada juga yang di Lampung.
Ia mengaku, ingat kalau dulu sekira tahun 1952-an ke atas untuk menyeberang ke Lampung, tidak bersandar di Pelabuhan Bakaheuni, tapi bersandar di Pelabuhan Panjang. Kebetulan, salah satu anaknya tinggal di dekat pelabuhan itu.
Ia mengaku, tak ingat berapa rupiah saat pertama kali menjual kue Serabi. Namun ia mengaku, paling senang hidup di zaman Soeharto, karena harga bahan pangan murah, hidup tenang, aman dan nyaman.
“Jadi, kota juga bisa menjual Serabi dengan harga murah,” tandasnya.
Sekarang, tambahnya, kue Serabinya dijual Rp 10 ribu per 3 keping. Namun, penyuka kue Serabi khas Pandeglang makin berkurang, karena mayoritas anak muda menyukai Serabi dengan toping modern seperti cokelat, keju dan lainnya.
Baca Juga: LIPP Banten: Pejabat Hasil Lelang Terbuka Pemkab Pandeglang Harus Berintegritas
Sementara, Serabi yang dia jual hanya polos saja tanpa toping. Karena, saat hendak dimakan, Serabi itu dicocolkan ke kuah yang dibuat dari air rebusan ikan Pindang Tongkol, yang dicampur dengan ulekan cabai rawit, serta bawang merah.
Tak heran di pagi hari, selain masyarakat biasa banyak juga pedagang Pindang Ikan Tongkol yang mampir ke dapur emak Kanilah, untuk membeli Serabi dan kemudian dijual sepaket dengan Ikan Pindang Tongkol yang mereka jajakan dari rumah ke rumah.
Nenek Kanilah menegaskan, ia akan terus menurunkan usahanya hingga keturunannya yang lain.
Sementara, Mumun mengatakan, kue Serabi yang dibuatnya terjual habis di wilayah sekitar. Sehingga, dianggap tak perlu menjual keluar Pandeglang.
“Di sini saja sudah banyak, dan hampir tak terlayani. Kita belum bisa memproduksi lebih banyak, karena pembuatannya masih manual atau tradisional. Dan kita enggak punya tenaga lain, atau karyawan,” pungkasnya, seraya tersenyum.
Wanita berambut panjang ini – pun, akan berusaha mempertahankan usaha pembuatan kue dari bahan baku tepung beras itu. (mardiana)
Baca Juga: UDD PMI Pandeglang Peringati Hari Donor Darah Sedunia
